SYARIAH - Thawaf merupakan salah satu amalan utama dalam ibadah haji dan umroh. Secara bahasa, thawaf berarti berputar. Adapun menurut istilah syariat, thawaf ialah mengelilingi Ka’bah dengan tata cara tertentu yang telah ditetapkan.
Dalam pelaksanaannya, thawaf tidak hanya terdiri dari satu jenis. Para ulama membaginya menjadi beberapa macam, di antaranya thawaf ifadhah, thawaf qudum, thawaf wada’, thawaf sunnah, dan thawaf umroh.
Thawaf ifadhah termasuk rukun haji, sedangkan thawaf umroh merupakan rukun dalam ibadah umroh. Karena itu, apabila keduanya ditinggalkan, maka ibadah haji maupun umroh menjadi tidak sah dan tidak dapat diganti dengan dam atau bentuk tebusan lainnya.
Jenis-Jenis Thawaf dalam Ibadah Haji
1. Tawaf Qudum
Tawaf qudum atau thawaf kedatangan adalah thawaf yang dilakukan oleh jamaah haji ifrad dan qarin ketika memasuki Kota Mekkah sebelum melaksanakan wuquf di Arafah.
Adapun bagi jamaah haji tamattu’, tawaf ini telah tercakup dalam thawaf umrah.
Hukum thawaf qudum adalah wajib. Karena itu, apabila ditinggalkan, jamaah wajib membayar dam.
2. Tawaf Ifadhah
Tawaf ifadhah merupakan salah satu rukun haji. Apabila tidak dilaksanakan, maka ibadah haji menjadi tidak sah.
Waktu utama pelaksanaan thawaf ifadhah ialah pada 10 Dzulhijjah setelah melempar jumrah aqabah dan melakukan tahallul.
Selain itu, thawaf ifadhah juga dapat dilaksanakan:
- setelah tengah malam tanggal 10 Dzulhijjah,
- setelah terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah,
- atau setelah matahari terbit pada 10 Dzulhijjah.
Tidak terdapat batas akhir tertentu untuk pelaksanaan thawaf ifadhah. Namun, para ulama menganjurkan agar thawaf ini diselesaikan sebelum berakhirnya hari-hari tasyriq, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
3. Tawaf Wada’
Tawaf wada’ atau thawaf perpisahan adalah thawaf yang dilaksanakan sebelum jamaah haji meninggalkan Kota Mekkah.
Hukum thawaf wada’ ialah wajib bagi jamaah haji.
Selain ketiga jenis thawaf tersebut, seseorang juga diperbolehkan melaksanakan thawaf sunnah kapan saja sepanjang waktu sebagai bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah SWT.
10 Kewajiban Thawaf yang Harus Dipahami Jamaah
Agar thawaf dinilai sah, kalangan Syafi’iyyah menjelaskan adanya sejumlah kewajiban yang harus dipenuhi oleh jamaah.
Syekh Ahmad bin Umar asy-Syathiri dalam kitab Al-Yaqut an-Nafis fi Mazhab Ibn Idris menjelaskan:
وَاجِبَاتُ الطَّوَافِ عَشَرَةٌ: سَتْرُ الْعَوْرَةِ، وَالطَّهَارَةُ عَنِ الْحَدَثَيْنِ، وَالطَّهَارَةُ عَنِ النَّجَاسَةِ، وَجَعْلُ الْبَيْتِ عَنْ يَسَارِهِ، وَالِابْتِدَاءُ بِالْحَجَرِ الْأَسْوَدِ، وَمُحَاذَاتُهُ بِجَمِيعِ بَدَنِهِ، وَكَوْنُهُ سَبْعًا، وَكَوْنُهُ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ، وَكَوْنُهُ خَارِجَ الْبَيْتِ وَالشَّاذَرْوَانِ وَالْحِجْرِ، وَعَدَمُ صَرْفِهِ لِغَيْرِهِ
“Kewajiban-kewajiban thawaf ada sepuluh, yaitu: menutup aurat, suci dari hadas besar dan kecil, suci dari najis, menjadikan Ka’bah berada di sebelah kirinya, memulai dari Hajar Aswad, sejajar dengannya dengan seluruh badan, dilakukan sebanyak tujuh putaran, dilakukan di dalam Masjidil Haram, dilakukan di luar bangunan Ka’bah, Syadzarwan, dan Hijr Ismail, serta tidak memalingkan thawaf untuk tujuan selain ibadah thawaf itu sendiri.” (Al-Yaqut an-Nafis fi Mazhab Ibn Idris, h. 326-328)
Keseluruhan ketentuan yang telah ditetapkan para ulama mazhab Syafi’i ini harus diperhatikan agar thawaf yang dilakukan benar-benar sesuai tuntunan syariat.
