Search

Ketika Perayaan Mengalahkan Peringatan

OPINI - Ada rasa prihatin yang sulit disembunyikan ketika melihat cara sebagian masyarakat menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia. Semangat menyambut kemerdekaan tentu patut diapresiasi. Namun, di tengah kemeriahan itu, semakin mudah kita menemukan perayaan yang lebih menonjolkan hura-hura, kesenangan, bahkan kecenderungan hedonis daripada kesadaran untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa. 

Tidak jarang pula kemeriahan tersebut tampil dengan cara yang kurang sensitif terhadap nilai-nilai religius dan kultural yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. Kemerdekaan seolah cukup diterjemahkan menjadi panggung hiburan, pesta, perlombaan, dan berbagai ekspresi kesenangan, sementara makna pengorbanan, perjuangan, dan penghormatan kepada para pendahulu perlahan tersisih dari ingatan.

Sebagai renungan: ketika kegembiraan tidak lagi menjadi ekspresi syukur, tetapi berubah menjadi tujuan. Ketika keberhasilan menyambut kemerdekaan lebih banyak diukur dari seberapa ramai acaranya, seberapa besar panggungnya, dan seberapa meriah hiburannya, sementara sejarah perjuangan semakin jarang dibicarakan, kita patut bertanya: apakah kita masih sedang memperingati kemerdekaan, atau sekadar merayakan tanggal 17 Agustus?

Pertanyaan itu penting karena perayaan dan peringatan memiliki makna berbeda. Perayaan membawa kita kepada kegembiraan karena menikmati kemerdekaan, sedangkan peringatan membawa kita kepada kesadaran tentang bagaimana kemerdekaan diperoleh dan bagaimana ia harus dirawat. Perayaan membuat kita melihat apa yang telah kita terima, sementara peringatan mengajak kita menoleh ke belakang dan mengingat siapa saja yang telah memberikan pengorbanan agar kita dapat menerima kemerdekaan tersebut. 

Kemerdekaan Tidak Datang dengan Sendirinya

Kemerdekaan Indonesia bukan hadiah dari penjajah. Ia bukan kemurahan hati penguasa kolonial dan bukan pula sesuatu yang diperoleh tanpa perjuangan. Proklamasi 17 Agustus 1945 memang menjadi tonggak penting lahirnya Indonesia sebagai negara merdeka, tetapi proklamasi bukanlah akhir perjuangan. 

Di balik Merah Putih yang hari ini dengan mudah kita kibarkan, terdapat sejarah manusia-manusia yang tidak semuanya sempat melihat Indonesia seperti yang kita nikmati sekarang. Ada yang meninggalkan keluarga, kehilangan harta, hidup dalam ketidakpastian, dan gugur sebelum sempat menikmati hasil perjuangannya. Mereka berjuang karena percaya bahwa bangsa ini memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri.

Jangan sampai kita lebih sibuk mempersiapkan panggung daripada menyediakan ruang untuk mengingat sejarah. Jangan sampai kita lebih hafal siapa pemenang perlombaan daripada memahami siapa yang gugur mempertahankan republik. Jangan sampai kita lebih bersemangat mencari hiburan daripada mengajarkan kepada anak-anak mengapa Merah Putih harus dihormati. Jika itu terjadi, simbol-simbol kemerdekaan perlahan dapat berubah menjadi sekadar dekorasi tahunan yang kehilangan hubungan dengan sejarah yang melahirkannya.

Ketika Patriotisme Kehilangan Ruang

Perayaan dan peringatan tidak harus dipertentangkan. Kita boleh tertawa, berkumpul, mengadakan perlombaan, menikmati pertunjukan seni, dan menyelenggarakan pesta rakyat. Tetapi kegembiraan tersebut semestinya memiliki akar pada rasa syukur dan kesadaran sejarah. Kemeriahan seharusnya menjadi ekspresi dari kesadaran itu, bukan menggantikannya.

