MUI Gresik - Nama Anas Hidayatulloh mendadak ramai diperbincangkan publik usai resmi mempersunting pendakwah muda populer, Ning Umi Laila. Pernikahan keduanya yang berlangsung sederhana pada Sabtu, 17 Januari 2026, tepat pada 28 Rajab 1447 Hijriah, menyita perhatian warganet karena jauh dari kesan glamor, namun sarat nilai kesahajaan.
Di balik sorotan tersebut, Anas ternyata merupakan putra asli Kabupaten Gresik. Ia berasal dari Desa Sidomukti, Kecamatan Kebomas, sebuah wilayah yang dikenal memiliki tradisi keagamaan kuat. Identitas sebagai wong Gresik inilah yang menjadi akar penting dalam perjalanan hidup dan karakter pribadinya.
Anas lahir dan tumbuh dalam lingkungan keluarga religius. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, pasangan Muslimin dan Nur. Sejak kecil, nilai-nilai keislaman telah menjadi bagian dari keseharian hidupnya, tertanam kuat melalui teladan langsung dari orang tua.
Sang ayah dikenal aktif sebagai ketua takmir masjid sekaligus kerap menjadi pembawa acara dalam berbagai kegiatan keagamaan di lingkungan sekitar. Sementara ibunya mengabdikan diri sebagai guru TPQ, mengajarkan Al-Qur’an dengan penuh kesabaran. Lingkungan rumah yang sederhana namun religius ini membentuk kepribadian Anas yang santun dan bersahaja.
Pendidikan dasar Anas ditempuh di MI Ma’arif Sidomukti, Gresik. Sejak usia dini, ketertarikannya pada dunia keilmuan Islam sudah tampak. Keinginan memperdalam agama kemudian membawanya mondok di Pondok Pesantren Sunan Kalijaga, Simo, Surabaya, sejak jenjang SMP hingga perguruan tinggi.
Di pesantren, Anas tidak hanya menekuni kitab-kitab keislaman, tetapi juga mengembangkan bakat seni religi. Ia dikenal memiliki suara merdu dan piawai dalam vokal banjari serta qira’ah. Kemampuannya tersebut membuatnya kerap dipercaya mengisi berbagai majelis shalawat dan acara keagamaan, khususnya di wilayah Surabaya dan sekitarnya.
Saat ini, Anas tercatat sebagai mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT). Di sela kesibukan kuliah, ia juga aktif mengabdi sebagai pengajar di pesantren, melanjutkan tradisi keilmuan yang telah ia jalani sejak mondok.
Tak berhenti di dunia pengajaran, Anas juga mulai menapaki jalur akademik dan literasi. Ia menulis sejumlah artikel ilmiah bertema tafsir Al-Qur’an yang dimuat di jurnal kampus. Kiprah ini menegaskan perannya sebagai ustadz muda yang tidak hanya berdakwah lisan, tetapi juga melalui tulisan.
Meski memiliki kapasitas keilmuan dan bakat yang menonjol, Anas dikenal sebagai pribadi pendiam, rendah hati, dan jauh dari pencitraan. Bahkan, pernikahannya dengan Ning Umi Laila pun berlangsung sederhana dan tidak banyak diketahui warga sekitar hingga hari pelaksanaan.
Kehadiran Anas Hidayatulloh, putra asli Gresik, sebagai pendamping Ning Umi Laila memberi inspirasi tersendiri bagi generasi muda. Sosoknya mencerminkan bahwa kesederhanaan, ketulusan, dan konsistensi dalam menuntut ilmu tetap relevan di tengah sorotan popularitas dunia dakwah masa kini.
