مِنْ عَلَامَاتِ الِاعْتِمَادِ عَلَى الْعَمَلِ نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُودِ الزَّلَلِ
"Diantara tanda bersandar pada amal adalah berkurangnya harapan saat tergelincir."
===========
HIKMAH - Bayangkan, sejak kecil Anda dididik untuk beramal baik sebanyak-banyaknya. Sebab amal kita itulah yang akan menjadi satu-satunya teman kita saat kita sendirian di kuburan. Amal baik itu juga yang akan menjadi alasan bagi Tuhan untuk memasukkan kita ke dalam Surga. Amal baik dan saleh itu pula yang bisa menjadi pelebur (kaffarat) bagi amal-amal buruk yang kita lakukan.
'Ujug-ujug' ada seorang Ustadz atau Kiai yang menasihati Anda, bunyi nasihatnya kira-kira begini "Jangan mengandalkan amal, karena amalmu tidak punya peran apa-apa untuk kebaikanmu. Amalmu tidak bisa memasukkanmu ke dalam Surga, atau menghindarkanmu dari terperosok ke dalam Neraka. Kalau kamu berpegangan pada amalmu, mengandalkan amalmu itu sama artinya kamu menyirikan Allah SWT dengan amalmu."
Pertama kali Anda mendengar nasihat seperti itu, saya jamin kepala Anda langsung pening. Anda bisa saja langsung pergi dari hadapan Ustadz tersebut guna memperoleh puyer, bodrex atau obat sakit kepala lainnya. Bagaimana tidak pening, bangunan kepercayaan atau dengan istilah lain (believe system) yang selama ini terbangun di benak Anda seperti ada yang mem-bom, menggempur. Kepercayaan bahwa beramal baik sebanyak-banyaknya adalah jalan utama untuk hidup bahagia, di dunia ini dan akhirat kelak.
Lalu yang benar yang mana, mengandalkan kasih sayang Allah semata, atau menghimpun amal baik sebanyak mungkin untuk bekal di akhirat?
Kita break sebentar, untuk meregangkan syaraf. Akan segera pesan secangkir kopi. Setelah itu kita lanjutkan kembali.
Baiklah, kita lanjutkan obrolan kita. Tentang pertanyaan sampeyan tadi, mana yang benar antara mengandalkan amal atau semata-mata mengandalkan kasih sayang Tuhan, saya jawab saja bahwa keduanya sama-sama benar. Namun masing-masing punya kecocokannya tersendiri.
Eittt, mungkinkah ada dua jawaban yang sama-sama benar untuk satu pertanyaan? Sangat mungkin, mengapa tidak.
Kalam hikmah ini berisi informasi tentang ciri-ciri orang yang tauhidnya sudah sempurna. At least, orang itu sudah berada di level tauhid Af'al, ia meyakini di dalam hati bahwa pelaku bagi segala kejadian di dunia ini hanya Allah SWT.
Orang yang telah berada di maqam tauhid Af'al, sudah merasa bahwa dirinya tiadalah ada, tidak mampu berbuat apa-apa. Bahkan untuk sekedar menggerakkan jari tangannya pun ia tidak merasa bisa melakukannya. Sekedar mengangkat cangkir kopi untuk dia dekatkan ke mulutnya pun ia tidak bisa. Semuanya Allah SWT yang melakukannya.
Orang seperti ini saat lahirnya melakukan amal baik, batinnya tidak merasa bahwa ialah yang melakukannya, begitu juga bila dirinya terpeleset atau terjadi (zalal) sehingga secara lahiriyah ia melakukan kesalahan, ia pun tidak merasa melakukannya. Karena tidak merasa melakukannya itulah, sehingga harapannya terhadap kasih sayang Allah tidaklah berkurang sedikit pun. Sebab ia telah meniadakan diri sendiri dan menetapkan bahwa yang melakukan apa saja adalah Allah SWT. (Bersambung)