Berikut perincian 10 kewajiban thawaf tersebut:
1. Menutup Aurat
Kewajiban pertama dalam thawaf ialah menutup aurat. Ketentuan ini didasarkan pada hadis Nabi SAW yang menyamakan thawaf dengan shalat, hanya saja dalam thawaf seseorang diperbolehkan berbicara.
Karena thawaf memiliki kedudukan yang menyerupai shalat, maka syarat-syarat dalam shalat juga berlaku di dalamnya, termasuk kewajiban menutup aurat.
Apabila di tengah thawaf aurat seseorang terbuka, maka ia wajib segera menutupnya kembali lalu melanjutkan thawaf dari titik ketika auratnya terbuka.
Syekh Muhammad bin Ahmad bin Umar asy-Syathiri (wafat 1422 H) dalam kitabnya menjelaskan:
الْأَوَّلُ: سَتْرُ الْعَوْرَةِ، فَالطَّوَافُ كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيثِ: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلَاةٌ إِلَّا أَنَّكُمْ تَتَكَلَّمُونَ فِيهِ، فَسَتْرُ الْعَوْرَةِ وَاجِبٌ فِي الصَّلَاةِ، وَكَذَلِكَ فِي الطَّوَافِ
“Pertama, menutup aurat. Sebab thawaf, sebagaimana disebutkan dalam hadis, Nabi SAW bersabda: Thawaf di Ka’bah itu seperti shalat, hanya saja kalian boleh berbicara di dalamnya. Maka, sebagaimana menutup aurat wajib dalam shalat, demikian pula wajib dalam thawaf.” (Al-Yaqut an-Nafis fi Mazhab Ibn Idris [Jeddah: Dar al-Minhaj], h. 327)
2. Suci dari Hadas
Orang yang melaksanakan thawaf wajib berada dalam keadaan suci dari hadas kecil maupun besar sebagaimana syarat sah shalat.
Apabila seseorang berhadas di tengah thawaf, maka ia harus bersuci terlebih dahulu sebelum melanjutkan putaran thawafnya.
3. Suci dari Najis
Selain suci dari hadas, tubuh, pakaian, dan tempat thawaf juga harus bersih dari najis.
Jika terkena najis ketika thawaf berlangsung, maka ia wajib menyucikannya terlebih dahulu sebelum meneruskan thawaf.
وَالثَّانِيُ وَالْثَّالِثُ: طُهْرٌ عَنْ حَدَثٍ أَصْغَرَ وَأَكْبَرَ وَعَنْ نَجَسٍ كَمَا فِي الصَّلَاةِ، فَلَوْ زَالَا فِي الطَّوَافِ جَدَّدَ السَّتْرَ وَالطُّهْرَ وَبَنَى عَلَى طَوَافِهِ
“Kedua dan ketiga, suci dari hadas kecil dan besar serta suci dari najis, sebagaimana dalam shalat. Maka apabila penutup aurat atau kesuciannya hilang di tengah thawaf, ia harus memperbarui penutup aurat dan bersucinya, lalu melanjutkan kembali thawafnya.” (Al-Iqna’ fi Halli Alfadz Abi Syuja’ [Beirut: Dar al-Fikr], vol. 1, h. 255)
4. Menjadikan Ka’bah di Sebelah Kiri
Selama thawaf berlangsung, posisi Ka’bah harus berada di sebelah kiri jamaah.
Apabila seseorang berjalan dengan posisi Ka’bah di sebelah kanan, maka thawafnya tidak sah.
الرَّابِعُ: جَعْلُ الْبَيْتِ عَنْ يَسَارِهِ، فَلَوْ جَعَلَهُ عَنْ يَمِينِهِ لَمْ يُجْزِهِ
“Keempat, menjadikan Ka’bah berada di sebelah kirinya. Maka apabila ia menjadikannya di sebelah kanannya, thawafnya tidak sah.” (Al-Yaqut an-Nafis fi Mazhab Ibn Idris [Jeddah: Dar al-Minhaj], h. 328)
5. Memulai dari Hajar Aswad
Putaran thawaf harus dimulai dari Hajar Aswad. Dari titik inilah hitungan thawaf dimulai dan diakhiri.
Para ulama juga menganjurkan jamaah berdiri sejajar dengan Hajar Aswad ketika memulai thawaf, lalu memberi isyarat ke arahnya apabila tidak memungkinkan untuk mendekat.
