Simbiosis Gresik Kota Santri-Kota Industri: Mutualisme atau Parasitisme? (Part 3)
CATATAN KHUSUS - Pada tahun 2009, pertanyaan bawah tanah berkeliaran. Ada apa masyarakat beramai-ramai menjual tambak? Akan dipakai untuk apa? Hanya suara angin yang terdengar. Negara sedang membutuhkan tanah. Warga pun melepaskannya, apalagi tambak yang sudah tidak bisa dijadikan sandaran hidup itu dihargai 100% sampai 500% lebih tinggi daripada harga pasar. Banyak yang bersuka hati, tidak sedikit yang mati bersengketa dan kaget menerima tumpukan duit dalam jumlah yang tidak pernah diimpikan.
Dalam waktu kurang dari empat tahun, lebih dari 2.000 hektare lahan petambak sudah berpindah tangan ke PT BKMS (Berkah Kawasan Manyar Sejahtera). Ribuan dump truck secepatnya dikerahkan untuk memindahkan tanah gunung kapur guna menguruk ribuan hektare lahan tambak. Sopir-sopir kendaraan besar bermuatan hingga 45 ton mabuk rupiah. Mereka bekerja tanpa mengenal waktu, tidak menghitung korban tewas terlindas, dan tidak lagi memikirkan jalan yang rusak berat. Aparat tiarap dalam menegakkan aturan angkutan jalan raya. Jalur Daendels pun menjadi pasar diskon, diserbu ribuan pekerja lokal dan asing yang setiap pagi dan sore memacetkan lalu lintas. Kaum urban mendatangkan masalah, tetapi mengalirkan cuan untuk pemilik hotel, apartemen, rumah kos, toko kelontong, maupun usaha kuliner.
Kawasan Manyar berubah total setelah JIIPE (Java Integrated and Ports Estate) resmi beroperasi pada tahun 2018. Inilah kawasan industri yang mengintegrasikan industri, pelabuhan, dan hunian. JIIPE menjadi kota industri mandiri yang memiliki akses langsung ke semua pasar domestik dan internasional, sekaligus menjadi kawasan percontohan bagi pengembangan industri di Indonesia. JIIPE pun ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus berdasarkan PP Nomor 71 Tahun 2021.
Kini, Manyar bukan lagi burung kecil berbulu cantik bermahkotakan warna keemasan. Dalam sangkar karya seni hasil rajutan paruhnya, burung-burung itu menjadikannya tempat bercengkerama, melindungi, merawat, membesarkan, dan mengajari anak-anaknya hidup mandiri serta bersahabat dengan alam. Saat ini, burung-burung itu pergi. Sangkar mereka tumbang bersamaan dengan pohon-pohon tempatnya menggantungkan diri. Apakah warga Gresik Utara, khususnya Manyar, akan bernasib sama?
Diserbu Kaum Urban
Dalam waktu dekat, kata mantan Kepala Dinas Perizinan Gresik, Ir. Agus Muallaif, di kawasan Gresik Utara akan terjadi ledakan penduduk besar-besaran dengan hadirnya industrialisasi di JIIPE dan kawasan industri yang segera menyusulnya, yakni BIP dan KIG. Serbuan ribuan pekerja membutuhkan ribuan hektare lahan untuk hunian sehingga tidak lama lagi kawasan perumahan akan bergeser dari Gresik Selatan menuju Gresik Utara. “Surabaya sudah tidak memiliki wilayah pengembangan industri lagi selain ke Gresik Utara,” katanya.
