Simbiosis Gresik Kota Santri-Kota Industri: Mutualisme atau Parasitisme? (Part 1)
CATATAN KHUSUS - Diskusi warung kopian tentang Gresik dan tantangannya mulai bermunculan lagi, selain komunitas Gang Sebelah, Yayasan Mataseger, Kelompok Jurnalis ‘Local Media Network’ (LMN) beberapa waktu lalu mendiskusikan ‘Red Zone Gresik, Industrialisasi Menggeser Kota Santri’ di D’Jiwana Coffe, Dukun. Sebuah diskusi yang mengingatkan saya pada 1999 di Kafe Te’A, tempat cangkruk’an para akademisi, politisi, budayawan, seniman dan wartawan untuk membicarakan Gresik. Hasil diskusi LMN ditulis dalam 3 tulisan.
Gresik Kota Santri? Belum ditemukan dokumen negara yang mendeklarasikan Gresik Kota Santri, begitu pula dengan julukan Gresik Kota Industri. Dimungkinkan karena terlalu cinta dan bangganya terhadap Gresik yang kaya dengan makam waliyullah, kaya dengan lembaga pendidikan madrasah dan pondok pesantren, dan kaya dengan tradisi santri, sehingga dibrandinglah Gresik sebagai Kota Santri. Begitu juga dengan sebutan Gresik Kota Industri yang lebih disebabkan banyaknya industri yang sampai tahun 2025 jumlah perusahaan industri manufaktur skala menengah dan besar di Gresik mencapai 685 perusahaan (Rilis BPS 31 Desember 2025).
Pada tahun 2024 total dana yang diinvestasikan di Gresik mencapai Rp 39,9 T yang ditanam di sektor industri; pertambangan, mineral non logam, pabrikasi, perumahan dan menyerap sebanyak 24 ribu tenaga kerja (laman Dinas Penanaman Modal dan Terpadu Satu Pintu tertanggal 03/10/2025). Capaian investasi yang tinggi ini Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa secara berurutan pada tahun 2023 dan 2024 memberi Investment Award untuk Pemkab Gresik.
Santri dan industri di Gresik terkait erat dengan sejarah masa lalu, masa kini dan masa yang akan datang. Santri dan Gresik telah bergulat dalam kehidupan masyarakat yang membentuk budaya dan tradisi yang saling mempengaruhi. Pertanyaannya, apakah hubungan saling mempengaruhi itu mendatangkan saling memberi manfaat (simbiosis mutualisme) atau merugikan satu pihak dan menguntungkan pihak lain (simbisiosis parasitisme).
Mengurai hubungan antara santri dan industri di Gresik dapat ditinjau dari sisi geografis, demografi, sosiologis, kesantrian dan kesejarahan. Dari pelbagai tinjauan tersebut, industrialisasi di Gresik dibagi menjadi tiga kluster; Pertama, industri yang berkembang di Gresik Selatan berpusat di kecamatan; Driyorejo, Wringinanom, Kedamean, Cerme dan Menganti. Kedua, industri yang berkembang di Gresik Kota yang meliputi dua kecamatan; Gresik dan Kebomas. Ketiga, industri yang akan dan sedang berkembang di Gresik Utara yang menyasar kecamatan; Manyar, Bungah, Sidayu, Ujung Pangkah, Panceng dan Dukun. Masing-masing dari tiga wilayah tersebut memiliki latar belakang, persoalan, tantangan dan ciri khas sendiri-sendiri.
Industrialisasi di Gresik Selatan menjadi wilayah luberan dari perluasan industrialisasi Surabaya. Pertumbuhannya sangat pesat, seperti tumbu nemu tutup. Mengapa? Karena kabupaten; Surabaya, Gresik Selatan, Mojokerto dan Sidoarjo secara geografis letaknya berdampingan yang sekaligus berfungsi sebagai buffer zone, daerah penyangga Surabaya. Perpres Nomor 80 Tahun 2019 memasukkannya sebagai Gerbangkertosusila (Gresik–Bangkalan–Mojokerto–Surabaya–Sidoarjo–Lamongan). Dari sisi budaya, wilayah penyangga ini (Gresik Selatan, Mojokerto, Surabaya dan beberapa daerah di tapal kuda) terjaring dalam budaya Arek atau budaya yang dalam keseharian menggunakan bahasa Arek, yang egaliter dan terbuka. Pemerhati budaya sering menyebut wilayah Gresik Selatan ini dengan kawasan ‘Kebudayaan Kendeng’ (Setiawan Budi, Kebudayaan Kendeng).
