KHUTBAH JUMAT - Menjadi santri bukan sekadar mengenakan sarung, peci, atau menimba ilmu di pondok pesantren. Lebih dari itu, santri adalah pribadi yang senantiasa mencintai ilmu, menjaga adab, rendah hati, dan berusaha mengamalkan setiap pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui khutbah Jumat bertema “Menjadi Santri Sepanjang Hayat”, umat Islam diajak untuk tidak pernah berhenti belajar hingga akhir hayat. Semangat kesantrian perlu terus dirawat agar ilmu melahirkan akhlak mulia, memperkuat keimanan, dan menghadirkan manfaat bagi keluarga, masyarakat, serta bangsa.
Teks Khutbah
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الَّتِي لَا تُعَدُّ وَلَا تُحْصَى، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيبَنَا وَقُدْوَتَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، الْمُعَلِّمُ الْأَعْظَمُ، وَالْمُرَبِّي الْأَكْمَلُ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ وَاقْتَفَى أَثَرَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ تَقْوَى اللَّهِ رَأْسُ كُلِّ خَيْرٍ، وَزَادُ السَّالِكِينَ، وَطَرِيقُ الْفَائِزِينَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Marilah kita tingkatkan kualitas taqwa kita kepada Allah dengan ketakwaan yang tidak sekadar terucap di lisan, tetapi hidup di dalam hati, tercermin dalam akhlak, dan nyata dalam setiap amal perbuatan. Sebagaimana para ulama dan santri terdahulu mewariskan keteladanan dalam menjaga iman, ilmu, dan pengorbanan demi agama, maka marilah kita lebih bersungguh-sungguh memperbaiki diri dan jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang telah kita miliki atau amal yang telah kita dilakukan.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Di antara nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada manusia bukanlah harta, bukan pula jabatan dan kedudukan. Nikmat terbesar itu adalah ketika Allah membimbing seorang hamba untuk mencintai ilmu, mencintai kebenaran, dan mencintai orang-orang saleh.
Ketika wahyu pertama kali turun kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallama, Allah tidak memerintahkan beliau untuk mengumpulkan kekayaan, tidak pula memerintahkan beliau membangun kekuasaan. Akan tetapi Allah memerintahkan beliau untuk membaca:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
"Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq: 1)
Perintah ini menyiratkan pesan bahwa peradaban besar selalu lahir dari ilmu, sebagaimana juga Sejarah mencatat bahwa banyak keruntuhan suatu bangsa selalu diawali dengan hilangnya penghormatan terhadap ilmu.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Islam menghendaki agar seorang mukmin tidak pernah berhenti belajar selama nafas masih berhembus. Jangan pernah merasa sempurna dan tidak belajar lagi, apalagi merasa lebih tinggi dari yang lain. Mari kita ingat betul pesan Allah:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
"Di atas setiap orang yang berilmu masih ada yang lebih berilmu." (QS. Yusuf: 76)
Allah bahkan memerintahkan Nabi-Nya untuk terus meminta tambahan ilmu:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
"Dan katakanlah: Ya Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu." (QS. Thaha: 114)
Perhatikanlah jamaah sekalian. Yang diperintahkan untuk meminta tambahan ilmu adalah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallama, manusia paling mulia, penghulu para nabi, dan manusia yang paling sempurna ilmunya. Jika Nabi saja masih diperintah meminta tambahan ilmu, lalu siapakah kita sehingga merasa cukup dengan ilmu yang kita miliki. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallama juga bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)
Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya seseorang yang melihat beliau masih membawa tinta dan alat tulis padahal telah menjadi imam besar. Beliau menjawab:
مَعَ الْمِحْبَرَةِ إِلَى الْمَقْبَرَةِ
"Beserta tinta (belajar) sampai masuk ke liang kubur." Ungkapan ini sangat dekat dengan konsep santri sepanjang hayat.
Karena itu, seorang mukmin sejati adalah pembelajar sepanjang hayat. Setiap hari ada ilmu yang dipelajari, ada akhlak yang diperbaiki, ada kesalahan yang dikoreksi, dan ada kedekatan kepada Allah yang terus ditingkatkan.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Ketika mendengar kata santri, mungkin yang terbayang adalah sarung, peci, kitab kuning, dan pondok pesantren. Semua itu benar. Akan tetapi hakikat santri jauh lebih dalam dari sekadar penampilan lahiriah.
