Search

Tips Menyimpan dan Mengolah Daging Kurban agar Tetap Segar dan Bergizi

MUI GRESIK - Hari Raya Iduladha identik dengan pembagian dan pengolahan daging kurban. Namun, di balik manfaat gizinya yang tinggi, daging juga termasuk bahan pangan yang mudah terkontaminasi bakteri apabila tidak ditangani dengan benar.

Karena itu, pengelolaan dan penyimpanan daging kurban perlu dilakukan secara higienis agar tetap aman dikonsumsi.

Pentingnya Perawatan Daging

Daging merupakan sumber protein hewani yang kaya manfaat. Kandungan seperti zat besi, vitamin B12, selenium, dan zinc sangat dibutuhkan tubuh. Namun, daging juga rentan terhadap kontaminasi bakteri berbahaya seperti Salmonella, E. coli, dan Listeria yang dapat menyebabkan penyakit serius, termasuk zoonosis.

Karena itu, konsumsi daging harus memenuhi standar ASUH, yaitu:

- Aman: bebas dari bibit penyakit dan residu obat.

- Sehat: memiliki nilai gizi tinggi dan bermanfaat bagi tubuh.

- Utuh: tidak dicampur dengan bagian hewan lain.

- Halal: ditangani sesuai syariat Islam.

Persiapan Alat dan Lingkungan yang Higienis

Pengolahan daging dimulai dari kebersihan alat dan lingkungan. Pisau yang digunakan harus tajam, panjang, dan tidak berkarat. Talenan, alas plastik, serta wadah daging juga wajib bersih agar tidak menjadi sumber kontaminasi.

Tempat penampungan hewan sebaiknya berada di area yang kering dan teduh. Sementara lokasi penyembelihan perlu dipisahkan dari sarana umum agar kebersihan tetap terjaga. Penanganan jeroan juga harus dipisahkan dari daging untuk mengurangi risiko penyebaran bakteri.

Mengenali Daging Segar dan Daging Busuk

Masyarakat perlu mengetahui ciri-ciri daging yang masih segar dan layak konsumsi. Daging sehat biasanya berwarna merah cerah, bertekstur kenyal, tidak berbau menyengat, dan tampak lembap merata.

Sebaliknya, daging yang mulai rusak memiliki warna coklat kehijauan, tekstur lembek dan berlendir, serta mengeluarkan bau amis atau tengik. Penampilannya pun tampak kusam dan tidak segar.

Hindari Kesalahan Umum Saat Mengolah Daging

Masih banyak orang yang percaya bahwa daging mentah harus dicuci sebelum dimasak. Padahal, mencuci daging justru dapat menyebarkan bakteri melalui cipratan air ke tangan, pakaian, maupun peralatan dapur lainnya.

Selain itu, kontaminasi silang juga harus diwaspadai. Gunakan talenan dan pisau yang berbeda antara daging mentah dan bahan makanan lain seperti sayur. Area dapur juga harus segera dibersihkan setelah digunakan mengolah daging.

Cara Menyimpan Daging yang Benar

Penyimpanan yang tepat sangat penting untuk menjaga kualitas daging. Daging sebaiknya dipotong menjadi bagian kecil agar mudah disimpan dan digunakan. Jangan membiarkan daging terlalu lama berada pada suhu ruangan. Idealnya, daging segera dimasukkan ke kulkas atau freezer dalam waktu 1-2 jam setelah diterima.

Untuk penyimpanan lebih lama, gunakan plastik vakum makanan atau bungkus rapat agar terhindar dari freezer burn. Suhu kulkas harus berada di bawah 5°C untuk menghambat pertumbuhan bakteri, sedangkan freezer idealnya bersuhu -18°C.

Daging yang sudah dicairkan juga tidak dianjurkan untuk dibekukan kembali karena dapat menurunkan kualitas dan meningkatkan risiko kontaminasi bakteri.

Memasak Daging dengan Aman

Agar aman dikonsumsi, daging harus dimasak hingga matang sempurna dengan suhu minimal 70°C.

Penggunaan alat masak yang bersih juga sangat penting untuk menjaga higienitas makanan.

Metode memasak seperti merebus dan mengukus sangat disarankan karena mampu menjaga kandungan nutrisi daging dengan baik. Memanggang juga menjadi pilihan yang cukup baik. Sementara itu, menggoreng sebaiknya dibatasi karena dapat meningkatkan kandungan lemak berlebih.

Penutup

Kesehatan keluarga dimulai dari dapur yang bersih dan pengolahan makanan yang tepat. Mulai dari memilih daging, menyimpan pada suhu yang sesuai, hingga memasaknya sampai matang sempurna, semuanya berperan penting dalam menjaga kualitas dan keamanan pangan.

Dengan pengelolaan yang baik, daging kurban tidak hanya lezat dan bergizi, tetapi juga memenuhi prinsip ASUH: Aman, Sehat, Utuh, dan Halal.

*Disampaikan dr. Barizatul Husniyah, atau akrab disapa dr. Riris, dari RSI Mabarrot MWC NU Bungah, saat pelatihan cara perawatan daging suci dan higienis, yang diadakan oleh MUI Kecamatan Bungah, Ahad, 10 Mei 2026 di Pondok Pesantren Nurul Qur’an Al Istiqomah, Desa Sukorejo, Kecamatan Bungah.