وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ
wa idz ta'adzdzana rabbukum la'in syakartum la'azîdannakum wa la'ing kafartum inna ‘adzâbî lasyadîd
(Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras".
Ada dua teman, satunya muallaf dan satunya lagi "muallaf". Satu orang muallaf adalah mantan aktivis pergerakan mahasiswa, aktor demonstran, setelah lulus meninggalkan agama lamanya kemudian memilih Islam. Satu orang lagi, aslinya memang sejak lahir beragama Islam, tetapi baru mengenal dan menjalankan ajaran Islam setelah usianya mendekati senja.
Menariknya, kedua karib itu berjiwa filantropis, paling senang bersodaqah. Di saat Allah swt memanggilnya untuk bersodaqah, keduanya bersegerakan diri untuk memenuhinya. Lebih menariknya lagi, tidak jarang, setiap momentum itu datang sering kali dompetnya sedang kosong. Namun dalam benak mereka, berurusan dengan Allah sangat terkait dengan iman, percaya bahwa sudah terlalu banyak nikmat yang diterimanya dan terlalu sedikit yang dikembalikan untuk mentaati perintah-Nya. Di tangan keduanya selalu ada jalan memenuhi panggilan Allah ini.
Si mantan aktivis paling sering diterjunkan oleh yayasan tempat pengabdiannya, ke daerah-daerah pelosok untuk berdakwah meneguhkan kebenaran beriman kepada Allah kepada warga. Tidak hanya biaya operasional yang ditanggung, tetapi juga ikut menitipkan bantuan untuk warga. Dalam kesibukan kerja dan dakwah itu suatu saat diingatkan bahwa waktunya untuk menyembelih hewan qurban tepat saat itu sedang tidak menyimpan uang.
’’Kalau hari ini saya tidak ikut berqurban maka harus menunggu tahun depan dan saya tidak yakin besok masih ada umur,’’ katanya.
’’Maka uang kontrakan rumah saya gunakan membeli seekor sapi. Urusan dengan pemilik rumah lebih mudah diseleseikan dibanding harus bernegoisasi dengan Allah agar diberi umur panjang sampai hari Raya Idul Qurban tahun depan,’’ tambahnya.
Kedua muallaf ini bercerita, gemar bersodaqoh ini tidak diniatkan agar dapat imbal rizki dari Allah, tidak tersirat serambut pun untuk mendapatkan pujian dari sesama.
‘’Saya mensyukuri bisa memanfaatkan kelebihan dan kekurangan dalam diri saya,’’ kata sang ‘muallaf’ yang juga seorang pebisnis.
Kekurangannya sebagai muslim yang baru mengenal Islam disyukuri dengan memanfaatkan waktu, pikiran dan sisa tenaga untuk mempelajari Islam dari kiai dan ulama. Ilmunya tentang Islam bertambah, jaringan persaudaraan meluas, orang yang membutuhkan ulurannya semakin banyak dan tanpa disadari semakin banyak bersodaqah, wadah rizkinya selalu ada saja isinya.
Firman Allah, ‘’Jika kamu bersyukur akan Aku tambah nikmat-Ku’’ dipahami bahwa makna ‘syukur’ itu tidak berhenti pada ungkapan ‘terima kasih’ kemudian duduk-duduk minum kopi, sebab jika ingin nikmat Allah dikaruniakan yang lebih banyak lagi maka nikmat yang dimiliki itu harus diberdayakan agar mendatangkan manfaat lebih banyak lagi. Makin banyak manfaat yang diberikan makin banyak nikmat yang ditambahkan. Makin banyak menyeleseikan satu persoalan akan didatangkan rentetan kemudahan.
Inilah wujud dari empowering, mendigdayakan rasa syukur atas nikmat Allah swt. Bersyukur bukanlah sikap berhenti pada titik menikmati, sebab menghidupkan sebagai mesin pengungkit agar hidup berkelanjutan adalah perintah Allah,
‘’Jika kamu selesei melakukan satu kebajikan, bekerjalah lagi untuk melakukan kebajikan yang lain,’’ (QS: Al-Insyiroh 7).
"Dan dalam menjalankan semuanya itu, hamba Allah selalu diberi pegangan agar selalu berharap pada ridlo ilahi". (QS: Al-insyiroh 8).
Bisa saja termasuk orang yang tidak bisa mensyukuri nikmat Allah; orang yang diberi nikmat mata tidak mau memanfatkannya untuk melihat secara jeli setiap potensi yang ada di depannya dan orang yang diberi telinga tetapi tidak digunakan secara maksimal untuk menyerap potensi dari informasi yang didengar dan orang yang sudah diberi nikmat berupa kemampuan berpikir tetapi didiamkannya membeku.
قُلْ هُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ
Katakanlah, “Dialah Zat yang menciptakanmu dan menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani. (Akan tetapi,) sedikit sekali kamu bersyukur.” (QS: Al-Mulk: 23).***