Syekh Muhammad bin Ahmad bin Umar asy-Syathiri menjelaskan:
الْخَامِسُ: أَنْ يَبْدَأَ بِالْحَجَرِ الْأَسْوَدِ، وَقَالُوا: يَقِفُ قُبَالَتَهُ، وَيَسْتَلِمُهُ وَيُقَبِّلُهُ وَيَضَعُ جَبْهَتَهُ عَلَيْهِ
“Kelima, memulai thawaf dari Hajar Aswad. Para ulama berkata: hendaknya ia berdiri menghadapnya, mengusapnya, menciumnya, dan meletakkan dahinya di atasnya.” (Al-Yaqut an-Nafis fi Mazhab Ibn Idris [Jeddah: Dar al-Minhaj], h. 328)
6. Menyejajarkan Badan dengan Hajar Aswad
Ketika memulai thawaf, seluruh badan jamaah harus sejajar dengan Hajar Aswad. Tidak boleh ada bagian tubuh yang mendahului garis sejajar tersebut sebelum putaran dimulai.
Demikian pula saat menyelesaikan putaran thawaf, posisi badan kembali disejajarkan dengan Hajar Aswad agar putaran benar-benar sempurna.
Syekh Muhammad bin Ahmad bin Umar asy-Syathiri menyebutkan:
السَّادِسُ: مُحَاذَاتُهُ بِجَمِيعِ بَدَنِهِ؛ أَيْ: لَا يَكُونُ أَيُّ جُزْءٍ مِنْ بَدَنِهِ وَلَوْ يَسِيرًا، دَاخِلَ الْكَعْبَةِ فَعِنْدَ تَقْبِيلِ الْحَجَرِ يَكُونُ جُزْءٌ مِنَ الْبَدَنِ دَاخِلَ الْكَعْبَةِ
“Keenam, sejajar dengan Hajar Aswad dengan seluruh badannya maksudnya tidak boleh ada bagian tubuhnya walaupun sedikit, yang masuk ke dalam bangunan Ka’bah. Oleh karenanya, ketika mencium Hajar Aswad, terkadang ada sebagian tubuh yang masuk ke area Ka’bah.” (Al-Yaqut an-Nafis fi Mazhab Ibn Idris [Jeddah: Dar al-Minhaj], h. 329)
7. Dilakukan Sebanyak Tujuh Putaran
Thawaf wajib dilakukan sebanyak tujuh putaran penuh secara yakin.
Jika seseorang ragu mengenai jumlah putaran yang telah dilakukan, maka ia harus mengambil hitungan yang paling sedikit lalu menyempurnakannya.
Syekh Muhammad bin Ahmad bin Umar asy-Syathiri menuturkan:
السَّابِعُ: كَوْنُهُ سَبْعًا بِالْيَقِينِ، فَإِنْ شَكَّ بَنَى عَلَى الْأَقَلِّ
“Ketujuh, thawaf harus dilakukan sebanyak tujuh putaran secara yakin. Jika ia ragu, maka ia mengambil hitungan yang lebih sedikit.” (Syarh al-Yaqut an-Nafis fi Mazhab Ibn Idris [Jeddah: Dar al-Minhaj], h. 329)
8. Dilaksanakan di Dalam Masjidil Haram
Thawaf harus dilakukan di dalam kawasan Masjidil Haram.
Karena itu, thawaf di lantai dua maupun area perluasan Masjidil Haram tetap sah selama masih berada dalam batas masjid.
Syekh Muhammad bin Ahmad bin Umar asy-Syathiri menyatakan:
الثَّامِنُ: كَوْنُهُ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ، وَلَوْ فِي الطَّابِقِ الثَّانِي، وَلَا يَضُرُّ الْحَائِلُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ مَا دَامَ دَاخِلَ الْمَسْجِدِ
“Kedelapan, thawaf harus dilakukan di dalam Masjidil Haram meskipun di lantai dua. Tidak mengapa wujudnya penghalang antara dirinya dan Ka’bah selama ia masih berada di dalam Masjidil Haram.” (Al-Yaqut an-Nafis fi Mazhab Ibn Idris [Jeddah: Dar al-Minhaj], h. 330)
9. Dilakukan di Luar Ka’bah dan Hijr Ismail
Seluruh badan jamaah yang thawaf harus berada di luar bangunan Ka’bah, termasuk di luar Syadzarwan dan Hijr Ismail karena keduanya termasuk bagian dari Ka’bah.
Sebagian jamaah terkadang meletakkan tangan di atas Syadzarwan sambil terus berjalan thawaf. Menurut pendapat mu’tamad, bagian perjalanan tersebut tidak dihitung sebagai thawaf.
