KHUTBAH IDUL ADHA - Idul Adha bukan sekadar tentang penyembelihan hewan qurban, tetapi momentum untuk membersihkan hati dari kesombongan, hawa nafsu, dan sifat-sifat buruk yang merusak kehidupan manusia. Di balik kerikil jamarat dan darah hewan qurban, terdapat pelajaran tentang pengorbanan, keikhlasan, serta upaya menjadi pribadi yang lebih bertakwa dan lebih peduli kepada sesama.
Khutbah ini mengajak kaum muslimin memahami makna mendalam dari ibadah haji dan qurban, bahwa yang paling utama bukanlah ritual lahiriahnya semata, melainkan perubahan hati dan perilaku. Idul Adha menjadi pengingat agar manusia tidak saling menyakiti, tidak menjadikan orang lain sebagai korban ego dan keserakahan, serta terus menjaga persaudaraan dan kemuliaan akhlak.
Teks Khutbah
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُx3 اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ - الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ لَناَ عِيْدَالأَضْحَى. وَأَمَرَعِباَدَهُ عَلَى الْبِرِّوَالتَّقْوَى. وَنَهاَهُمْ عَنِ التَّفَرُّقِ وَاتِّباَعِ الْهَوَى. أَشْهَدُ أنْ لآإلَهَ إِلاَّ اللهُ نِعْمَ الْوَكِيْلُ وَنِعْمَ الْمَوْلَى. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّم وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍنَبِيِّ الْهُدَى. وَ عَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ الْمُتَمَسِّكِيْنَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى.
أعُوْذُ بِاللّه مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم : لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَـٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْۗ وَبَشِّرِ ٱلۡمُحۡسِنِينَ. أَمَّا بَعْدُ : فَيَا عِبَادَ اللَّهِ أُصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمتَّقُوْن. ِٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ - (ال عمران : ١٠۲)
ALLAHU AKBAR 2X ALLAHU AKBAR WALILLAHIL HAMD
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Mari kita terus meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT. Jangan sampai usia bertambah, tetapi kedewasaan iman kita justru berkurang. Jangan sampai ibadah semakin ramai, tetapi hati semakin keras dan hubungan sosial semakin renggang. Semoga dengan semakin bertambah umur, kita semakin tunduk kepada Allah, semakin lembut kepada sesama, semakin ringan menolong orang lain, semakin takut berbuat zalim dan diberi keselamatan dunia hingga akhirat. Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.
ALLAHU AKBAR 2X ALLAHU AKBAR WALILLAHIL HAMD
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Kemarin, tanggal 9 Dzulhijjah, jutaan jamaah haji sedang berkumpul di Padang Arafah melaksanakan wukuf, sementara kaum muslimin di berbagai penjuru dunia menjalankan puasa Arafah. Menariknya, keduanya memiliki semangat yang sama; Wukuf berarti berhenti, dan Puasa berarti menahan diri. Seolah Allah sedang mengajarkan kepada kita: “Berhentilah sejenak dari kesibukan menilai kesalahan orang lain. Tahanlah diri dari kesombongan dan hawa nafsu. Lalu sibukkanlah diri untuk mengenali kekurangan diri sendiri.” Inilah yang disebut para ulama sebagai ‘arafa nafsah - mengenali diri sendiri.
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Imam Ja’far Ash-Shadiq pernah berkata: مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.” Senada dengan itu Imam Syafi’i juga pernah mengatakan: مَنْ عَرَفَ ضَعْفَ نَفْسِهِ نَالَ الِاسْتِقَامَةَ “Barang siapa mengetahui kelemahan dirinya, maka ia akan meraih istiqamah.” Orang yang mengenali dirinya akan lebih mudah memperbaiki hidupnya; Ia tidak sibuk merasa paling benar, tidak mudah menyalahkan orang lain. Karena ia sadar: dirinya sendiri masih penuh kekurangan.
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Orang yang wukuf di Arafah sebenarnya sedang belajar jujur kepada dirinya sendiri. Ia mengingat:
- dosa-dosa yang pernah dilakukan,
- kesombongan yang pernah dipelihara,
- iri dan dengki yang pernah dibiarkan tumbuh,
- shalat yang sering dilalaikan,
- nikmat Allah yang sering dilupakan.
