OPINI - Tidak sedikit di antara kita yang rajin beribadah, tetapi dalam kehidupan sehari-hari masih sering menjumpai persoalan kejujuran, kepedulian, dan kebersamaan. Shalat ditegakkan, masjid dan musala hidup, namun dalam urusan sosial di lingkungan kerja, pasar, jalan raya, bahkan di media sosial kita masih mudah berselisih dan kurang saling memahami. Realitas ini tidak untuk disesali, melainkan untuk direnungkan bersama. Peringatan Isra Mi‘raj menghadirkan pertanyaan penting: apakah ibadah yang kita jalani sudah benar-benar membentuk kesalehan sosial?
Pertanyaan ini terasa dekat dengan kehidupan masyarakat Gresik. Di tengah kesibukan sebagai daerah industri, perdagangan, dan pesantren, kita menyaksikan semangat beragama yang kuat. Namun, tantangan hidup juga semakin nyata. Tekanan ekonomi, persaingan kerja, dan arus informasi yang cepat sering kali membuat kita mudah lelah, mudah marah, dan kurang sabar. Dalam situasi seperti ini, ibadah seharusnya menjadi sumber ketenangan dan penuntun sikap, bukan sekadar rutinitas yang dijalani tanpa makna.
Isra Mi‘raj mengajarkan pesan yang sangat sederhana, tetapi dalam. Dari peristiwa agung itu, Allah SWT menghadiahkan shalat kepada umat Islam. Shalat bukan sekadar kewajiban, melainkan sarana mendidik diri. Lima waktu sehari semalam, kita diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk urusan dunia, menata hati, dan mengingat kembali nilai-nilai kebaikan. Jika shalat dijalani dengan kesadaran seperti ini, ia akan membentuk pribadi yang lebih tenang, lebih jujur, dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar.
Dalam shalat, kita belajar banyak hal yang sering luput dari perhatian. Kita belajar disiplin waktu, menjaga kebersihan, dan tertib dalam kebersamaan. Dalam shalat berjamaah, semua berdiri sejajar tanpa melihat latar belakang. Pesan ini sangat relevan bagi kehidupan bermasyarakat: bahwa perbedaan tidak seharusnya melahirkan jarak, apalagi perpecahan. Justru dari ibadah, kita diajari untuk saling menghormati dan menjaga harmoni.
Pendidikan ibadah karena itu tidak cukup berhenti pada benar atau salahnya gerakan dan bacaan. Ibadah perlu ditanamkan sebagai proses pembentukan akhlak. Anak-anak kita perlu diajak memahami bahwa shalat bukan hanya kewajiban, tetapi juga latihan menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Ibadah yang dipahami dengan cara ini akan terasa hidup dan membekas dalam perilaku sehari-hari, baik di rumah, di tempat kerja, maupun di tengah masyarakat.
Isra Mi‘raj juga mengingatkan bahwa pengalaman spiritual tidak boleh menjauhkan seseorang dari realitas sosial. Nabi Muhammad SAW, setelah mengalami perjalanan spiritual yang luar biasa, justru kembali ke tengah masyarakat dengan membawa amanah. Ini pesan penting bagi kita semua: semakin dekat seseorang kepada Allah SWT, seharusnya semakin besar kepeduliannya terhadap sesama, semakin ringan tangannya untuk menolong, dan semakin bijak sikapnya dalam menghadapi perbedaan.
Karena itu, peringatan Isra Mi‘raj di Gresik hendaknya menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman ibadah yang membumi. Keluarga, sekolah, pesantren, dan majelis taklim memiliki peran penting untuk menanamkan bahwa ibadah adalah sumber nilai kebaikan sosial. Dari ibadah yang baik, diharapkan lahir masyarakat yang rukun, saling menghargai, dan menjaga tradisi kebersamaan yang selama ini menjadi kekuatan daerah kita.
Pada akhirnya, ibadah yang sejati adalah ibadah yang menenangkan hati dan menyejukkan lingkungan. Ibadah yang membuat seseorang semakin rendah hati, semakin peduli, dan semakin bertanggung jawab. Inilah kesalehan sosial yang kita harapkan tumbuh di tengah masyarakat, dan inilah hikmah besar yang dapat kita petik dari peristiwa Isra Mi‘raj.
Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita untuk mengamalkan ibadah dengan penuh kesadaran, menjadikannya sumber akhlak mulia dan kepedulian sosial, serta menghadirkan kedamaian dan keberkahan bagi masyarakat Gresik yang kita cintai. Amiin.
