Search

Amalan Malam Nisfu Sya’ban dan Membaca Yasin Tiga Kali, Bagaimana Pandangan Ulama?

KONSULTASI - Malam Nisfu Sya’ban dikenal sebagai salah satu malam penuh rahmat dan ampunan. Tidak sedikit umat Islam yang bertanya tentang amalan yang dianjurkan serta dasar keagamaannya.

Melalui rubrik konsultasi keagamaan ini, kami menyajikan penjelasan ulama terkait amalan malam Nisfu Sya’ban dan tradisi membaca Yasin tiga kali berdasarkan hadis dan pendapat ulama.

Pertanyaan:

1. Amalan dan doa apa saja yang dianjurkan pada malam Nisfu Sya’ban?

2. Bagaimana pandangan ulama terkait tradisi membaca Yasin tiga kali pada Malam Nisfu Sya’ban? (Syafi’i, Manyar)

Jawaban:

Bapak Syafi’i yang kami hormati, terima kasih atas pertanyaan yang disampaikan. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan perlindungan-Nya kepada kita semua.

Jawaban Pertama: Amalan dan doa yang Dianjurkan pada Malam Nisfu Sya’ban

Para ulama menjelaskan bahwa malam Nisfu Sya’ban merupakan waktu yang sangat baik untuk memperbanyak ibadah, terutama doa, istighfar, dan membersihkan hati dari permusuhan serta kebencian.

        فِي لَيْلَةِ ‌النِّصْفِ ‌مِنْ ‌شَعْبَانَ يَغْفِرُ الله لأَهْلِ الأَرْضِ إِلَاّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

 عن كثير بن مرة الحضرمي مرسلا.  ( الجامع الصغير للجلال السيوطي ص 7717)

Artinya: “Pada malam pertengahan bulan Sya‘ban, Allah mengampuni penduduk bumi, kecuali orang yang berbuat syirik dan orang yang bermusuhan (menyimpan kebencian).” (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari Kasir bin Murrah al-Hadrami secara mursal. Al-Jami’ As-Saghir Karya Jalaluddin As-Suyuti, hlm. 7717)

Dalam Kitab Jami‘ al-Ahadits karya Jalaluddin as-Suyuti juga dijelaskan:

        إذا كان ‌ليلةُ ‌النصفِ ‌من ‌شعبانَ فقومُوا ليلتَها وصومُوا يومَها فإنَّ اللهَ ينزلُ فيها لغروبِ الشمسِ إلى سماءِ الدنيا فيقولُ ألا مستغفرٌ فأغفرَ له ألا مسترزقٌ فأرزقَه ألا مُبْتلًى فأعافيَه ألا سائلٌ فأعطيَه ألا كذا ألا كذا حتى يطلعَ الفجرُ

(ابن ماجه، والبيهقى فى شعب الإيمان عن على)

( جامع الاحاديث للجلال السيوطي جز 3 ص 483)

Artinya: “Apabila datang malam pertengahan bulan Sya‘ban, maka bangunlah untuk menghidupkan malamnya (dengan ibadah) dan berpuasalah pada siangnya. Karena sesungguhnya Allah turun pada malam itu sejak terbenam matahari ke langit dunia, lalu berfirman: “Adakah orang yang memohon ampun, maka Aku ampuni?. Adakah orang yang meminta rezeki, maka Aku beri rezeki?. Adakah orang yang tertimpa cobaan, maka Aku beri keselamatan?. Adakah orang yang meminta, maka Aku beri?.” (dan seterusnya Allah menyeru demikian) hingga terbit fajar.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman dari ‘Ali ra. Jami‘ al-Ahadits karya Jalaluddin as-Suyuti, jilid 3, halaman 483)

Kemudian dalam Kitab Al Umm juz 1 halaman 231 juga dijelaskan:

        ( قَالَ الشَّافِعِيُّ ) وَبَلَغَنَا أَنَّهُ كَانَ يُقَالُ إنَّ الدُّعَاءَ يُسْتَجَابُ فِيْ خَمْسِ لَيَالٍ فِيْ لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ وَلَيْلَةِ الْأَضْحَى وَلَيْلَةِ الْفِطْرِ وَأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ وَلَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ

Artinya: “Imam asy-Syafi‘i berkata: “Telah sampai kepada kami (sebuah riwayat) bahwa dikatakan: sesungguhnya doa dikabulkan pada lima malam, yaitu malam Jumat, malam Idul Adha, malam Idul Fitri, malam pertama bulan Rajab, dan malam pertengahan bulan Sya‘ban.”

