Search

Bukan Doamu Tidak Didengar, Tapi Allah Tahu yang Kamu Butuhkan

HIKMAH - Saudara-saudara sekalian yang kalau doa sudah kayak narik lotre, kalau belum keluar nomornya langsung ngeluh: “Ya Allah, kok nggak adil!”...

Dengar. Ibnu Athaillah ngasih obat sabar paling pahit:

لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوْجِبًا لِيَأْسِكَ، فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيْمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ، وَفِي الْوَقْتِ الَّذِي يُرِيْدُ لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِي تُرِيدُ.

Terjemahan gaya bebasnya:

“Jangan gara-gara pemberian Tuhan telat, padahal kamu sudah doa ngoyo tiap malam, terus kamu malah putus asa. Sebab Tuhan itu sudah jamin ngabulin, tapi dengan barang yang Dia pilihin buat kamu, bukan barang yang kamu pilih sendiri. Dan di waktu yang Dia mau, bukan di waktu yang kamu tentukan.”

Gini, Cak, Neng. Kita ini sering salah paham soal doa. Kita kira doa itu kayak order Gojek. Kita pesan “Ning Siti”, ya harus datang Ning Siti. Kita pesan “Toyota Avanza”, ya nggak boleh datang sepeda. Telat 5 menit kita kasih bintang 1 sama Tuhan.

Padahal Tuhan itu bukan driver online, Cak, Yu. Dia itu layaknya seorang Bapak. Dan kamu itu anaknya yang umur 5 tahun.

Coba bayangkan. Anak kecil nangis minta pisau dapur yang mengkilat. Kata dia: “Itu mainan bagus, Pak!” Bapaknya ngasih nggak? Nggak. Malah dikasih boneka. Anaknya tambah nangis kejer: “Bapak nggak sayang aku! Doaku nggak dikabulin!”

Lha kamu itu anak kecil itu, Cak. Yang kamu minta dalam doa banyak yang kayak pisau. Kelihatan mengkilat, padahal kalau dikasih bisa bikin kamu mati.

“Ya Allah, kasih aku jabatan, kepala MBG atau Direktur PT Anu Jaya atau apalah!” Padahal kalau jadi pejabat kamu malah korupsi, masuk penjara dulu, nerakanya terserah Tuhan saja.

“Ya Allah, kasih aku Ning Siti!” Padahal kalau sama Ning Siti kamu malah lupa ibadah, berantem tiap hari, cerai.

“Ya Allah, kasih aku kaya!” Padahal kalau kaya kamu malah sombong, nggak kenal masjid, lupa sama teman dan saudara, apalagi mertua.

Untung Tuhan nggak ngabulin. Kalau dikabulin semua, kita ini sudah jadi penghuni neraka semua, Cak. Doa kita sendiri yang ngeracunin kita.

Jadi tamparannya ada tiga:

Tamparan Pertama: “Hei kamu yang sudah doa 5 tahun belum kabul, jangan putus asa. Bukan doamu nggak didengar. Tapi Tuhan lagi milihin barang yang lebih bagus dari yang kamu minta. Kamu minta permen, Dia mau kasih nasi padang. Sabar.”

Tamparan Kedua: “Hei kamu yang ngatur deadline Tuhan, emang kamu siapa? Kamu bilang ‘Ya Allah, sebelum umur 30 harus nikah’. Lha kalau Tuhan maunya kamu nikah umur 35 biar ketemu jodoh yang bisa nganter ke surga, kamu mau protes?”

Tamparan Ketiga: “Hei kamu yang merasa paling tahu kebutuhanmu, kamu itu nggak tahu apa-apa. Kamu nggak tahu besok kamu masih hidup apa nggak. Kok berani-beraninya ngatur Tuhan harus ngasih apa?”

Orang bijak bilang begini:

“Doa itu bukan surat perintah ke Tuhan. Doa itu surat cinta dari hamba. Isinya ngungkapin butuh. Soal dikasih apa, itu terserah Yang Dicintai. Kalau kamu maksa harus dikasih ini, itu namanya nggak cinta, tapi dagang.”

Paham ta, Kang?

Kesimpulannya, saudara-saudara yang chatnya sama Tuhan centang satu terus:

1. Tugasmu: Doa terus. Ngotot nggak apa-apa. Itu namanya ilhah. Tanda kamu butuh Tuhan.

2. Tugas Tuhan: Milihin yang terbaik. Bisa jadi dikasih persis yang kamu minta. Bisa jadi diganti yang lebih baik. Bisa jadi ditunda biar kamu siap. Bisa jadi disimpan buat di surga.

Semuanya ijabah. Nggak ada doa yang mental. Cuma kamu aja yang nggak sabar nunggu paketnya dibungkus Tuhan.

Jadi mulai malam ini, kalau doa, tambahin kalimat ini:

“Ya Allah, kabulkan kalau baik buat aku. Kalau nggak baik, ganti yang lebih baik. Aku pasrah, asal Engkau ridha.”

Itu namanya doa orang pinter. Doa orang yang mata hatinya melek. Bukan kayak anak kecil yang minta pisau.

Sekian. Mari kita tutup dengan istighfar, terus lanjut doa. Tapi kali ini jangan pakai ngancam Tuhan: “Kalau nggak dikabulkan aku mogok ibadah!” Nanti kamu yang rugi.