KHUTBAH JUMAT - Ghibah, fitnah, dan adu domba merupakan perkara yang dapat merusak kehormatan seseorang sekaligus mengganggu persaudaraan di tengah umat. Di tengah derasnya arus informasi, menjaga lisan dan berhati-hati menyebarkan berita menjadi bagian penting dari ketakwaan.
Melalui khutbah ini, jamaah diajak memahami bahaya membicarakan aib, menyebarkan kabar yang belum jelas, serta memicu perselisihan. Islam mengajarkan umat untuk melakukan tabayun, menjaga kehormatan sesama, dan mengutamakan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.
Khutbah Pertama
الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan tidak hanya diwujudkan melalui ibadah yang bersifat pribadi, tetapi juga melalui bagaimana kita menjaga hubungan dengan sesama manusia.
Lewat mimbar yang mulia ini, saya berpesan kepada diri saya sendiri dan kepada seluruh jamaah: اتقوا الله. Bertakwalah kepada Allah dengan menjaga lisan, menjaga hati, dan menjaga perbuatan kita dari segala sesuatu yang dapat menyakiti serta merusak kehormatan saudara kita.
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Di antara perkara yang harus kita waspadai dalam kehidupan umat adalah ghibah, fitnah, dan adu domba. Ketiganya dapat merusak persaudaraan, menimbulkan permusuhan, menjatuhkan kehormatan seseorang, bahkan memecah hubungan yang telah dibangun dalam waktu yang panjang.
Kita hidup pada zaman ketika informasi dapat menyebar dengan sangat cepat. Apa yang disampaikan seseorang dapat diterima oleh banyak orang hanya dalam hitungan detik. Karena itu, menjaga lisan pada zaman sekarang tidak hanya berarti menjaga ucapan yang keluar dari mulut, tetapi juga menjaga apa yang kita tulis, komentari, kirim, dan sebarkan melalui berbagai media.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
سَتَكُوْنُ فِتَنٌ وَفِرْقَةٌ فَإِذَا كَانَ كَذَلِكَ فَاكْسِرْ سَيِفَكَ وَاتَّخِذْ سَيْفاً مِنْ خَشَبٍ
"Kelak akan ada banyak fitnah dan perpecahan. Jika sudah seperti itu maka patahkanlah pedangmu dan pakailah pedang dari kayu.” (HR. Ahmad)
Termasuk di dalamnya adalah Ghibah
Rasulullah SAW menjelaskan:
«ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ
"Engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia tidak sukai." (HR. Muslim)
Para sahabat bertanya, bagaimana jika yang dikatakan memang benar?
Nabi SAW menjawab bahwa jika benar, itu ghibah; jika tidak benar, maka itu buhtan atau fitnah.
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Perhatikanlah, sesuatu yang benar pun dapat menjadi dosa apabila disampaikan dengan cara membicarakan aib saudara kita di belakangnya. Terlebih lagi apabila sesuatu yang disampaikan itu tidak benar. Karena itu, seorang Muslim harus berhati-hati sebelum berbicara tentang kehormatan orang lain.
Kadang-kadang ghibah dimulai dari percakapan yang dianggap biasa. Awalnya hanya menceritakan keadaan seseorang, kemudian berkembang menjadi membicarakan kekurangannya. Dari satu orang berpindah kepada orang lain, akhirnya menjadi pembicaraan banyak orang.
Lebih memprihatinkan lagi apabila pembicaraan tersebut kemudian disebarkan melalui media sosial. Apa yang awalnya hanya didengar oleh beberapa orang dapat tersebar kepada banyak orang dan sulit untuk ditarik kembali.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab ayat 58:
بسم الله الرحمن الرحيم
وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا
"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata."
Ma'asyiral Muslumin Rahimakumullah
Selain ghibah, kita juga harus menjauhi namimah atau adu domba. Namimah adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada pihak lain dengan tujuan atau akibat yang dapat menimbulkan kerusakan hubungan, permusuhan, dan perselisihan.
Dalam kehidupan sehari-hari, adu domba dapat terjadi melalui perkataan, pesan, potongan percakapan, bahkan melalui penyebaran informasi yang belum jelas kebenarannya.
Nabi SAW bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
“Tidak masuk surga orang yang suka mengadu domba.”
Hadis tersebut menunjukkan betapa seriusnya bahaya namimah. Adu domba bukan sekadar persoalan menyampaikan berita. Ketika sebuah berita disampaikan dengan cara yang merusak hubungan antarsesama, maka dampaknya dapat melahirkan kebencian, prasangka, pertengkaran, bahkan perpecahan di tengah umat.