Industrialisasi tidak hanya melahirkan urbanisasi semata, tetapi juga menghadirkan kekagetan demi kekagetan yang datang silih berganti. Pendapatan meningkat, gaya hidup berubah, kelas sosial bermunculan, hubungan antarsesama semakin individualistis, serta kecenderungan mendahulukan hak dan mengakhirkan kewajiban menguat. Tuntutan terhadap penegakan keadilan dan persamaan hak semakin tinggi. Hidup dengan disiplin jam kerja yang ketat akan berpengaruh pada pelaksanaan kegiatan keagamaan. Di tengah arus industrialisasi, santri akan dihadapkan pada tantangan transformasi cara berpikir yang berpijak pada sains dan teknologi. Hal ini mendesak masyarakat tradisional untuk berpikir lebih rasional agar tidak tertinggal dalam mengikuti arus perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Kaya Sejarah
Ditinjau dari sejarah, Gresik Utara (Manyar, Bungah, Sidayu, Ujung Pangkah, Panceng, dan Dukun) memiliki sejarah kejayaan yang diukir sejak 700 tahun lalu. Prabu Hayam Wuruk, Raja Majapahit, sudah menuliskan dalam Prasasti Canggu (1358 M) tentang desa-desa naditira pradica, yaitu desa-desa pelabuhan sungai di sepanjang aliran Bengawan Solo yang ramai disandari kapal-kapal yang sibuk melakukan bongkar muat barang. Prabu Hayam Wuruk pun mengangkat seorang pejabat yang bertugas mengelola naditira pradica, termasuk urusan bea angkut barang dan penumpang.
Desa Bedanten dan Mojopuro, Bungah, termasuk pelabuhan sungai yang paling ramai dikunjungi pedagang dari mancanegara. Selain ditemukan makam kuno, keramik, dan benda-benda bersejarah lainnya, di Mojopuro terdapat patung dwarapala, yaitu patung penjaga pintu gerbang sebuah kota atau istana. Warga menyebutkan bahwa di sepanjang pinggiran Bengawan Mojopuro pernah berdiri bangunan Belanda sebagai pusat bisnis dan perdagangan yang saat ini sudah tergerus aliran Bengawan Solo.
Jalan Daendels merupakan salah satu peninggalan sejarah yang paling legendaris. Jalan sepanjang 1.000 kilometer dari Anyer hingga Panarukan itu dibangun pada tahun 1808 atas perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels (1808-1811) dan telah menewaskan ribuan pekerja pribumi. Kini, jalan yang sudah berusia lebih dari 200 tahun itu mulai dinikmati pelaku industri.
Berdirinya Kadipaten Sidayu, yang merupakan pindahan dari Kadipaten Sidayu Lawas di Brondong, Lamongan, pada tahun 1737 turut dicatat sebagai bagian dari sejarah kejayaan Gresik Utara. Dimulai dari bupati pertama, Tumenggung Suroadiningrat I, hingga bupati terakhir, Tumenggung Suroadiningrat V, pada tahun 1910, selama lebih dari dua abad Sidayu memiliki pengalaman penting dalam pembangunan kawasan, bisnis perdagangan, tata kelola pemerintahan, sarana transportasi darat dan laut, serta pembangunan bidang sosial, ekonomi, budaya, dan keagamaan.
Bupati Suroadiningrat III, yang dikenal dengan nama Kanjeng Sepuh, diberi gelar Rojo Pandito karena memiliki kemampuan ganda, yakni sebagai umara sekaligus ulama yang alim. Berdasarkan dokumen arsip pemerintahan kolonial tahun 1847, terdapat Letnan China Tan Kik Tjoen yang menjadi pejabat di Kadipaten Sidayu. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sudah menjunjung tinggi toleransi. Bangsa Arab, Eropa, dan Madura semuanya berbaur menjadi satu kesatuan di dalam masyarakat Sidayu (Sidayu: Dari Kadipaten Menuju Kawedanan, karya Eko Jarwanto).