Dalam kajian sejarah, Gresik Selatan, Surabaya, Sidoarjo dan Mojokerto termasuk daerah lintasan kali Brantas yang dianggap wilayah strategis bagi Kerajaan Mojopahit, (dicatat dalam prasasti Canggu yang dibuat Raja Prabu Hayam Wuruk pada 7 Juli 1358 M). Dan Wringinanom sendiri dinyatakan sebagai wilayah purba, ketika pada tahun 1936, tepatnya di Desa Kepuhklagen, ditemukan fosil Pithecanthropus modjokertensis. Umur fosil itu diperkirakan mendekati dua juta tahun.
Magnit Gresik Selatan sebagai kawasan industri berhasil menarik ribuan pendatang. Mereka membentuk masyarakat baru yang melahirkan budaya baru sehingga semakin memperkaya budaya yang ada, karena sebelumnya di sana telah terjadi akulturasi budaya antara Jawa-Islam dan budaya Hindu-Madura. Umat Hindu yang datang ke Menganti sekitar tahun 1910 telah mewarnai kehidupan umat beragama, beberapa pura sudah dibangun di di Menganti, Kedamean dan Wringinanom. Umat kristiani pun berdatangan seiring dengan maraknya industrialisasi yang membutuhkan tenaga kerja dari luar daerah. Saat ini beberapa geraja juga didirikan di Menganti, Kedamean dan Driyorejo.
Gelombang pendatang yang jumlahnya sangat besar membutuhkan rumah sebagai tempat tinggal, tidak sedikit tanah warga yang beralihfungsi selain untuk kawasan industri juga perumahan yang diperuntukkan masarakat mulai kelas menengah ke bawah sampai atas. Beberapa politisi memanfaatkannya ledakan demografi ini sebagai elektoral yang potensial untuk mendulang suara dalam setiap pemilihan; presiden, kepala daerah, anggota dewan maupun kepala desa.
Modernisasi di Gresik Selatan mendatangkan perubahan dalam kehidupan sosial masyarakat baik yang menunjukkan kebaikan maupun keburukan. Kasus dekadensi moral, tawuran, kriminalitas bermunculan. Peredaran narkoba di Gresik Selatan menjadi fokus kegiatan BNNK Gresik, bahkan pada pertengahan tahun 2026, BNN, Bea Cukai dan Polda Jatim berhasil membongkar pengiriman 3,37 ton narkoba jenis cannabis buds di kawasan pergudangan, Cerme.
Issu pencemaran lingkungan terhadap air sungai akibat limbah pabrik di Wringinanom diungkap LSM Ecoton, begitu pula konflik perebutan tanah antara petani Wedoroanom, Driyorejo dengan instansi TNI terjadi pada tahun 1996. Sebagai daerah terbuka, konflik antar umat beragama mulai sensi dan beberapa kali bergejolak di Menganti terkait pendirian gereja dan di Cerme terkait dengan kesalahpahaman antar tetangga beda agama.
Serbuan industri selain memberi peluang bagi pendatang dan warga untuk bekerja di banyak sektor industri, juga berperan mendatangkan multiplier effect yang cukup besar bagi warga untuk memanfaatkannya sebagai peluang usaha dengan mendirikan usaha kuliner, perdagangan, penyediaan kos-kosan dan lainnya. Pasar-pasar desa pun tumbuh pesat, seperti di Balongpanggang, Benjeng, Cerme, Menganti dan Driyorejo, namun tidak demikian dengan pasar desa di Wringinanom yang sulit tumbuh sehat. Sebagian besar warga Wringinanom memenuhi kebutuhan sehari-harinya berbelanja ke kabupaten tetangga, seperti di pasar Perning, Mojokerto begitu pula dengan urusan perbankan.