Karena itu, janganlah kita menjadi orang yang senang membawa cerita dari satu pihak kepada pihak lainnya. Jangan pula kita menjadi orang yang merasa senang ketika melihat saudara kita berselisih.
Sebaliknya, seorang Muslim hendaknya menjadi pembawa kedamaian, bukan pembawa permusuhan; menjadi orang yang memperbaiki hubungan, bukan memperkeruh keadaan.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Sesungguhnya seorang Muslim dengan Muslim lainnya adalah bersaudara.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 10:
بسم الله الرحمن الرحيم
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu.”
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa persaudaraan harus dijaga. Jangan sampai hubungan persaudaraan rusak hanya karena berita yang belum jelas, perkataan yang dipotong, informasi yang disampaikan tanpa konteks, atau kabar yang sengaja disebarkan untuk menjatuhkan seseorang.
Oleh karena itu, kita mempunyai kewajiban untuk menjaga kehormatan sesama Muslim. Ketika mengetahui kekurangan saudara kita, jangan buru-buru menyebarkannya. Jika ada persoalan, hendaknya diselesaikan dengan cara yang baik dan bijaksana.
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Pada zaman sekarang, salah satu bentuk menjaga lisan adalah menjaga tangan kita ketika menggunakan media sosial.
Jangan setiap informasi yang kita terima langsung kita teruskan. Jangan setiap kabar yang sedang ramai langsung kita percaya. Jangan setiap persoalan pribadi seseorang kita jadikan bahan pembicaraan bersama.
Bisa jadi kita menganggap hanya sekadar membagikan informasi. Tetapi bagi orang yang menjadi objek informasi tersebut, dampaknya mungkin sangat besar. Kehormatan seseorang dapat rusak, hubungan keluarga dapat terganggu, persahabatan dapat retak, bahkan perselisihan di tengah masyarakat dapat terjadi.
Oleh karena itu, jangan sampai kita terjebak dengan kabar yang sedang ramai diperbincangkan hanya karena ingin menjadi orang pertama yang menyebarkannya.
Islam mengajarkan kepada kita agar setiap berita diperiksa dan dikonfirmasi terlebih dahulu.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 6:
بسم الله الرحمن الرحيم
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Ayat ini mengajarkan kepada kita pentingnya tabayun, yaitu memastikan dan memeriksa kebenaran sebuah berita sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Tabayun bukan berarti kita harus mencurigai semua orang. Tabayun berarti kita tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Kita memberikan kesempatan kepada kebenaran untuk diperiksa sebelum sebuah berita kita sebarkan.
Apalagi jika berita tersebut menyangkut kehormatan, nama baik, kehidupan pribadi, atau persoalan yang dapat menimbulkan perselisihan di tengah masyarakat.
Maka, sebelum menyebarkan sebuah informasi, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah berita ini benar? Apakah berita ini perlu disampaikan? Apakah ada manfaatnya bagi orang lain? Apakah penyebarannya akan menjaga atau justru merusak kehormatan seseorang?
Jika kita belum yakin, maka diam adalah pilihan yang lebih selamat.
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Marilah kita menjaga lisan kita. Marilah kita menjaga tangan kita. Marilah kita menjaga jari-jari kita ketika menulis, mengomentari, dan membagikan sesuatu.
Jangan sampai lisan yang seharusnya digunakan untuk berdzikir justru digunakan untuk merendahkan orang lain. Jangan sampai tangan yang seharusnya digunakan untuk berbuat kebaikan justru digunakan untuk menyebarkan kabar yang dapat merusak kehormatan saudara kita.
Semoga Allah SWT melindungi kita dari ghibah, fitnah, namimah, dan segala bentuk perkataan maupun perbuatan yang dapat merusak persaudaraan.
Semoga Allah menjadikan kita umat yang mampu menjaga lisan, berhati-hati dalam menerima berita, senantiasa melakukan tabayun, serta menjadi bagian dari orang-orang yang menjaga kedamaian dan persatuan umat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْن
أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر.ِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
Untuk mendapatkan lebih banyak khutbah inspiratif, artikel keislaman, dan panduan keagamaan yang menyejukkan, kunjungi situs resmi muigresik.or.id. Temukan berbagai konten bermanfaat yang dapat memperkuat iman dan memperkaya wawasan keislaman Anda.
