HIKMAH - Saudara-saudara sekalian yang kalau berdoa isinya rundown acara: “Ya Allah, hari Senin kabulkan A, Selasa B, Rabu jodohkan saya sama Ning Siti, Kamis cair dana Sertifikasi”...
Dengar. Ibnu Athaillah bilang:
أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيْرِ فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ أَنْتَ لِنَفْسِكَ.
“Arih nafsaka minat tadbiir, famaa qaama bihi ghairuka ‘anka laa taqum bihi anta linafsik.”
Terjemahan bebas dan rahasianya:
“Udah, istirahatin otakmu dari sok ngatur. Urusan yang udah dikerjain Tuhan buat kamu, nggak usah kamu rebut lagi terus kamu kerjain sendiri. Capek.”
Gini, Cak. Kita ini kebanyakan jadi manajer. Manajer hidup sendiri. Tuhan dijadikan staff. Disuruh-suruh. Di-briefing:
“Ya Allah, pokoknya gini: harta turunin bulan depan. Jodoh datengin sebelum umur 30. Buku karyaku harus viral sebelum lebaran. Nggak boleh ngaret. Kalau ngaret, aku kecewa.”
Lha kamu siapa? Direktur? Komisaris? Kamu itu karyawan, Cak, Neng. Bahkan lebih tepatnya: kamu itu barang inventaris. Punya-Nya Tuhan. Kok berani-beraninya ngatur Yang Punya?
“Tadbiir” itu apa? Itu sibuk ngatur, ngitung, ngrencana, khawatir. Otak muter kayak kincir angin. “Besok makan apa? Bulan depan bayar kontrakan pake apa? Umur 32 kok belum nikah? Gimana kalau aku mati jomblo?”
Padahal Tuhan udah bilang: “Yang ngatur rizki itu Aku. Yang ngatur jodoh itu Aku. Yang ngatur mati itu Aku. Kamu itu ngatur wudhu aja belum bener, kok mau ngatur semesta?”
Lha terus kita nggak boleh rencana? Boleh, Cak, angsal Yu. Rencana itu ikhtiar. Tapi ngatur hasil itu sombong. Beda tipis.
Rencana itu bilang: “Ya Allah, aku usaha nulis, aku usaha upload konten, aku usaha promosi.” Selesai.
Ngatur itu bilang: “Ya Allah, pokoknya harus viral! Harus laku seribu! Harus sebelum tanggal 17!” Nah, itu kamu udah ngambil kerjaan Tuhan.
Ibaratnya begini: kamu naik bus. Sopirnya Tuhan. Tugasmu cuma duduk, bayar karcis, sama nggak rewo-rewo, ojo rewel. Lha kamu ini penumpang, tapi dari belakang teriak-teriak: “Pak Sopir! Belok kiri! Ngebut! Jangan lewat sana, macet! Saya yang tau jalan!”
Ya lama-lama Sopirnya ngomong: “Turun kamu. Jalan sendiri sana.”
Itu namanya kamu capek sendiri. Udah bayar karcis, malah ikutan nyetir. Udah Tuhan yang nanggung hidupmu, malah kamu begadang mikirin hidupmu. Kualat kan?
Makanya hikmah ini nyuruh: “Arih nafsaka”. Istirahatkan jiwamu. Lempar itu kalkulator takdir. Tuhan nggak butuh bendahara.
Jadi tamparannya Hikmah 4:
Tamparan Pertama: “Hei, kamu yang tidurnya nggak nyenyak karena mikirin besok, sadar nggak kalau kamu itu udah dijatah napas sampai besok? Kalau besok kamu masih hidup, berarti rizkimu sudah disediain. Kalau mati, ya ngapain kamu pusing sekarang?”
Tamparan Kedua: “Hei, kamu yang doanya kayak proposal proyek, Tuhan itu nggak butuh tanda tanganmu. Dia butuh kamu percaya. Tugasmu itu minta, bukan ngatur cara ngasihnya. Kamu minta hujan, jangan sekalian ngatur arah anginnya.”
Orang bijak bilang begini:
“Manusia itu sok tahu. Dikasih hujan ngeluh becek. Dikasih panas ngeluh gerah. Giliran nggak dikasih apa-apa, ngeluh Tuhan nggak adil. Lha maumu apa to, Le? Jadi Tuhan sekalian?”
Tokoh Tarjuman itu contohnya. Dia capek karena dia ngatur. “Aku harus ditengok Ning Siti karena aku udah wudhu 5 kali.” Dia bikin syarat sendiri. Dia bikin proposal cinta, terus maksa Tuhan jadi ketua panitianya. Ya ditolak, Cak. Sebab panitianya salah.
Coba kalau dia ngomong: “Ya Allah, aku wudhu karena perintah-Mu. Soal Ning Siti, terserah Engkau.” Kan adem. Nggak capek. Nggak patah.
Kesimpulannya, saudara-saudara yang hidupnya kayak excel, semuanya dihitung:
1. Kerjaanmu: Ikhtiar, doa, tawakal. Titik.
2. Kerjaan Tuhan: Ngatur hasil, ngatur waktu, ngatur jalan. Jangan diambil.
Kalau kamu merebut kerjaan Tuhan, kamu bakal capek dan kecewa. Sebab kamu nggak punya kuasa apa-apa selain capek.
Jadi mulai malam ini, sebelum tidur, ngomong gini:
“Ya Allah, kunci hidupku tak pasrahkan ke Engkau. Aku mau turu. Terserah Engkau mau bangunin aku dalam keadaan kaya, miskin, jomblo, atau sudah di surga. Saya pasrah. Soalnya saya capek ngatur terus.”
Itu namanya istirahat. Dan orang yang istirahat itu yang bisa jalan jauh.
Sekian. Mari kita tutup dengan istighfar, terus lempar HP. Besok urusan besok. Tugasmu hari ini cuma satu: percaya sama Sopir. (Bersambung)