التَّاسِعُ: كَوْنُهُ خَارِجَ الْبَيْتِ وَالشَّاذَرْوَانِ وَالْحِجْرِ وَهُمَا مِنَ الْكَعْبَةِ، فَالشَّاذَرْوَانُ عِبَارَةٌ عَنْ مَكَانٍ مِنْ أَسَاسِ الْكَعْبَةِ الْأَصِيلِ خَلَّفَتْهُ قُرَيْشٌ، وَكَذَلِكَ الْحِجْرُ لَمْ تُتِمَّهُ. وَنُلَاحِظُ بَعْضَ الطَّائِفِينَ يَضَعُونَ أَيْدِيَهُمْ عَلَى الشَّاذَرْوَانِ، وَيَسْتَمِرُّ فِي طَوَافِهِ وَيَدُهُ فَوْقَهُ، وَالْمُعْتَمَدُ: أَنْ لَا تُحْتَسَبَ لَهُ الْمَسَافَةُ الَّتِي قَطَعَهَا وَيَدُهُ عَلَى الشَّاذَرْوَانِ مِنَ الطَّوَافِ، وَعَلَيْهِ الرُّجُوعُ إِلَى الْمَحَلِّ الَّذِي بَدَأَ وَضْعَ يَدِهِ فِيهِ وَيَسْتَأْنِفُ طَوَافَهُ مِنْهُ
“Kesembilan, thawaf harus dilakukan di luar Ka’bah, Syadzarwan, dan Hijr Ismail, karena keduanya termasuk bagian dari Ka’bah. Syadzarwan adalah bagian dari fondasi asli Ka’bah yang dahulu ditinggalkan oleh kaum Quraisy ketika membangun kembali Ka’bah. Demikian pula Hijr Ismail, yang pembangunannya tidak mereka sempurnakan. Kita juga menyaksikan sebagian orang yang thawaf meletakkan tangan mereka di atas syadzarwan, lalu terus berjalan thawaf sementara tangannya tetap berada di atasnya. Pendapat mu’tamad menyatakan bahwa jarak yang ditempuh dalam keadaan tangannya berada di atas Syadzarwan tidak dihitung sebagai bagian dari thawaf. Sebab itu, ia harus kembali ke tempat saat mulai meletakkan tangannya di atas Syadzarwan dan mengulangi thawafnya dari titik tersebut.” (Syarh al-Yaqut an-Nafis fi Mazhab Ibn Idris [Jeddah: Dar al-Minhaj], h. 329-330)
10. Tidak Bertujuan Selain Thawaf
Selama menjalani thawaf, seseorang tidak boleh memalingkan tujuan utamanya kepada perkara selain thawaf itu sendiri.
Misalnya, seseorang berlari mengejar anak kecil yang tersesat ketika sedang thawaf. Maka bagian perjalanan tersebut tidak dihitung sebagai thawaf dan ia harus kembali ke titik awal sebelum gangguan itu terjadi.
الْعَاشِرُ: عَدَمُ صَرْفِهِ لِغَيْرِهِ؛ مِثَالُهُ: لَوْ رَأَى فِي مَطَافِهِ غَرِيمًا لَهُ أَوْ صَبِيًّا ضَائِعًا فَجَرَى خَلْفَهُ لِيُدْرِكَهُ لَمْ يُحْسَبْ لَهُ مِنَ الطَّوَافِ، وَعَلَيْهِ أَنْ يَعُودَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ الْمُطَارَدَةَ
“Kesepuluh, tidak memalingkan thawaf untuk tujuan selain thawaf itu sendiri. Contohnya, apabila seseorang melihat orang yang mempunyai urusan piutang dengannya atau melihat anak kecil yang tersesat ketika sedang thawaf, lalu ia berlari mengejarnya untuk menangkap atau menolongnya, maka bagian yang ia tempuh itu tidak dihitung sebagai thawaf. Ia harus kembali ke tempat saat mulai mengejar tadi, lalu melanjutkan thawafnya dari sana.” (Syarh al-Yaqut an-Nafis fi Mazhab Ibn Idris [Jeddah: Dar al-Minhaj], h. 331)
Kesepuluh kewajiban di atas menunjukkan bahwa thawaf bukan sekadar berjalan mengelilingi Ka’bah, melainkan ibadah yang memiliki aturan rinci dan harus dijaga dengan penuh kehati-hatian.
Karena itu, jamaah perlu memahami setiap ketentuan thawaf agar rangkaian ibadah haji dan umroh yang dijalankan benar-benar sah sesuai tuntunan syariat. Terlebih thawaf ifadhah dan thawaf umroh merupakan bagian inti dalam ibadah haji dan umroh yang sangat menentukan sah atau tidaknya manasik yang dilaksanakan.
Sebagai penutup, mari terus memperdalam pemahaman keislaman kita dengan merujuk pada sumber yang terpercaya. Kunjungi muigresik.or.id untuk mendapatkan berbagai artikel keislaman, panduan ibadah, dan kajian aktual yang mencerahkan, sehingga setiap langkah ibadah kita semakin terarah dan bernilai di sisi Allah SWT. Wallahu a’lam bis-shawab.
*Telah di tashih oleh Ibu Nyai Hj. Hajar Idris, Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga MUI Kabupaten Gresik.
