Search

Khutbah Jumat: Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Mencegah Kemungkaran dimulai dari Lingkungan Terdekat

KHUTBAH JUMAT - Ini merupakan refleksi atas kasus pengungkapan narkoba dalam jumlah besar dan penertiban warung remang-remang di Kabupaten Gresik. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman kemungkaran dapat hadir di sekitar lingkungan tempat kita tinggal, sehingga membutuhkan kepedulian bersama untuk menjaga keluarga dan masyarakat.

Melalui tema Amar Ma’ruf Nahi Munkar, Mencegah Kemungkaran Dimulai dari Lingkungan Terdekat, jamaah diajak memahami bahwa amar makruf nahi mungkar harus ditegakkan dengan hikmah, kesadaran hukum, dan keteladanan. Ikhtiar tersebut dimulai dari keluarga, kepedulian antarwarga, serta sinergi dengan aparat dalam mencegah berbagai penyakit sosial yang mengancam masa depan generasi.

Teks Khutbah

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الكِتَابِ الكَرِيْمِ

‏يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَوَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Ma’asyiral muslimin jamaah shalat jum’ah rahimakumullah,

Pertama-tama, marilah kita panjatkan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala, atas segala nikmat dan karunia-Nya. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswatun hasanah kita, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam.

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wata’ala, takwa dalam pengertian yang substantif, bukan sekadar kepatuhan ritual formal, melainkan kesadaran moral yang hidup (taqwa as-syu'ur), yang memancar dalam sikap peduli terhadap lingkungan sosial di sekitar kita.

Jamaah shalat jumah yang dimuliakan Allah,

Akhir-akhir ini, masyarakat Gresik dikejutkan oleh terungkapnya kasus gudang penyimpanan narkoba serta penertiban warung remang-remang. Peristiwa ini memberikan sinyal kuat bahwa kemungkaran tidak lagi beroperasi di tempat yang jauh atau tersembunyi, melainkan telah merembet mendekati benteng terdepan kehidupan kita: rumah, gang, dan lingkungan RT/RW tempat anak-anak kita tumbuh.

Dalam Islam ada ajaran yang mengintegrasikan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial. Perihal kemungkaran yang terjadi di tengah masyarakat tidak boleh disikapi secara ekstrem.

Pertama dengan bersikap apatisme dan masa bodoh karena merasa aman selama rumah sendiri tidak tersentuh, padahal racun sosial sedang mengintai di luar jendela.

Kedua dengan cara main hakim sendiri, yakni tindakan anarkis atas nama amar makruf nahi mungkar yang justru melahirkan kemungkaran baru dan merusak keadaban publik.

Islam mengajarkan bahwa amar makruf nahi mungkar harus ditegakkan dengan asas keadaban (civility), hikmah, dan pembagian peran yang berkeadilan dalam masyarakat.

Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman dalam Surah Ali 'Imran ayat 104:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Dan hendaklah ada di antara kamu sekelompok orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali 'Imran: 104).

Selanjutnya ditegaskan pula bahwa dalam memperjuangkan prinsip ini, Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam memberikan petunjuk taktis yang sangat terukur dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

"Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya (kekuasaan/otoritas). Jika tidak mampu, maka dengan lisannya (edukasi/sosialisasi/dakwah). Dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya (sikap menolak dan tidak ridha), dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim)

Ma’asyiral muslimin jamaah shalat jum’ah yang dirahmati Allah,

Lantas bagaimana kita merealisasikan hadits di atas dalam konteks kehidupan bermasyarakat saat ini?

Pertama, bi yadihi, ubah dengan tangan. Dalam arti mengubah melalui otoritas dan sistem. Di dalam negara hukum dan masyarakat modern, penerapan bi yadihi (dengan tangan) bagi warga masyarakat bukanlah dengan kekerasan fisik, melainkan melalui penguatan sistem sosial dan kolaborasi dengan aparat penegak hukum. Ketika menemukan indikasi gudang narkoba atau warung remang-remang, kewajiban kita adalah menggalang komunikasi, melapor secara resmi, dan mengawal aparat penegak hukum agar bertindak tegas.

Kedua, bi lisanihi, ubah dengan lisan. Dalam arti mengubah melalui edukasi dan pencerahan. Maksud mengubah secara lisan dalam konteks ini adalah pencerahan publik (enlightenment). Seperti mendidik keluarga, mengaktifkan remaja masjid, dan membangun dialog warga di poskamling atau majelis taklim tentang bahaya narkoba dan penyakit sosial di masyarakat.

Jamaah shalat jumah yang Dimuliakan Allah,

Dalam Surah At-Tahrim ayat 6 Allah Subhanahu wata’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini mengingatkan kita semua akan pentingnya tanggung jawab dalam menjaga dan melindungi keluarga kita dari penyakit-penyakit sosial yang selalu mengancam setiap saat. Terungkapnya kasus gudang penyimpanan narkoba dan warung remang-remang yang masih tetap beroperasi karena tidak adanya kontrol sosial (social control).

Hal ini ini terjadi karena kita sering kali kurang peduli siapa tetangga baru kita, apa kegiatan di bangunan tertutup di ujung gang, atau ke mana anak-anak kita pergi di malam hari. Gerakan mencegah kemungkaran ini tidak selalu berarti melakukan aksi besar di jalanan, melainkan dimulai dari komunikasi terbuka dalam rumah dengan memastikan anak-anak merasa nyaman bercerita kepada orang tuanya.

Di samping itu juga dengan membangun kepedulian antar-tetangga, dengan cara menghidupkan kembali tradisi saling sapa, kepekaan lingkungan, dan siskamling di tingkat RT/RW. Selain itu, menolak kepentingan pragmatis, yakni tidak mudah tergiur menyewakan lahan atau bangunan kepada pihak-pihak yang tidak jelas peruntukannya hanya demi keuntungan finansial sesaat.

Jamaah shalat jumat yang berbahagia,

Sebagai penutup, mari kita jadikan peristiwa di daerah kita ini sebagai momentum introspeksi (muhasabah). Jangan biarkan lingkungan kita menjadi lahan subur bagi kerusakan moral dan masa depan generasi muda. Mari kita tegakkan amar makruf nahi mungkar dengan hikmah, kesadaran hukum, dan keteladanan nyata dari keluarga kita sendiri.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Untuk mendapatkan lebih banyak khutbah inspiratif, artikel keislaman, dan panduan keagamaan yang menyejukkan, kunjungi situs resmi muigresik.or.id. Temukan berbagai konten bermanfaat yang dapat memperkuat iman dan memperkaya wawasan keislaman Anda.

Klik disini untuk mendownload khutbah dalam bentuk PDF.