HIKMAH - Beberapa hari lalu, Kiai Tamijo di majlis ta'lim yang ia kelola menjelaskan tentang keutamaan malam nishfu sya'ban. Juga beberapa amalan yang dianjurkan untuk dilakukan di malam yang spesial itu. Kiai Tamijo juga berpesan pada jamaahnya, yang tidak merasa repot sebaiknya bersedekah makanan di mushola atau langgar. Juga melewati malam spesial tersebut dengan banyak berdzikir dan berdoa di malam itu.
"Doa minta apa, Kiai?" tanya Kasimo sambil membetulkan kopyah nya yang mengkreng
"Berdoa minta panjang umur, diberi keberkahan rizki, diselamatkan dari bala dan musibah serta mati dalam keadaan husnul khatimah, Mo"
Kasimo manggut-manggut, kala mendengarkan penjelasan Kiai Tamijo. Suasana hening, Kiai Tamijo menunggu barangkali ada jamaah yang hendak bertanya lagi. Tapi setelah dipastikan tidak ada yang bertanya, Kiai Tamijo melanjutkan
"Pokoknya yang penting, kita memperbanyak perbuatan saleh, terlebih di malam nishfu sya'ban. Paham??"
"Paham, Kiai " ucap jamaah hampir serentak
Kiai Tamijo pun menutup pengajian rutinnya.
*****
Syakirun pulang dengan menenteng dua genggam daun kelapa. Orang Jawa menyebutnya blarak. Istrinya berpesan, sepulang dari ladang agar mencari beberapa lembar daun kelapa. Untuk apa, untuk digunakan membikin ketupat. Karena beberapa hari lagi telah sampai malam nishfu sya'ban. Dan seperti biasa, Sariyem, istri Syakirun akan membikin ketupat untuk dibawa ke musholla.
Pernah salah satu tetangganya memberi saran, agar ketupat atau kupat diganti saja dengan jajanan yang lebih up to date, sesuai selera gen Z. Seperti halnya, pop ice, snack ringan dan sebagainya agar tidak ribet. Lebih praktis, tidak butuh waktu lama untuk membikinnya. Namun, Syakirun menjawab
"Tidak bisa, kupat di sini tidak sekedar jajanan yang dimakan. Tapi ada makna pralambang di dalamnya. Kupat itu kepanjangan dari ngaku lepat (mengakui kesalahan). Jadi, dengan menyajikan makanan kupat, secara tidak langsung kita juga beristigfar, minta ampun pada Gusti Allah SWT."
"Tapi kan ribet, Run?" bantah tetangganya yang gemar melihat Tiktok.
"Justru di situ seninya. Bukannya pahala atas suatu amal yang kita peroleh sebanding dengan tingkat ke ribetan yang kita lakukan? Kalo soal dalilnya, tanya sendiri pada pak Kiai Tamijo."
Tetangga itu menghisap rokok klobot di tangannya. Suara kemeretak terdengar saat api membakar cengkeh dan tembakau kering yang dibungkus klobot itu.
"Sebenarnya apa sih istimewanya malam nishfu sya'ban, Run" lanjut tetangganya "Sehingga kamu mau susah payah memanjat pohon kelapa untuk mengambil blarak untuk bahan membikin ketupat. Tidakkah sama saja dengan malam-malam lainnya?"
"Lo..Lo..Lo, kamu belum mengerti ya. Malam itu termasuk malam spesial. Jika kamu berdoa di malam itu, besar kemungkinan doamu maqbul. La karena malam spesial itulah, kita dianjurkan untuk meramaikan malam tersebut dengan berbagai amal sholeh. Bersedekah, membaca Al-Qur'an, dzikir dan sebagainya."
Tetangga itu manggut-manggut, Syakirun melanjutkan, "Lagi pula, Kri, kan jauh lebih baik mengisi atau meramaikan malam nishfu sya'ban dengan cara membaca Yasin, berdzikir, sedekah ketupat dan prilaku baik lainnya daripada mengisinya dengan jagongan di pos ronda sambil membanting kartu remi atau domino, ya gak..ha..ha.."
"Wah, kalau soal itu, jangan keras-keras, Run, ngomongnya, jadi malu aku hi..hi..hi.."
Di dalam hati Pungkri membenarkan perkataan Syakirun. Daripada menghabiskan malam nishfu sya'ban dengan bermain kartu, atau nonton ketegangan antara Amerika dan Iran, lebih baik ikut saja merawat tradisi baik seperti yang dilakukan Syakirun. Toh, seumpama Amerika dan Iran benar-benar perang, ia sebagai wong cilik tidak bisa berbuat apa-apa untuk melerai ketegangan dua negara itu.
"Kalau begitu, istriku juga akan saya suruh bikin ketupat, untuk menyambut malam Lailatul Qadar.."
"Nishfu sya'bann...!" sela Syakirun
"Oh ya, malam nishfu sya'ban kok Lailatul Qadar. Gara-gara kebanyakan nonton berita gontok-gontokan antara Amerika dan Iran aku. Tapi aku tidak bisa bikin ketupat, Run, tolong nanti aku dikasih ketupat yang kamu bikin ya, Run. Sebagai gantinya, selama tiga hari ngopi di warungnya Yu Sarmi, aku yang mbayari. OK?"
"Angel...wis ange'l..." ucap Syakirun pada teman ngopinya itu.