Lalu seluruh keburukan itu disimbolkan dalam kerikil-kerikil yang dipungut dari Muzdalifah. Kemudian hari ini hingga lusa tanggal 13 Dzulhijjah, kerikil-krikil itu dilemparkan ke jamarat. Hakikatnya bukan sekadar melempar batu. Tetapi melempar: kesombongan, kemarahan, hawa nafsu, ego, dan sifat-sifat buruk dalam diri manusia. Kemudian mereka bertahallul, mencukur rambut sebagai simbol dibersihkannya hati dan pikiran.
ALLAHU AKBAR 2X ALLAHU AKBAR WALILLAHIL HAMD
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Hari ini kita pun melakukan hal yang sama, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Jika jamaah haji melempar kerikil, maka kita mengalirkan darah hewan kurban. Dan salah satu maknanya adalah: “semoga bersama mengalirnya darah hewan kurban, hilang pula sifat-sifat kebinatangan dari dalam hati kita”. Karena kurban bukan hanya soal daging.Bukan hanya soal sapi dan kambing. Tetapi soal: ego yang harus disembelih, keserakahan yang harus dipotong, dan kesombongan yang harus dihentikan.
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Al-Qur’an memperingatkan manusia agar menjauhi al-fahsya’ dan al-munkar. Al-Fahsya’ adalah perilaku keji yang menyerupai sifat hewan: tidak peduli aturan, suka menghalalkan segala cara, rakus, tidak tahu batas, hanya mengikuti syahwat dan kepentingan yang membuat derajat manusia bisa lebih rendah daripada hewan. Na’udzubillahi min dzalik.
Adapun Al-Munkar adalah perilaku yang lahir dari kesombongan. Seperti kesombongan iblis yang merasa lebih baik dari Nabi Adam, atau kesombongan Fir’aun yang merasa paling benar dan paling berkuasa.
Di zaman akhir ini bentuk kesombongan itu semakin muncul dalam banyak hal: merasa tidak butuh Allah, meninggalkan shalat, enggan berzakat, meremehkan orang lain, memutus silaturahim, merasa hidup cukup dengan jabatan, pekerjaan, dan uang. Padahal Rasulullah SAW bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji zarrah.” (HR. Muslim)
ALLAHU AKBAR 2X ALLAHU AKBAR WALILLAHIL HAMD
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Satu lagi pesan agung dari peristiwa penyembelihan Nabi Ismail yang diabadikan Allah SWT dalam Surah Ash-Shaffat: فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ “Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan Ismail…” Kemudian Allah berfirman: وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”
Yang Allah minta untuk disembelih pada akhirnya bukan manusia, tetapi hewan. Hal ini semacam deklarasi, bahwa jika kita ini beragama Tauhid, jika benar kita mengikuti Millah Nabi Ibrahim, dan benar-benar ingin dianggap sebagai Ummat Nabi Muhammad, maka:
- Jangan jadikan manusia sebagai korban ambisi kita.
- Jangan jadikan rakyat sebagai korban keserakahan.
- Jangan jadikan keluarga sebagai korban ego kita.
- Jangan jadikan sesama sebagai korban kedzaliman kita.
- Karena yang layak menjadi kurban adalah hewan, bukan manusia.
ALLAHU AKBAR 2X ALLAHU AKBAR WALILLAHIL HAMD
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Akhirnya mari kita berdoa… Ya Allah… Jadikan Idul Adha ini bukan hanya perayaan tahunan, tetapi sebagai momentum perubahan hati. Hilangkan dari diri kami nistanya Fakhsya’ Walmungkar sehingga kami bebas dari bahayanya: kesombongan, kerakusan, iri dengki, kebencian, dan segala sifat yang merusak persaudaraan. Jangan sampai ada orang lain yang terluka karena lisan kami. Jangan sampai ada manusia yang menjadi korban dari ego dan ketidakadilan kami.Bimbing kami agar tetap istiqamah di jalan-Mu.
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ، صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ، غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ، وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ.
اَللهُ أَكْبَرُx3 ٣ اَللهُ أَكْبَرُx اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَانَبِيَ بَعْدَهُ . اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ وَالَهُ. أَمَّا بَعْدُ : فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى قَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Untuk mendapatkan lebih banyak khutbah inspiratif, artikel keislaman, dan panduan keagamaan yang menyejukkan, kunjungi situs resmi muigresik.or.id. Temukan berbagai konten bermanfaat yang dapat memperkuat iman dan memperkaya wawasan keislaman Anda.