Santri adalah orang yang selalu merasa dirinya sebagai murid di hadapan Allah. Santri adalah manusia yang tidak pernah sombong dengan ilmunya. Santri adalah orang yang semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hatinya. Santri adalah orang yang lebih banyak bercermin kepada dirinya sendiri daripada sibuk menghakimi orang lain. Santri adalah orang yang senantiasa mencari kebenaran walaupun kebenaran itu menyalahkan dirinya sendiri. Karena itu para ulama mengatakan:
العِلْمُ يُورِثُ التَّوَاضُعَ
"Ilmu yang benar akan melahirkan kerendahan hati." Apabila ilmu justru melahirkan kesombongan, maka sesungguhnya yang bertambah bukanlah ilmu, melainkan ego dan merasa diri paling benar.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Kepribadian santri minimal dibangun di atas empat fondasi besar. Yang pertama: Cinta Ilmu. Seorang santri tidak pernah berhenti mencari ilmu. Ia sadar bahwa kehidupannya terlalu singkat jika dibandingkan luasnya ilmu Allah.
Kedua: Adab. Para ulama terdahulu berkata: "Kami mempelajari adab selama tiga puluh tahun, kemudian mempelajari ilmu selama dua puluh tahun." Mereka memahami bahwa ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kerusakan.
Hari ini bangsa kita sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Yang sering kita rasakan justru kekurangan keteladanan. Kita melihat orang berilmu tetapi mudah menghina. Kita melihat orang berpendidikan tetapi gemar berdusta. Kita melihat orang berkedudukan tetapi mengkhianati amanah. Di sinilah pentingnya ruh kesantrian.
Ketiga: Tawadhu'. Semakin mengenal Allah, semakin merasa kecil di hadapan-Nya. Semakin banyak belajar, semakin sadar bahwa masih banyak yang belum diketahui.
Keempat: Mengamalkan Ilmu. Santri bukanlah gudang pengetahuan. Santri adalah pribadi yang berusaha mengubah ilmu menjadi amal. Allah mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan? Sangat besar kemurkaan Allah kepada orang-orang yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan." (QS. Ash-Shaff: 2-3)
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Menjadi santri sepanjang hayat bukan berarti seluruh hidup harus tinggal di pesantren. Bukan pula berarti semua orang harus menjadi kiai.
Makna yang lebih dalam adalah: Jangan pernah berhenti menjadi murid di hadapan ilmu. Sebab selama kita hidup, masih banyak yang harus dipelajari. Masih ada Al-Qur'an yang belum kita pahami. Masih ada dosa yang harus kita taubati. Masih ada akhlak yang harus kita perbaiki. Masih ada sifat sombong yang harus kita lawan. Masih ada hawa nafsu yang harus kita tundukkan. Dan masih ada kematian yang setiap saat menanti kita.
Menjadi santri sepanjang hayat berarti menjaga semangat belajar sampai maut memisahkan kita dari dunia. Menjadi santri sepanjang hayat berarti tetap rendah hati ketika dipuji, tetap mau dinasihati ketika salah, dan tetap merasa membutuhkan petunjuk Allah sampai hembusan nafas terakhir. Karena sesungguhnya orang yang paling berbahaya bukanlah orang yang tidak tahu, melainkan orang yang merasa sudah tahu segalanya.
Kaum Muslimin Rahimakumullah.
Bangsa ini mungkin tidak kekurangan sekolah. Bangsa ini mungkin tidak kekurangan kampus. Bangsa ini mungkin tidak kekurangan gelar akademik. Namun bangsa ini sangat merindukan manusia-manusia yang jujur, amanah, rendah hati, haus ilmu, dan menjadi teladan dalam amal.
Maka marilah kita hidupkan kembali ruh kesantrian dalam diri kita. Jadikan rumah-rumah kita bercahaya dengan ilmu. Jadikan keluarga kita keluarga yang gemar belajar. Jadikan masjid-masjid kita pusat ilmu dan keteladanan. Dan jadikan diri kita sebagai santri hingga akhir hayat. Sebab pada akhirnya, yang akan mengangkat derajat seseorang di sisi Allah bukan banyaknya harta dan jabatan yang dimiliki, melainkan ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, serta kerendahan hati di hadapan Allah Rabbul 'Alamin.
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
"Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah: 11)
Semoga Allah menjadikan kita semua santri sepanjang hayat, pencinta ilmu sampai akhir hayat, dan penghuni surga-Nya bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأنْتَ خَيْرُ الّرَاحِمِيْنَ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا .
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِوَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر.
Untuk mendapatkan lebih banyak khutbah inspiratif, artikel keislaman, dan panduan keagamaan yang menyejukkan, kunjungi situs resmi muigresik.or.id. Temukan berbagai konten bermanfaat yang dapat memperkuat iman dan memperkaya wawasan keislaman Anda.
