DOA - Memandang Ka’bah untuk pertama kali menjadi momen yang sangat membekas bagi banyak jamaah haji maupun umroh. Tidak sedikit yang menangis haru, terdiam, atau merasakan getaran hati ketika melihat langsung bangunan suci yang selama ini hanya dikenal melalui gambar dan cerita.
Ka’bah merupakan kiblat seluruh umat Islam di dunia. Ke arah bangunan suci itulah jutaan kaum muslimin menghadap setiap hari dalam shalat mereka. Karena itu, melihat Ka’bah bukan sekadar pengalaman biasa, melainkan momen spiritual yang menghadirkan rasa takzim dan kedekatan kepada Allah SWT.
Dalam tradisi ulama Islam, terdapat sejumlah doa yang dianjurkan dibaca ketika memasuki Masjidil Haram dan memandang Ka’bah. Di antaranya adalah doa yang diriwayatkan dalam kitab Al-Mushannaf karya Ibnu Abi Syaibah.
Disebutkan bahwa Rasulullah SAW membaca doa berikut ketika memandang Ka’bah:
اللَّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَمَهَابَةً، وَزِدْ مَنْ حَجَّهُ أَوِ اعْتَمَرَهُ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَتَكْرِيمًا وَبِرًّا
“Ya Allah, tambahkanlah kepada rumah ini (Ka’bah) kemuliaan, keagungan, dan kewibawaan. Dan tambahkanlah kepada orang yang menunaikan haji atau umrah kepadanya kemuliaan, keagungan, penghormatan, dan kebaikan.” (Al-Mushannaf [Riyadh: Maktabah ar-Rusyd], juz 6, h. 81)
Selain doa tersebut, terdapat pula doa yang dibaca oleh tabi’in terkemuka, Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah, ketika memasuki Masjidil Haram dan melihat Ka’bah.
Beliau membaca:
اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، فَحَيِّنَا رَبَّنَا بِالسَّلَامِ
“Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Sejahtera, dari-Mulah segala keselamatan, maka hidupkanlah kami wahai Tuhan kami dengan keselamatan.”
Riwayat ini juga disebutkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf dan al-Baihaqi dalam As-Sunan al-Kubra dengan sanad yang dinilai sahih.
Doa tersebut sangat masyhur di tengah masyarakat Muslim Indonesia karena sering dibaca setelah shalat fardhu, meskipun biasanya ditambahkan dengan beberapa lafaz lainnya.
Makna doa ini sangat dalam karena berisi permohonan keselamatan kepada Allah SWT. Keselamatan yang dimaksud bukan hanya keselamatan fisik, tetapi juga keselamatan iman, hati, keluarga, hingga akhir kehidupan.
Seseorang bisa saja memiliki banyak harta dan kedudukan, tetapi hidupnya penuh kegelisahan. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana namun hatinya tenang karena dekat dengan Allah SWT.
Karena itu, ketika berada di hadapan Ka’bah, seorang Muslim dianjurkan memperbanyak dzikir, doa, dan menghadirkan hati sepenuhnya kepada Allah. Sebab Ka’bah merupakan salah satu syiar Allah yang sangat dimuliakan dalam Islam.
Memandang Ka’bah seharusnya menjadi pengingat bagi seorang hamba untuk kembali mendekat kepada Allah SWT, memperbaiki diri, dan memohon keselamatan dunia serta akhirat. Wallahu a’lam bis-shawab.
Untuk membaca lebih banyak kajian keislaman, panduan ibadah, dan informasi keagamaan lainnya, kunjungi situs resmi muigresik.or.id sebagai sumber referensi keislaman yang terpercaya bagi masyarakat.
*Tulisan ini diolah dari Artikel MUI Pusat berjudul, “Doa saat Memandang Ka’bah di Masjidil Haram”.