Bukti adanya akulturasi budaya ditemukan dalam beberapa inskripsi di kompleks pemakaman para bupati yang terletak di sebelah barat Masjid Kanjeng Sepuh. Inskripsi tersebut menggunakan bahasa Melayu, Belanda, dan Jawa. Huruf yang digunakan adalah huruf Latin, Arab, dan Jawa. Dalam penulisan tahun, terdapat tahun Hijriah, Masehi, dan Jawa. Semua inskripsi itu menegaskan adanya akulturasi budaya yang berkembang baik di Kadipaten Sidayu. Jejak kebesaran Kabupaten Sidayu yang bisa disaksikan sampai sekarang antara lain alun-alun, Masjid Kanjeng Sepuh yang dibangun pada 1758, kantor kawedanan, dan makam-makam pembesar Kabupaten Sidayu.
Tradisi santri melekat kuat di Gresik Utara. Menurut Guru Besar Filsafat Universitas Paramadina, almarhum Prof. Abdul Hadi W.M., tradisi ini diawali oleh Siti Fatimah (wafat 1028 M) yang datang sebagai pedagang dan penyebar Islam. Pada abad ke-10 dan ke-11, Desa Leran merupakan sebuah kota pelabuhan yang ramai dikunjungi kapal-kapal dagang asing, termasuk dari tanah Arab, Persia, dan India. Malik Ibrahim juga berlabuh di Leran sekitar abad ke-15.
Tradisi Keilmuan
Dari sisi tradisi keilmuan, Gresik Utara menunjukkan jati dirinya sebagai pusat pengembangan Islam setelah melemahnya era Sunan Giri pada 1680. Tokoh-tokoh formal dipelopori oleh para bupati Sidayu, terutama Kanjeng Sepuh, sedangkan tokoh-tokoh nonformal ditunjukkan oleh kiai-kiai pengasuh pesantren yang konsisten mendidik masyarakat melalui pengajaran dan keteladanan. Di antara tokoh penting itu adalah almarhum K.H. Qomaruddin, pendiri Pondok Pesantren Qomaruddin pada abad ke-18. Dalam buku Sejarah Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan Bungah, Gresik karya H.M. Alauddin, Lc., M.SEI., dkk., disebutkan bahwa perintisannya dimulai pada 1747.
Pesantren-pesantren yang berdiri di kawasan Gresik Utara sebagian besar terikat kuat dalam kesinambungan sanad keilmuan, hubungan keluarga, atau jejaring kerja dengan Pondok Pesantren Qomaruddin. Misalnya, di Dukun terdapat Pondok Pesantren Al-Karimi yang didirikan K.H. Abdul Karim pada tahun 1864, Pondok Pesantren Maskumambang yang didirikan pada tahun 1859 M oleh K.H. Abdul Djabbar, dan Pondok Pesantren Ihyaul Ulum yang didirikan K.H. Ma'shum Sufyan pada 1951. Di Sidayu terdapat PPTQ Al-Munawar (1920), PP Qiyamul Mannar (1930), dan PP Mambaul Ihsan (1949). Di Ujung Pangkah berdiri Pondok Pesantren Al-Muniroh yang dirintis sejak tahun 1942 oleh almarhum K.H. Mawardi. Pondok Pesantren Mambaus-Sholihin (1980) dan Pondok Pesantren Daruttaqwa yang terletak di Desa Suci, Manyar, sepertinya ditakdirkan menjadi penjaga pintu masuk masyarakat industri ke wilayah utara.
Dengan banyaknya pesantren serta ratusan lembaga pendidikan formal, mulai dari MI, MTs, dan MA hingga perguruan tinggi, Gresik Utara benar-benar menjadi kawasan santri. Di kampung-kampung, suara azan berkumandang dari masjid dan musala setiap memasuki waktu salat rawatib. Al-Qur'an diajarkan, dibaca, dan dihafalkan. Ritual keagamaan, seperti istigasah, pembacaan Surah Yasin dan tahlil, dibaan, maulid Rasul, haul, dan ziarah kubur, dipegang teguh sebagai tradisi santri.
