MUI Gresik - Pakaian bukan sekadar penutup tubuh, tetapi juga bagian dari nikmat Allah SWT yang patut disyukuri. Dalam Islam, setiap aktivitas sehari-hari dianjurkan untuk diawali dengan doa, termasuk saat memakai dan melepas pakaian. Hal ini bertujuan agar nikmat yang kita gunakan membawa kebaikan serta dijauhkan dari segala keburukan.
Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk tidak lalai dalam perkara yang tampak sederhana. Membaca basmalah dan doa ketika berpakaian adalah bentuk pengakuan bahwa segala nikmat berasal dari Allah SWT. Dengan adab ini, aktivitas harian berubah menjadi ibadah dan sarana mendekatkan diri kepada-Nya.
Sebelum mengenakan pakaian, dianjurkan membaca basmalah, minimal bismillah atau secara sempurna bismillâhirrahmânirrahîm. Rasulullah SAW juga mengajarkan doa berikut ketika mengenakan pakaian:
اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَ خَيْرِ مَا هُوَ لَهُ، وَ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهِ وَ شَرِّ مَا هُوَ لَهُ
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan pakaian ini dan kebaikan apa saja yang ada padanya. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pakaian ini dan keburukan apa saja yang ada padanya.”
Doa ini menunjukkan harapan agar pakaian yang dikenakan membawa manfaat, menjaga kehormatan, serta tidak menjadi sebab timbulnya kesombongan atau keburukan lainnya.
Ketika melepas pakaian, baik saat hendak mandi, tidur, atau keperluan lainnya, Rasulullah ﷺ menganjurkan membaca doa berikut:
بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ
Artinya: “Dengan nama Allah yang tiada Tuhan selain Dia.”
Doa ini berfungsi sebagai perlindungan dari gangguan setan serta menjaga adab seorang Muslim meskipun dalam keadaan sendiri.
Hadits Nabi tentang Adab Berpakaian
Adab berpakaian dalam Islam memiliki dasar yang kuat dari sunnah Rasulullah SAW. Dalam sebuah riwayat dari Sa’ad bin Malik bin Sinan (Abu Sa’id al-Khudri), disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW senantiasa membaca doa ketika mengenakan pakaian, baik berupa gamis, selendang, maupun imamah.
أن النبي صل الله عليه و سلم كان إذا لبس ثوبا سماع قميصا او رداء او عمامة يقول: اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهِ وَ خَيْرِ مَا هُوَ لَهُ، وَ أَعُوْذُبِكَ مِنْ شَرِّهِ وَ شَرِّ مَا هُوَ لَهُ
Artinya: “Sesungguhnya Nabi SAW ketika mengenakan pakaian, baik berupa gamis, selendang, atau imamah, beliau berdoa: Allahumma innii as’aluka khairii wa khairi ma huwa lahu, wa a’udzu bika min syarrihi wa khairi ma huwa lahu.”
Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW mengajarkan doa pujian kepada Allah sebagai bentuk syukur atas nikmat pakaian yang diberikan, seraya mengakui bahwa nikmat tersebut bukan semata-mata hasil usaha manusia.
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي كَسَانِي هٰذَا الثَّوْبَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ
Artinya: “Segala puji bagi Allah yang telah mengenakanku pakaian ini dan memberiku rezeki tanpa daya dan kekuatan dariku.”
Keutamaan doa tersebut ditegaskan dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Anas. Rasulullah SAW bersabda:
Sedangkan dalam kesempatan berbeda, redaksi hadits sebagaimana diriwayatkan Mu’adz bin Anas:
أن رسول الله صل الله عليه و سلم قال: من لبس ثوبا فقال: الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي كَسَانِي هٰذَا الثَوْبَ وَ رَزَقَنِيْهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَ لَا قُوَّةَ
Artinya: "Sesungguhnya Rasulullah Salallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Barangsiapa yang mengenakan pakaian, maka ucapkan: alhamdulillahilladzi kasaanii hadzatsaubi wa razaqanii min ghairi haulin minnii wa laa quwwatin. Maka, Allah mengampuni dosanya yang telah lalu."
Dari hadits-hadits tersebut dapat dipahami bahwa adab berpakaian dalam Islam bukan sekadar persoalan lahiriah, melainkan sarana untuk memperbanyak dzikir, mensyukuri nikmat Allah SWT, serta meraih keutamaan berupa ampunan dosa.
Rasulullah SAW senantiasa membiasakan doa dalam setiap aktivitas, termasuk ketika berpakaian. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa beliau tidak pernah meninggalkan doa saat mengenakan pakaian seperti gamis, selendang, atau sorban. Hal ini menunjukkan bahwa adab berpakaian memiliki kedudukan penting dalam ajaran Islam.
Demikian pembahasan singkat tentang doa memakai dan melepas pakaian. Semoga dengan mengamalkan adab sederhana ini, setiap aktivitas kita senantiasa bernilai ibadah dan mendatangkan keberkahan dari Allah SWT. Untuk mendapatkan artikel keislaman lainnya yang bermanfaat dan terpercaya, silakan kunjungi muigresik.or.id. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam setiap langkah kehidupan.
*Referensi:
1. Muhyiddin Abi Zakariya Yahya ibn Syaraf an-Nawawi, Al-Adzkâr, Surabaya: Penerbit Al-Hidayah.
2. Muhyiddin Dib, Lawāmi‘ al-Anwār; Syarh Kitab al-Adzkār, Beirut: Dār Ibn Katsīr, 2014, Juz 1.