Kecerdasan warga Gresik Selatan membaca potensi membuatnya menjadi wirausaha tangguh. Usaha mandiri (UMKM) berkembang pesat, seperti di Menganti yang sampai saat ini menjadi penghasil kecambah dan ayam potong terbesar untuk memenuhi kebutuhan pasar Surabaya dan sekitarnya. Di Kedamean menjadi pusat pertanian bawang merah, tembakau, empon-empon terutama kunir dan juga menjadi daerah pengelola sirip ikan hiu yang berorientasi ekspor. Daerah Benjeng dan Balongpanggang mendayagunakan sawahnya untuk tanaman kangkung yang hasilnya dijual untuk memenuhi kebetuhan pasar ekspor. Warga Wringinanom, Kedamean dan Menganti pernah mengembangkan kerajinan kreatif, yaitu pembuatan mebeleir berbahan baku rotan dan gedebok atau kulit pohon pisang yang dikeringkan yang banyak diminati konsumen dari Eropa dan Amerika, tetapi saat ini sudah banyak yang tutup.
Dengan fakta historis, sosiologis, demografi dan geografi tersebut di atas, kaum santri di Gresik Selatan memikul beban persoalan yang kompleks. Bisa saja, itu semua dikatagorikan ancaman bagi masa depan santri, tetapi memasukkannya dalam kerangka berpikir sebagai tantangan dakwah rahmatan lilalamin tentu lebih bijak. Tantangan dakwahnya, selain harus bergumul dengan pengaruh budaya multikultural, santri juga dituntut menjaga dampak buruk dari modernisasi dengan cara memperkuat dakwah dan pengajaran melalui usaha-usaha pendirian lembaga pendidikan dan pesantren.
Seperti yang dilakukan Almaghfurlah Abah Toyib, pendiri Ponpes Mubarok, di Wringinanom. Santrinya diajari ilmu agama juga beragam ketrampilan hidup dan tidak sedikit yang dibangunkan masjid dan musalla agar dijadikan tempat berdakwah, pendidikan dan pendampingan masyarakat. Semangat serupa ditanamkan para pendiri LP Sunan Giri (1965) di Menganti yang disusul Ponpes Darul Ihsan, (1991) dan Ponpes Al-Azhar (2011). Di Kedamean juga didirikan Ponpes Darussalaman, Katimoho, Ponpes Al-Amin Darussalam (2008) dan di Driyorejo berdiri LP Ma’arif NU Randegansari (1960), Ponpes Al-Furqon (1993) serta lembaga pendidikan vokasi.
Meski lembaga pendidikan formal dan nonformal, sebagaian besar berdiri setelah tahun 1960-an, atau seiring dengan hadirnya era industrialisasi pada tahun 1970-an, generasi yang nyantri di luar kota maupun dari wilayah Gresik Selatan sendiri saat ini telah mampu melahirkan generasi baru yang, meminjam istilah Gus Mus (K.H. Mustofa Bisri), memiliki kesalehan ritual dan kesalehan sosial. Seperti, tampilnya Dr. KH. Mulyadi menjadi satu-satunya warga Gresik Selatan yang didapuk menjadi Ketua PCNU Gresik periode 2021-2026 dan H Abdul Qodir menjadi Ketua DPC PKB Gresik sekaligus menjadi Ketua DPRD Gresik periode yang lalu. Menariknya, sejak tahun ini (2026), empat komisi mulai dari komisi satu sampai empat di DPRD Gresik semuanya dikendalikan politisi dari wilayah Selatan. Dengan tampilnya santri yang saleh sosial dan ritual ini, jalan semakin lempeng untuk menanamkan moral keagamaan di tengah serbuan investasi modal.
Adanya lembaga pendidikan Islam dan pondok pesantren di Gresik Selatan ini, tidak hanya menyiapkan santri yang bisa berkiprah di dunia industri tetapi juga ikut menyantrikan kaum industriawan. Da’i-da’i aktif mendampingi pekerja di masjid-masjid perusahaan maupun di lingkungan perumahan yang tersebar di wilayah Selatan. Pembinaan remaja lewat masjid dan kegiatan sosial ekonomi terus digalakkan untuk membangun akar santri yang kokoh di tengah masyarakat industri yang bergerak semakin masif di wilayah Gresik Selatan.***