Dalam kurun waktu yang panjang, yakni lebih dari 2,5 abad, santri di Gresik Utara seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Mereka menjalankan peribadatan secara eksklusif dan belum menghadapi ujian berat seperti yang dialami santri di Gresik Selatan maupun Gresik Kota. Kaum sarungan masih membanggakan dirinya sebagai santri. Kiai-kiai Pantura Gresik paling sering terlihat mengenakan sarung dan kopiah ketika berbelanja di pasar desa. “Investor yang datang ke Gresik sempat kaget melihat daerah yang sudah dipadati industri ini masih banyak warga yang mengenakan sarung, kopiah, dan baju koko,” kata Wakil Bupati Gresik, dr. H. Asluchul Alif, M.Kes., M.M., M.HP., saat pengukuhan Pengurus Dewan Kebudayaan Gresik di GNI pada 20 Agustus 2026.
Ungkapan Wakil Bupati Gresik Asluchul Alif tersebut menegaskan bahwa tradisi santri sampai saat ini masih kuat bertahan di tengah gempuran industrialisasi yang hadir secara masif. Industrialisasi bukan menjadi musuh yang akan menggerus religiositas masyarakat. Sebaliknya, religiositas yang berkembang di masyarakat bukan pula penghalang perluasan industrialisasi. Keduanya dapat membangun kerja sama yang saling memberikan manfaat, bukan datang untuk merugikan satu pihak dan menguntungkan pihak lain.
Aksi warga Manyar merobohkan patung perempuan berbahan perunggu milik PT KIM (Kawasan Industri Maspion) sekitar tahun 1995 merupakan reaksi spontan sekaligus sikap kritis masyarakat. Aksi itu menyiratkan bahwa perusahaan-perusahaan yang berdiri hendaknya memahami lingkungan sosial masyarakat di sekitarnya. Hal ini bukan karena kaum santri menolak industrialisasi, melainkan karena patung perempuan itu dianggap tidak tepat didirikan di Desa Manyar.
Begitu pula ketika warga Ujung Pangkah menggelar aksi penolakan terhadap eksploitasi gas oleh AMERADA HESS pada 2002. Demonstrasi ratusan massa yang diiringi aksi pembakaran itu bukan disebabkan oleh sikap masyarakat santri yang ant industri, melainkan oleh kekhawatiran terhadap kerusakan dan pencemaran lingkungan yang secara ekonomi akan merugikan profesi mereka sebagai petambak dan nelayan.
Tantangan di Depan dan di Belakang Mata
Pengaruh perubahan sosial ekonomi terhadap perilaku masyarakat mulai terlihat di kawasan-kawasan yang menjadi pusat pertumbuhan kaum urban. Desa Sukomulyo, Ganden, dan Leran di Kecamatan Manyar menjadi lokasi yang paling diburu kaum pendatang yang datang tanpa diseleksi berdasarkan asal-usul budaya dan agamanya. Mobilisasi pendatang mendatangkan dampak positif bagi kegiatan ekonomi lokal. Pasar tradisional dan modern semakin ramai, pertokoan baru bermunculan, usaha kuliner berkembang pesat, dan warung kopi tidak pernah sepi. Perubahan yang paling dirasakan adalah suasana pedesaan yang semula sepi dan gelap setelah salat Isya kini berubah menjadi kawasan metropolitan yang hidup selama 24 jam.
Di balik dampak positifnya, beberapa desa yang dipadati kaum urban telah menghadirkan perilaku sosial yang tidak pernah tercatat dalam tradisi kesantrian masyarakat. Perempuan keluar malam sendirian untuk bekerja atau berbelanja tanpa jilbab dan mengendarai sepeda motor bukan lagi pemandangan aneh. Lawan jenis yang berboncengan keluar masuk desa sudah menjadi kebiasaan yang tidak lagi menjadi bahan pembicaraan warga. Berkaraoke di warung-warung kopi, transaksi narkoba, judi daring, dan bisnis tipu-tipu mulai menjadi bagian dari persoalan yang dihadapi masyarakat santri. Komunitas LGBT pun saat ini disebut telah merambah Gresik Utara.