Yang patut direnungkan adalah ketika sebagian perayaan mulai beraroma hedonis dan hura-hura sehingga kemerdekaan seolah menjadi alasan untuk mencari kesenangan. Kita mulai mengukur keberhasilan peringatan dari seberapa ramai acaranya, bukan dari seberapa dalam kesadaran yang ditinggalkannya. 

Jangan sampai kemerdekaan yang dahulu dipertahankan dengan darah dan air mata justru kita rayakan dengan kehilangan ingatan. Sebab ketika ingatan hilang, patriotisme pun perlahan kehilangan tempat untuk tumbuh. Bendera masih berkibar, lagu kebangsaan masih dinyanyikan, upacara masih dilaksanakan, tetapi makna di balik semuanya dapat semakin jauh dari kesadaran.

Agama Harus Menghidupkan Peringatan

Di tengah keadaan seperti itu, agama semestinya tidak hanya hadir sebagai bagian dari seremoni, tetapi sebagai kekuatan yang memberikan makna. Indonesia adalah bangsa yang kehidupan masyarakatnya sangat dipengaruhi nilai-nilai religius. Karena itu, momentum kemerdekaan semestinya dapat dihidupkan melalui kekuatan religius agar perayaan tidak kehilangan dimensi moral dan spiritualnya.

Dalam konteks itu, umat Islam sebagai bagian terbesar dari masyarakat beragama di Indonesia memiliki posisi strategis. Bukan karena umat Islam harus menjadi satu-satunya pihak yang menentukan bagaimana kemerdekaan diperingati, melainkan karena posisi mayoritas memberikan kesempatan sekaligus tanggung jawab moral yang lebih besar untuk memberikan teladan.

Umat Islam semestinya menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia bukan hanya dengan menambah kemeriahan, tetapi juga dengan memperbanyak kegiatan yang menghidupkan ingatan dan merawat kemerdekaan. Masjid, pesantren, sekolah, majelis taklim, keluarga, dan komunitas Muslim dapat menjadikan bulan Agustus sebagai ruang untuk menghubungkan rasa syukur kepada Allah dengan kesadaran sejarah bangsa. 

Dengan demikian, agama tidak perlu berhadapan dengan kegembiraan. Agama justru dapat memberikan arah kepada kegembiraan. Rasa syukur tidak berhenti pada ucapan, tetapi diterjemahkan menjadi kepedulian. Doa tidak berhenti sebagai ritual, tetapi mendorong tindakan. Peringatan tidak berhenti pada mengenang mereka yang telah pergi, tetapi menjadi energi untuk meneruskan nilai perjuangan dalam kehidupan hari ini.

Kekuatan religius juga dapat menjadi penyeimbang terhadap kecenderungan hedonisme. Bukan dengan mengharamkan hiburan atau mencurigai setiap bentuk kegembiraan, melainkan dengan mengingatkan bahwa tidak semua yang meriah memiliki makna dan tidak semua yang sederhana kehilangan nilai. Sebuah kajian yang membuat anak muda memahami sejarah perjuangan, doa untuk para pahlawan, atau kegiatan sosial yang membantu masyarakat mungkin tidak semeriah panggung hiburan, tetapi dapat meninggalkan jejak kebangsaan yang jauh lebih dalam.

Patriotisme hari ini tidak selalu harus diwujudkan melalui pidato yang berapi-api atau simbol-simbol besar. Patriotisme dapat tumbuh dari kesediaan menjaga apa yang telah diperjuangkan. Kita tidak lagi diminta mengangkat senjata untuk mengusir penjajah. Bentuk perjuangannya telah berubah. Kejujuran, kepedulian sosial, penghormatan terhadap hukum, penolakan terhadap korupsi, penghargaan terhadap perbedaan, kepedulian terhadap lingkungan, menjaga fasilitas publik, dan menggunakan kebebasan secara bertanggung jawab juga merupakan bentuk patriotisme.