Dijelaskan juga dalam Kitab Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafais Karya Syaikh Abdurrohman bin Abdus Salam ash-Shufuri, juz 1 halaman 165:

        قَالَ عَطَاءُ بْنُ يَسَارٍ مَا بَعْدَ لَيْلَةِ الْقَدْرِ أَفْضَلُ مِنْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَهِىَ مِنَ اللَّيَالِى الَّتِيْ يُسْتَجَابُ فِيْهَا الدُّعَاءُ

Artinya: “Atha` bin Yasaar berkata : Tidak ada malam yang lebih utama setelah Lailatul Qadar dibandingkan dengan malam Nishfu Sya’ban. Ia merupakan salah satu malam yang mustajab berdoa didalamnya.”

Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani juga menulis dalam Kitab Al-Ghunyah li Thalibi Thariqil Haq 'Azza wa Jalla, juz 1 halaman 250:

        وَعَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ يُعْرَضُ عَمَلُ السَّنَةِ فِيْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَخْرُجُ الرَّجُلُ مُسَافِرًا وَقَدْ نُسِخَ مِنَ الْأَحْيَاءِ إِلَى الْأَمْوَاتِ وَيَتَزَوَّجُ وَقَدْ نُسِخَ مِنَ الْأَحْيَاءِ إِلَى الْأَمْوَاتِ

Artinya: “Dari ‘Ata’ bin Yasar (diriwayatkan): “Amal perbuatan selama satu tahun diperlihatkan pada malam pertengahan bulan Sya‘ban. Maka seseorang keluar bepergian, padahal namanya telah dipindahkan dari daftar orang-orang yang hidup ke daftar orang-orang yang mati. Dan seseorang menikah, padahal namanya telah dipindahkan dari daftar orang-orang yang hidup ke daftar orang-orang yang mati.”

Hadis tersebut menunjukkan bahwa keutamaan utama malam Nisfu Sya’ban adalah ampunan Allah yang luas. Oleh karena itu, amalan yang dianjurkan adalah memperbanyak taubat, doa, dan memperbaiki hubungan dengan sesama.

Jawaban Kedua: Membaca Yasin Tiga Kali

Membaca Surah Yasin pada malam Nisfu Sya’ban tidak memiliki dalil khusus dari Nabi SAW, namun dibolehkan sebagai amalan doa dan dzikir secara umum.

Hal ini dijelaskan dengan detail oleh Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas al-Maliki berikut ini:

لكن لا مانع أن يضيف الإنسان إلى عمله مع إخلاصه مطالبه وحاجاته الدينية والدنياوية، الحسية والمعنوية، الظاهرة والباطنة، ومن قرأ سورة يس أو غيرها من القرآن لله تعالى طالبا البركة في العمر، والبركة في المال، والبركة في الصحة فإنه لا حرج عليه، وقد سلك سبيل الخير (بسرط أن لا يعتقد مشروعية ذلك بخصوصه)

 فليقرأ يس ثلاثا، أو ثلاثين مرة، أو ثلاث مئة مرة، بل ليقرأ القرآن كله لله تعالى خالصا له مع طلب قضاء حوائجه وتحقيق مطالبه وتفريج همّه وكشف كربه، وشفاء مرضه وقضاء دينه، فما الحرج في ذلك...؟.. والله يحب من العبد أن يسأله كل شئ، حتى ملح الطعام وإصلاح شسع نعله

Artinya: “Tapi tak ada larangan bagi seseorang yang mengiringi amal salihnya dengan permintaan dan permohonan hajat agama dan dunia, jiwa dan raga, lahir dan batin. Siapa saja yang membaca surat Yasin atau surat lainnya dengan ikhlas lillahi ta‘ala sambil memohon keberkahan pada usia, harta, dan kesehatan, maka hal itu tak masalah. Artinya, orang ini telah menempuh jalan yang baik (dengan catatan ia tidak meyakini bahwa amal salihnya itu disyariatkan secara khusus untuk hajat tersebut).”

“Silakan membaca surat Yasin 3 kali, 30 kali, 100 kali, atau mengkhatamkan 30 juz Al-Quran secara ikhlas lillahi ta‘ala diiringi dengan permohonan atas segala hajat, doa agar harapan terwujud, permintaan agar dibukakan dari kebimbangan, pengharapan agar dibebaskan dari kesulitan, permohonan kesembuhan dari penyakit, permintaan kepada Allah agar utang terbayar. Lalu di mana masalahnya? Allah senang terhadap hamba-Nya yang bermunajat kepada-Nya atas pemenuhan hajat apapun termasuk hajat atas garam pelengkap masakan dan hajat atas tali sandal yang rusak.”

(Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki, Kitab Ma Dza fi Sya‘ban? Cetakan pertama, 1424 H, halaman: 119).

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga penjelasan ini memberikan pencerahan dan menambah semangat beribadah di malam Nisfu Sya’ban.

Untuk membaca konsultasi keagamaan lainnya seputar fikih, ibadah, dan tradisi Islam, silakan kunjungi situs resmi muigresik.or.id sebagai rujukan keislaman terpercaya.