KHUTBAH JUMAT - Tauhid bukan sekadar pengakuan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan, tetapi juga kesediaan manusia untuk tidak menjadikan harta, jabatan, dan kekuasaan sebagai tujuan hidup.
Di tengah maraknya penyalahgunaan amanah dan korupsi, umat Islam perlu kembali menjaga kesucian tauhid dengan membangun kejujuran, amanah, serta kesadaran bahwa setiap kekuasaan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Teks Khutbah
الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ المُمَّتَقُوْنَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي المَحْكَمِ كِتَابِهِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Ma’asyiral muslimin jamaah shalat jum’ah rahimakumullah,
Pertama-tama, marilah kita panjatkan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala, atas segala nikmat dan karunia-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan sebenar-benarnya takwa, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-latangan-Nya. Salawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.
Di bulan Rabiul Akhir ini, kita diajak untuk memperdalam dan merealisasikan substansi ajaran yang dibawakan oleh Rasulullah, bukan sekadar mengenangnya secara seremoni, melainkan meneladani integritas moral beliau dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Jamaah Jum'at yang Dimuliakan Allah,
Hari-hari ini, kita menyaksikan fenomena yang memprihatinkan di negeri ini. Kasus korupsi yang melibatkan oknum pejabat seolah tiada hentinya. Penyalahgunaan wewenang, jual-beli jabatan, hingga penjarahan uang rakyat lewat prilaku korupsi para pejabat kerap menghiasi pemberitaan media massa.
Jika kita telisik secara mendalam, korupsi bukan sekadar kejahatan hukum dan administrasi, namun korupsi pada hakikatnya adalah penyelewengan ideologis dan krisis spiritual paling mendasar, yaitu penyelewengan nilai Tauhid. Karena ketika seseorang melakukan korupsi, ia pada dasarnya sedang menuhankan harta dan kekuasaan.
Mengaku beriman kepada Allah, namun dalam praktiknya tunduk dan menghambakan diri pada materi serta status sosial. Inilah bentuk "berhala modern" yang tak lagi berwujud batu atau kayu, melainkan berbentuk jabatan, uang, dan keserakahan.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Jatsiyah ayat 23:
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ
"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya..” (QS. Al-Jatsiyah: 23)
Ayat ini mengingatkan kita tentang hakikat kalimat Tauhid Laa ilaaha illallah. Kalimat ini diawali dengan negasi (Laa ilaaha, tidak ada tuhan) sebelum diakhiri dengan konfirmasi (illallah, kecuali Allah). Artinya, pemurnian Tauhid menuntut kita untuk membebaskan diri dan merobohkan segala bentuk "berhala" kehidupan, termasuk tahta dan harta, agar kita tidak diperbudak olehnya.
Jamaah shalat jumat yang berbahagia,
Jabatan dalam pandangan Islam dan etika publik adalah Amanah, bukan hak milik yang bisa diperjualbelikan. Jabatan bersifat duniawi yang tidak boleh dijadikan sarana untuk mengagungkan diri atau menumpuk kekayaan. Sebab, ketika jabatan dijadikan berhala, amanah bergeser menjadi khianat.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memberikan peringatan keras mengenai bahaya korupsi dan penyalahgunaan wewenang dalam sebuah hadis beliau bersabda:
عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: اسْتَعْمَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنَ الأَزْدِ يُقَالُ لَهُ ابْنُ اللُّتْبِيَّةِ عَلَى الصَّدَقَةِ، فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ: هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي. فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: مَا بَالُ العَامِلِ نَبْعَثُهُ فَيَأْتِي فَيَقُولُ: هَذَا لَكُمْ وَهَذَا أُهْدِيَ لِي؟ أَفَلاَ جَلَسَ فِي بَيْتِ أَبِيهِ أَوْ أُمِّهِ فَيَنْظُرَ أَيُّهْدَى لَهُ أَمْ لاَ
"Dari Abu Humaid As-Sa'idi RA, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam pernah mempekerjakan seorang petugas untuk mengumpulkan zakat. Ketika kembali, petugas itu berkata: "Ini untukmu (perbendaharaan negara) dan ini hadiah untukku.." Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam naik ke mimbar dan bersabda: "Mengapa seorang petugas yang kami utus berkata: 'Ini untuk kalian dan ini hadiah untukku'? Cobalah ia duduk saja di rumah ayahnya atau ibunya, apakah ada orang yang akan memberi hadiah kepadanya?!" (HR. Bukhari & Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa segala bentuk gratifikasi dan komisi terselubung saat menjabat adalah bentuk penyelewengan amanah.
Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah,
Bagaimana kita membentengi diri dan tatanan bangsa ini dari berhala kekuasaan dan harta?
Pertama adalah dengan cara memurnikan kesadaran ketuhanan. Ketakwaan dipandang sebagai morality engine, yakni kesadaran bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Melihat (Muraqabah) harus menjadi pengontrol utama tingkah laku kita, baik saat sendirian maupun saat memangku jabatan publik.
Kedua, dengan cara menegakkan etika publik dan hukum yang adil. Artinya bahwa tauhid yang sejati harus memancar dalam bentuk kepedulian sosial dan kepatuhan pada hukum. Dan menghancurkan kejahatan korupsi adalah bagian dari upaya mewujudkan masyarakat beradab, adil, dan menjunjung tinggi kesetaraan di hadapan hukum.
Sedangkan yang ketiga adalah dengan mengamalkan sifat shiddiq dan amanah nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.
Sebagai refleksi di bulan rabiul akhir ini, mari kita buktikan cinta kepada Nabi dengan memegang teguh kejujuran dan tanggung jawab dalam setiap peran yang kita jalani.
Akhirnya, semoga Allah Subhanahu wata’ala senatiasa menjaga hati kita dari fitnah harta dan kekuasaan, menyucikan tauhid kita dari penghambaan kepada materi, serta membimbing para pemimpin bangsa ini agar senantiasa memiliki sifat dan sikap amanah dalam memimpin bangsa ini serta memiliki rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ العَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Untuk mendapatkan lebih banyak khutbah inspiratif, artikel keislaman, dan panduan keagamaan yang menyejukkan, kunjungi situs resmi muigresik.or.id. Temukan berbagai konten bermanfaat yang dapat memperkuat iman dan memperkaya wawasan keislaman Anda.
