KHUTBAH - Bulan suci Ramadan merupakan momentum istimewa bagi setiap muslim untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Di tengah berbagai amalan ibadah yang kita lakukan, Ramadan sejatinya mengajak umat Islam untuk tidak hanya menjalankan ritual semata, tetapi juga menumbuhkan kesadaran batin yang lebih dalam kepada Allah SWT. Dari sinilah lahir konsep takwa yang bukan sekadar simbol keagamaan, melainkan kesadaran spiritual yang membimbing manusia dalam setiap aspek kehidupannya.
Khutbah Jumat berjudul “Muhasabah dan Kesadaran Menuju Takwa Substansif” yang ditulis oleh Ali Sodikin, M.Pd.I, Komisi Dakwah, Penelitian dan Pengembangan Masyarakat MUI Kabupaten Gresik ini, mengajak kita merenungkan kembali makna takwa yang sesungguhnya. Melalui refleksi yang mendalam, khutbah ini mengingatkan bahwa ibadah Ramadan harus melahirkan perubahan sikap, kejujuran, kepedulian sosial, serta hubungan yang lebih kuat antara manusia dengan Allah dan sesama.
Teks Khutbah
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مَيْدَانًا لِلتَّسَابُقِ فِي الْخَيْرَاتِ، وَسَبِيلاً لِلنَّيْلِ مِنَ الْبَرَكَاتِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِينُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، خَاتَمُ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: "يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ"
Ma’asyiral muslimin jamaah jum’ah rahimakumullah
Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala, atas nikmat umur hingga kita berada di hari-hari mulia Ramadan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Di hari yang mulia ini, di tengah suasana bulan suci Ramadan yang penuh keberkahan, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kita bangun kesadaran diri melalui muhasabah (introspeksi diri). Jangan sampai Ramadan berlalu tanpa ada transformasi batin. Mari kita raih takwa substantif, yakni sebuah kesadaran ketuhanan yang membuat kita merasa selalu diawasi Allah, baik di dalam masjid, dalam kesendirian maupun saat berinteraksi dengan sesama manusia.
Jamaah jum’ah yang dirahmati Allah,
Mari kita bertanya pada diri kita masing-masing. Selama ini, apa yang terlintas di benak kita saat mendengar kata "Takwa"? Apakah bayangan tentang azab dan siksa neraka ataukah sekadar daftar panjang larangan dan perintah yang terasa membebani?
Perlu kita ketahui Bersama bahwa akar kata takwa adalah waqa, yang secara harfiah berarti memelihara atau menjaga. Dari sini bisa kita pahami bahwa konsep takwa bukanlah ketakutan seorang budak atas majikannya, melainkan ketakutan seorang kekasih yang khawatir mengecewakan yang dicintainya. Itulah yang disebut sebagai Kesadaran Ketuhanan.
Takwa substansif adalah kesadaran yang melekat. Ia tidak mengenal ruang dan waktu. Orang yang memiliki Kesadaran Ketuhanan (God-Consciousness) akan merasa bahwa Allah selalu hadir dalam setiap helai napasnya. Ia tidak berani berbuat curang dan korup bukan karena takut dipenjara, tapi karena ia sadar Allah sedang menatap hatinya. Ia tidak akan menyebar fitnah di media sosial bukan karena takut UU ITE, tapi karena ia merasa koneksinya dengan Sang Khalik akan terputus jika ia menyakiti sesama manusia.
Inilah inti takwa substansif, yakni menjaga batin agar selalu terhubung dengan sumber kebenaran. Jika kita sudah merasa selalu dipantau oleh Allah yang Maha Rahman, maka rasa takut kita berubah menjadi rasa segan yang penuh cinta. Kita menjaga diri kita, bukan karena takut disiksa, tapi karena kita malu jika hidup kita yang singkat ini tidak sejalan dengan kehendak-Nya yang Maha Suci.
Jamah jumah yang dirahmati Allah
Mari kita merenung sejenak. Seringkali kita terjebak dalam apa yang disebut sebagai "fetisisme agama" yakni sebuah keadaan di mana kita memuja simbol dan bentuk lahiriah saja, namun kehilangan ruh di dalamnya. Kita begitu hati-hati menjaga agar tidak ada setetes air pun yang melewati tenggorokan, namun kita membiarkan aliran fitnah, ghibah, dan kebencian mengalir deras dari lisan kita. Inilah yang disebut sebagai paradoks kesalehan ritual yang terputus dari kesalehan sosial.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Nasa’i, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ
"Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar, dan betapa banyak orang yang salat malam namun tidak mendapatkan apa-apa kecuali begadang." (HR. An-Nasa'i)
Hadis ini adalah kritik tajam bagi kita yang gemar beragama secara formalistik. Takwa substansif menuntut kita untuk menyadari bahwa Allah, Dzat yang Maha Kaya, sama sekali tidak membutuhkan rasa lapar kita. Allah tidak menjadi lebih mulia karena puasa kita, dan tidak menjadi hina karena maksiat kita. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an mengenai hakikat kurban yang juga berlaku bagi hakikat puasa:
لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya.." (QS. Al-Hajj: 37)
Maka, indikator keberhasilan Ramadan kita bukanlah hanya sebatas pada seberapa sering kita khatam Al-Qur'an secara lisan, melainkan seberapa jauh nilai-nilai Al-Qur'an itu mengubah sikap hidup kita. Apakah setelah ini kita menjadi lebih manusiawi? Apakah kita menjadi lebih jujur dalam berbisnis? Apakah kita lebih peduli pada sesama?
Jika puasa kita tidak melahirkan pribadi yang jujur, welas asih dan memiliki kepedulian kepada sesama, maka kita sebenarnya belum berpuasa. Kita hanya masih sebatas melakukan formalisme agama. Maka dari itu, mari kita jadikan sisa Ramadan ini sebagai ajang untuk mendewasakan ketaqwaan kita, dari ke-beragama-an yang kekanak-kanakan yang hanya takut hukuman, menuju ketaqwaan yang dewasa yang penuh cinta dan tanggung jawab moral.
Ma’asyiral muslimin jamaah jum’ah yang dimuliakan Allah
Sebagai penutup, mari kita evaluasi takwa kita di bulan Ramadan ini. Apakah ia hanya membuat kita merasa "lebih suci" dari orang lain karena rajin ke masjid? Ataukah ia membuat kita menjadi lebih rendah hati (tawadhu), lebih welas asih, serta memiliki kepekaan naluri dan kepedulian sosial?
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Bagi para khatib, takmir masjid, maupun jamaah yang ingin membaca dan menggunakan teks khutbah ini secara lengkap, silakan kunjungi website resmi MUI Gresik di muigresik.or.id.