Tantangan di depan mata sudah tampak jelas, tetapi tantangan di belakang mata pasti akan mencuat pada waktunya. Apa itu? Perbedaan cara berpikir, cara hidup berdampingan dengan orang yang berbeda agama, suku, ras, dan etnis, serta perbedaan status sosial dan ekonomi.
Di awal tulisan disebutkan bahwa meskipun kawasan utara pernah menjadi tempat pergumulan budaya pada era penjajahan Belanda-Mataram, hingga saat ini pertumbuhan pemeluk agama non-Islam tidak berkembang secara signifikan. Kalaupun ada, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Itulah sebabnya tempat ibadah mereka, seperti gereja, pura, dan klenteng, tidak ada yang berdiri di seluruh wilayah Gresik Utara. Begitu pula dengan jumlah penduduk dari etnis dan suku lain selain Jawa dan Madura. Dari lima wilayah di Gresik Utara, ditemukan tiga toko milik warga Tionghoa di Pasar Sembayat, Manyar, yang sampai saat ini masih bertransaksi dengan pedagang lokal.
Artinya, dengan mayoritas penduduk beragama Islam dan pengetahuan keagamaan masyarakat Gresik Utara yang sangat kaya, pemahaman tentang makna tasamuh, hidup saling menghormati, serta toleransi antarumat beragama dan intrapemeluk agama dapat menjadi modal kuat untuk membentuk masyarakat santri yang lebih baik pada era industrialisasi. Namun, di sisi lain, masyarakat telah berabad-abad hidup dengan minim pengalaman dalam berdampingan dengan umat berbeda agama dan kelompok masyarakat dari etnis lain. Masyarakat belum pernah menghadapi konflik antarumat beragama maupun antarkelompok etnis. Perselisihan yang terjadi hanya di antara sesama umat Islam, seperti di Dukun dan Sidayu, yang berhasil didamaikan.
Apa yang Disiapkan?
Industrialisasi dan dampak perubahannya, baik positif maupun negatif, akan hidup bersama masyarakat santri Gresik Utara. Jika saat ini belum disiapkan langkah-langkah strategis untuk menghadapi era baru itu, bisa saja buaya-buaya industri akan memangsa apa saja yang ada di depannya. Di hadapan industri, santri sampai saat ini masih menjadi penonton dan korban yang tertindas, teralienasi, serta tersingkir dari perputaran modernisasi. Mereka masih jauh dari posisi sebagai aktor utama dalam dunia usaha dan industri. Pemerintahan Orde Baru sudah menggagas program transformasi teknologi, tetapi sampai saat ini mayoritas generasi terpelajar masih gigit jari karena tetap menjadi buruh dan tukang demonstrasi yang menuntut kenaikan upah.
Bisa saja komunitas LMN (Lokal Media Network) getol menggelar acara Red Zone Gresik Utara karena sampai saat ini memang belum ada gebrakan yang menyemangati para tokoh, akademisi, politisi, kiai, dan ulama untuk menyiapkan masa depan Gresik Utara pada era industrialisasi. Gerakan massal maupun sektoral terlihat adem ayem. Industrialisasi bukan dianggap sebagai sesuatu yang mengancam, melainkan sebagai aliran sungai yang mengalir dari hulu ke hilir.
Masih Ada Waktu
Jauh hari sebelumnya, cendekiawan muslim almarhum Nurcholish Madjid, dalam buku Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan, sudah menyebutkan bahwa sebagian masyarakat memandang industrialisasi dapat memerosotkan religiositas. Namun, sebagian masyarakat lainnya berpendapat bahwa industrialisasi dan modernisasi justru mungkin menopang dan meningkatkan religiositas. Semua itu, katanya, bergantung pada kegiatan penanaman iman oleh masyarakat yang bersangkutan, yaitu pendidikan keagamaan pada umumnya.
