Search

MUI Dukun Ajak Umat Teladani 4 Pilar Hidup Tentram Ala Sayyidina Ali di Peringatan Nuzulul Qur’an

MUI GRESIK - Empat pilar hidup tentram ala Sayyidina Ali, yaitu khoufun minal jalil (takut kepada Allah), al-qona’atu bil qolil (merasa cukup), al-‘amalu bit-tanzil (mengamalkan Al-Qur’an), dan isti’dad liyauomir rahil (mempersiapkan kematian), menjadi pesan utama dalam peringatan Nuzulul Qur’an di Kecamatan Dukun.

Pesan tersebut disampaikan pada Senin (16/3/2026), dalam kegiatan Safari Ramadhan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dukun, yang digelar di Masjid Nurul Huda, Desa Lowayu, Senin malam. Suasana khidmat terasa dengan kehadiran berbagai elemen masyarakat.

Sejumlah tokoh hadir, di antaranya Ketua MUI Dukun KH. Hilal Mahfudz, perwakilan MWCNU KH. Ahmad Thoyyib Mas’udi, unsur Muhammadiyah, DMI, Forkopimcam, serta penceramah KH. Ahmad Hasyim Fahmi.

Ketua Takmir Masjid Nurul Huda, Siswanto, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran acara. Ia juga mengapresiasi peran Lembaga Dakwah Masjid yang dinilai berhasil mengorganisir kegiatan dengan baik.

Menurutnya, sinergi antar unsur umat menjadi kunci sukses terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia berharap kebersamaan ini terus terjaga dalam berbagai agenda keumatan ke depan.

Kepala Desa Lowayu, Amin Iskandar, memperkenalkan jajaran pengurus masjid yang baru. Ia memohon doa restu agar dapat menjalankan amanah dalam memakmurkan masjid.

Sementara itu, Sekretaris Kecamatan Dukun mengapresiasi kondusifitas wilayah selama Ramadhan. Ia juga mengumumkan program keringanan pajak sebagai bentuk perhatian pemerintah kepada masyarakat.

“Dalam rangka HUT Pemkab Gresik, pemerintah memberikan diskon PBB sebesar 25 persen serta pemutihan denda pajak daerah. Ini adalah kado bagi masyarakat,” ujarnya.

Ketua MUI Dukun KH. Hilal Mahfudz menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial. Ia berharap momentum tersebut menjadi sarana memperkuat silaturahmi dan keberkahan bersama.

“Semoga pertemuan ini menjadi wasilah dipanjangkannya umur dan diluaskannya rezeki kita semua,” tuturnya.

Puncak acara diisi mauidloh hasanah oleh KH. Ahmad Hasyim Fahmi yang mengajak jamaah merenungkan tujuan hidup dan menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah sebagai kunci ketenangan hati.

“Tanyakan pada diri kita, saat wafat nanti apakah orang lain merasa kehilangan atau justru lega. Jika ingin husnul khatimah, perbaikilah hubungan dengan Allah,” tegasnya.

Dalam ceramahnya, Kiai Hasyim Fahmi menjelaskan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Tholib pernah menyampaikan empat pilar agar hidup tentram, yaitu khoufun minal jalil menuntun manusia untuk selalu merasa diawasi Allah sehingga terhindar dari maksiat. Sikap ini menjadi fondasi utama dalam menjaga integritas diri.

Selanjutnya, al-qona’atu bil qolil mengajarkan sikap menerima dan ridha atas rezeki yang diberikan. Nilai ini dinilai mampu menghadirkan ketenangan batin di tengah dinamika kehidupan.

Adapun al-‘amalu bit-tanzil menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup sehari-hari. Bukan hanya dibaca, tetapi juga diamalkan dalam sikap dan perbuatan.

Sementara isti’dad liyauomir rahil mengingatkan setiap manusia untuk senantiasa mempersiapkan bekal menuju kematian. Kesadaran ini diyakini akan mendorong seseorang untuk memperbanyak amal kebaikan.

Kegiatan tersebut juga diisi dengan santunan kepada para lansia sebagai bentuk kepedulian sosial. Acara ditutup dengan doa bersama, memohon keberkahan dan keselamatan bagi seluruh masyarakat.