KHUTBAH JUMAT - Setelah merayakan Hari Raya Iduladha dan menyaksikan syiar kurban ditegakkan, umat Islam diajak untuk tidak berhenti pada seremoni ibadah semata. Semangat pengorbanan, keikhlasan, dan ketakwaan yang diwariskan keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihis salam harus terus hidup dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun di tengah masyarakat.
Khutbah Jumat kali ini mengajak kita merenungkan kembali makna besar di balik ibadah kurban, yakni membangun sikap bijak yang lahir dari ketakwaan. Keteladanan Nabi Ibrahim, Siti Hajar, dan Nabi Ismail mengajarkan bahwa iman yang kuat akan melahirkan pribadi yang dialogis, penuh kasih sayang, serta mampu mengutamakan kemaslahatan bersama di tengah berbagai tantangan kehidupan modern.
Teks Khutbah
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ
اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Melalui mimbar yang mulia ini, al-faqir mengajak kita semua untuk terus memperbanyak syukur dan meningkatkan kualitas ketakwaan kita. Takwa yang sesungguhnya bukan sekadar ritualitas formal, melainkan sebuah kesadaran batin yang mendalam (consciousness of God) yang mengarahkan kita pada sikap bijak, adil, dan maslahat bagi sesama manusia.
Hari ini, mari kita merenungkan kembali potret agung keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Mengapa sejarah mereka begitu abadi? Mengapa setiap gerak-gerik keluarga ini, mulai dari kepasrahan Siti Hajar di lembah tandus hingga keikhlasan nabi Ismail di tempat penyembelihan, diabadikan menjadi ritual haji dan kurban yang kita jalani hingga saat ini
Jawabannya adalah karena keluarga Nabi Ibrahim adalah simbol dari ketakwaan yang melahirkan kebijaksanaan rasional dan kemanusiaan.
Jamaah shalat jumat yang berbahagia,
Dalam perspektif pemikiran Islam kontemporer dan kontekstual, esensi dari ajaran Nabi Ibrahim adalah al-Hanifiyyah al-Samhah, yakni sebuah sikap mental yang lurus, suci, namun penuh toleransi, keterbukaan, dan kelapangan dada. Sudut pandang ini sering menekankan bahwa takwa laksana "kompas moral". Ketika seseorang memiliki takwa yang benar, ia tidak akan gagap menghadapi ujian zaman, tidak akan bersikap ekstrem, dan selalu mampu mengambil keputusan yang bijaksana.
Mari kita bedah kebijaksanaan berbasis ketakwaan ini dari dialog antara Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, ketika perintah penyembelihan itu datang. Allah subhanahu wa ta’ala mengabadikannya dalam al-Qur'an surat As-Shaffat ayat 102 :
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
"Dia (Ibrahim) berkata: 'Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!' Ia (Ismail) menjawab: 'Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar'.." (QS. As-Shaffat: 102)
Perhatikan betapa indahnya dialog ini. Nabi Ibrahim adalah seorang ayah yang mendapatkan perintah mutlak dari Allah. Namun, ketakwaannya tidak membuatnya menjadi diktator di dalam rumah tangga. Beliau tidak langsung menyeret Ismail, melainkan mengajak anaknya berdialog: "Fanzhur madza taraa", maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu?
Dari dialog indah antara bapak dengan anak yang diabadikan dalam al-Qur’an ini, mengingatkan kita bahwa Islam sangat menghargai harkat kemanusiaan dan akal sehat. Ketakwaan Nabi Ibrahim tidak menegasikan kemanusiaan Ismail; justru ketakwaan itu memuliakan Ismail sebagai manusia yang berdaulat untuk memilih berserah diri secara sadar kepada Allah. Walhasil, Nabi Ismail pun menjawab dengan penuh kedewasaan dan kebijaksanaan yang berbasis tauhid yang kokoh.
Jamaah Shalat Jumat yang dirahmati Allah,
Bagaimana kita meneladani ini dalam kehidupan modern sekarang?
Pertama, membangun komunikasi keluarga yang dialogis. Banyak konflik keluarga atau sosial hari ini terjadi karena hilangnya tradisi tabayun dan dialog. Meneladani Nabi Ibrahim berarti memimpin keluarga dengan basis kasih sayang dan keterbukaan, bukan dengan pemaksaan kehendak, ego, ataupun otoritarianisme.
Kedua, menemukan kemaslahatan publik melalui takwa. Ketakwaan yang diajarkan keluarga Nabi Ibrahim adalah ketakwaan yang fungsional. Sikap bijak menuntut kita untuk selalu melihat kemaslahatan yang lebih besar. Pengorbanan ego pribadi demi perintah Allah dan kebaikan bersama adalah inti dari takwa.
Di era informasi yang penuh hoaks dan polarisasi seperti sekarang, ketakwaan harus menjadi rem batin agar kita tidak terjebak dalam permusuhan dan kebencian. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa orientasi utama dari segala bentuk ibadah dan kurban kita adalah ketakwaan, bukan aspek materialnya, sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur’an surat al-Hajj ayat 37 :
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang mencapainya." (QS. Al-Hajj: 37)
Jamaah shalat jumat rahimakumullah,
Sebagai penutup khutbah kali ini sekaligus sebagai perenungan kita hari ini, mari kita garis bawahi bahwa meneladani keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bukan berarti kita menyalin secara harfiah ujian fisik yang mereka alami. Meneladani mereka berarti menyalin semangat ketakwaan dan ketundukan mutlak yang rasional serta penuh kemanusiaan ke dalam konteks hidup kita hari ini.
Kisah dialog indah antara bapak dan anak yang diabadikan dalam al-Qur’an ini akan selalu mengingatkan kita bahwa takwa yang sejati tidak akan melahirkan sikap yang kaku, melainkan sikap yang hanif (lurus-mencari kebenaran) dan samhah (penuh kelapangan dada serta toleran). Ketakwaan seperti inilah yang melahirkan sikap bijak dan kebijaksanaan (wisdom).
Ketika kita memiliki ketakwaan berbasis kesadaran ketuhanan yang matang, kita akan menjadi pribadi yang dialogis di dalam rumah tangga, sebagaimana Nabi Ibrahim yang tidak memaksakan kehendak, melainkan mengajak putranya bertukar pikiran demi menjalankan perintah agama. Serta menjadi pribadi yang bijak di ruang publik, yang mampu mengorbankan ego, kepentingan kelompok, maupun fanatisme buta demi maslahat bersama dan tegaknya keadilan kemanusiaan.
Kebijaksanaan berbasis ketakwaan ini bukan semata untuk diri kita sendiri, melainkan warisan untuk anak cucu kita agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang tercerahkan, toleran, dan bermanfaat bagi peradaban. Akhirnya, semoga kita semua dianugerahi hati yang hanif, lurus dan bersih, serta keluarga yang kokoh iman dan bijak dalam melangkah.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Untuk mendapatkan lebih banyak khutbah inspiratif, artikel keislaman, dan panduan keagamaan yang menyejukkan, kunjungi situs resmi muigresik.or.id. Temukan berbagai konten bermanfaat yang dapat memperkuat iman dan memperkaya wawasan keislaman Anda.