Peringatan Cak Nur sangat keras. Tantangan pada era industrialisasi bukan sekadar mempertahankan tradisi santri agar tidak tercerabut dari akarnya. Lebih dari itu, santri harus mampu menawarkan nilai-nilai religiositas untuk dijadikan sebagai dasar berpijak dalam membangun kawasan Gresik Utara. Lembaga pendidikan formal dan nonformal tidak cukup hanya menyiapkan santri dan siswa dengan membuka sekolah-sekolah kejuruan yang ditujukan agar mereka bisa direkrut menjadi buruh pabrik. Membangun karakter kemandirian yang ditopang oleh penguasaan ilmu agama, sains dan teknologi, serta keterampilan pendukungnya akan menempatkan santri pada posisi tawar yang kuat.
Hal lain yang perlu dipahami adalah bahwa JIIPE dan KEK-nya merupakan proyek strategis nasional. Semua kebijakan ditetapkan di Jakarta, termasuk kebijakan yang membuat Pemkab Gresik tidak berkutik untuk mengintervensikan beberapa kebijakan daerah ke dalam kawasan ini. Dengan hadirnya industri yang dibiayai oleh pemodal Amerika, Eropa, dan China, dapat diperkirakan bahwa di dalamnya tidak lagi dipersoalkan kapitalisme maupun sosialisme. Apalagi, investor Timur Tengah belum juga menanamkan sahamnya seperti para pendakwah terdahulu, Malik Ibrahim dan para waliullah.
Dengan memahami arah kebijakan industrialisasi yang berkembang di Gresik Utara, pola pendekatan dakwah tidak cukup hanya merawat santri yang sudah menjadi santri. Menjemput mereka yang belum menjadi santri juga sangat penting sehingga model dakwah yang inklusif perlu dicarikan. Model dakwah tersebut harus menggunakan pendekatan rasional atau sesuai dengan kemampuan berpikir masyarakat industri yang bekerja dalam lingkungan ilmu pengetahuan.
Penggusuran kawasan santri pada era modernisasi ini dapat berlangsung lebih cepat melalui desain Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang telah ditetapkan untuk kawasan Gresik Utara, terutama Manyar dan Bungah. Dengan membaca RTRW, dapat disusun desain masyarakat industri yang religius tanpa menggusur masyarakat religius yang sudah mapan. Hal ini menjadi tantangan tersendiri. Jika santri sedang belajar dan beribadah, tetapi terdengar suara gemuruh pabrik yang mengeluarkan asap panas berpolutan, disertai keriuhan buruh yang bekerja, masa depan kawasan santri menjadi taruhan. Jika kawasan tersebut mampu menjadi tempat bagi kaum industriawan untuk mengistirahatkan spiritualitasnya, yakni berfungsi sebagai pesantren buruh, posisi kawasan santri akan semakin kuat. Namun, jika santri, kiai, atau masyarakat kampung tidak tahan terhadap kehadiran pabrik yang mengganggu lingkungan dalam jangka panjang, mau tidak mau mereka akan pergi seperti burung Manyar.
Masih ada waktu untuk menyelamatkan kawasan Gresik Utara dari desakan industrialisasi. Salah satu caranya adalah memperkuat tali silaturahmi antartokoh untuk duduk bersama dalam satu majelis ilmu membahas industrialisasi yang terus melebar ke utara. Semakin banyak tokoh yang bersatu, semakin kuat majelis tersebut. Sebaliknya, semakin banyak tokoh yang mengedepankan kepentingan diri sendiri atau kelompok, semakin sulit mengharapkan kawasan santri bertahan dalam waktu lama.
Kita pun mulai prihatin karena kehilangan satu per satu local leader yang mampu menyatukan tokoh-tokoh dengan latar belakang dan kepentingan yang berbeda-beda.
Wallahu a'lam bish-shawab.
