Search

Bacaan Doa Naik Kendaraan Lengkap dan Artinya

MUI Gresik - Kendaraan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Hampir setiap aktivitas harian, bekerja, belajar, berdagang, hingga ibadah, melibatkan sarana transportasi. Dalam Islam, setiap aktivitas dianjurkan untuk diawali dengan doa, termasuk ketika seseorang menaiki kendaraan.

Doa naik kendaraan bukan sekadar bacaan pelengkap, tetapi wujud kesadaran seorang Muslim bahwa keselamatan dan kemudahan perjalanan berasal dari Allah SWT. Para ulama, termasuk Imam An-Nawawi, menghimpun riwayat-riwayat shahih yang menjelaskan adab dan doa ketika berkendara agar perjalanan bernilai ibadah.

Penjelasan Doa Berkendaraan Menurut Imam An-Nawawi

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan bahwa doa naik kendaraan bersumber dari beberapa hadits shahih. Beliau mengutip riwayat dari Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i yang bersumber dari Sayyidina Ali ra. Riwayat tersebut menjelaskan tata cara Rasulullah SAW ketika menaiki kendaraan, dimulai dengan basmalah, pujian kepada Allah, hingga permohonan ampunan.

Penjelasan Imam An-Nawawi menunjukkan bahwa doa berkendaraan tidak hanya berisi permohonan keselamatan, tetapi juga pengakuan atas keterbatasan manusia. Kendaraan yang digunakan, apa pun bentuknya, adalah nikmat Allah yang ditundukkan bagi manusia, padahal tanpa pertolongan-Nya manusia tidak akan mampu menguasainya.

Imam An-Nawawi juga menegaskan bahwa membaca rangkaian doa ini merupakan amalan sunnah. Meski demikian, dalam praktik keseharian, sebagian umat Islam kerap meringkas bacaan doa sesuai kemampuan dan kondisi perjalanan.

Doa Naik Kendaraan yang Dianjurkan

Berdasarkan riwayat-riwayat yang dihimpun Imam An-Nawawi, orang yang naik kendaraan dianjurkan membaca doa dengan urutan sebagai berikut:

Pertama, membaca Bismillah.

Kedua, kemudian membaca doa berikut:

الحَمْدُ للهِ/سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

Alhamdulillāhilladzī/subhānalladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahū muqrinīna, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūna.

Artinya, “Segala puji bagi Allah/maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami. Padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sungguh, kami akan kembali kepada Tuhan kami.”

Ketiga, membaca Alhamdulillah (3 kali).

Keempat, membaca Allahu akbar (3 kali).

Kelima, kemudian membaca doa berikut:

سُبْحَانَكَ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى فَاغْفِرْ لِى فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

Subhānaka innī zhalamtu nafsī faghfirlī fa innahū lā yaghfiruz dzunūba illā anta.

Artinya, “Maha suci Engkau, sungguh aku menganiaya diriku, maka ampunilah aku. Sungguh, tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau.”

Imam An-Nawawi juga mencatat bahwa dalam praktiknya, banyak orang mencukupkan doa berkendaraan dengan membaca basmalah saja, atau basmalah disertai doa pada poin kedua, dan hal tersebut tetap dibolehkan.

Membaca doa naik kendaraan adalah bentuk adab sekaligus pengingat bahwa keselamatan perjalanan sepenuhnya berada dalam kuasa Allah SWT. Dengan membiasakan doa ini, seorang Muslim menanamkan rasa syukur, tawakal, dan kesadaran spiritual dalam aktivitas sehari-hari. Untuk mendapatkan kajian keislaman terpercaya, doa-doa pilihan, serta informasi keumatan lainnya, silakan mengunjungi situs resmi muigresik.or.id.

*Referensi dari Imam An-Nawawi, Al-Adzkar, Damaskus: Darul Mallah, 1971 M/1391 H, hlm. 188.