Kita yang hidup 81 tahun kemudian seharusnya belajar dari kedewasaan tersebut. Kita mungkin tidak lagi berhadapan dengan penjajahan dalam bentuk yang sama, tetapi menghadapi fanatisme, intoleransi, korupsi, kebencian, ego kelompok, dan berbagai bentuk perpecahan yang dapat melemahkan kehidupan bangsa dari dalam. Jika dahulu kemerdekaan dipertahankan melalui perjuangan fisik, sekarang kemerdekaan harus dirawat melalui kedewasaan dalam kehidupan berbangsa.

Karena itu, umat Islam tidak perlu sibuk membuktikan bahwa dirinya paling berhak mengklaim sejarah kemerdekaan. Yang lebih penting adalah menunjukkan bahwa nilai-nilai religius dapat menjadi kekuatan untuk merawat kemerdekaan. Sebagai mayoritas, umat Islam justru memiliki tanggung jawab memberikan keteladanan dalam memperkuat persaudaraan, keadilan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial. Mayoritas bukan alasan untuk merasa paling memiliki Indonesia, tetapi amanah untuk memberikan manfaat yang lebih besar bagi Indonesia.

Merayakan dengan Kesadaran

Delapan puluh satu tahun adalah perjalanan panjang. Tetapi panjangnya usia tidak otomatis membuat sebuah bangsa semakin dewasa. Kedewasaan justru terlihat dari kemampuan memahami sejarah dan menjadikan sejarah sebagai sumber pembelajaran. Semakin jauh kita dari masa perjuangan, semakin penting pula menghadirkan kembali ingatan tentang perjuangan tersebut.

Kita tidak perlu menghapus perlombaan dari bulan Agustus. Kita tidak perlu meniadakan pesta rakyat. Kita juga tidak perlu menjadikan peringatan kemerdekaan sebagai kegiatan yang kaku dan penuh kesedihan. Yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa kegembiraan tidak mengalahkan kesadaran. Kita boleh berpesta, tetapi jangan kehilangan ingatan. Kita boleh bergembira, tetapi jangan kehilangan rasa hormat kepada mereka yang telah berkorban.

Pada akhirnya, yang perlu kita wariskan kepada generasi berikutnya bukan hanya tanggal 17 Agustus, bendera Merah Putih, atau tradisi perlombaan setiap tahun. Kita harus mewariskan kesadaran bahwa Indonesia lahir dari perjuangan, dipertahankan dengan pengorbanan, dan akan tetap merdeka apabila generasi setelahnya bersedia merawat persatuan, keadilan, dan martabat bangsa.

Jangan sampai kita menjadi generasi yang paling banyak menikmati buah kemerdekaan, tetapi paling sedikit mengingat pohon yang dahulu ditanam dan dirawat dengan pengorbanan. Jangan sampai kemerdekaan hanya menjadi alasan untuk berpesta, sementara patriotisme kehilangan ruang untuk tumbuh. Dan jangan sampai nilai-nilai religius yang seharusnya membentuk rasa syukur, tanggung jawab, dan kepedulian justru tersisih oleh perayaan yang semakin jauh dari akar spiritual dan kultural masyarakat.

HUT ke-81 Republik Indonesia semestinya menjadi momentum mengembalikan keseimbangan antara perayaan dan peringatan. Kita boleh merayakan kemerdekaan dengan kegembiraan, tetapi harus memperingatinya dengan kesadaran. Kita boleh menikmati hasil perjuangan para pendahulu, tetapi tidak boleh lupa bahwa setiap kemerdekaan membawa amanah untuk dijaga.

Mari merayakan kemerdekaan, tetapi jangan lupa memperingatinya. Sebab kemerdekaan yang hanya dirayakan akan melahirkan kegembiraan, sedangkan kemerdekaan yang diperingati akan melahirkan kesadaran. Dari kesadaran itulah patriotisme tumbuh. Dan dari patriotisme itulah kemerdekaan dapat terus dirawat.