Search

Umat Bukan Penonton Peradaban

OPINI - Ada masa ketika masyarakat lebih mudah menemukan alasan untuk mengeluh daripada alasan untuk berharap. Harga kebutuhan hidup menjadi bahan pembicaraan, ketidakadilan membuat sebagian orang kecewa, sementara berbagai berita tentang konflik, korupsi, kekerasan dan kegaduhan di ruang publik membuat kita bertanya: ke mana arah bangsa ini?

Pertanyaan itu sah. Kritik juga perlu. Tetapi ada satu hal yang jangan sampai hilang dari kehidupan umat: optimisme.

Optimisme bukan berarti menutup mata terhadap persoalan. Optimisme justru lahir karena kita melihat persoalan dengan mata terbuka, lalu percaya bahwa keadaan masih bisa diperbaiki. Islam tidak mendidik umat menjadi manusia yang menyerah kepada keadaan. Al-Qur'an mengingatkan, “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” Bahkan ketika menghadapi kesulitan, seorang mukmin diperintahkan untuk tetap bekerja, berikhtiar dan memperbaiki keadaan.

Karena itu, menyongsong Indonesia yang berkeadaban tidak cukup hanya dengan berharap kepada pemerintah, tokoh politik atau lembaga negara. Bangsa ini terlalu besar jika masa depannya hanya diserahkan kepada mereka yang berada di pusat kekuasaan.

Selama ini umat sering kali ditempatkan sebagai objek: objek kebijakan, objek pembangunan, bahkan objek perebutan dukungan ketika momentum politik tiba. Padahal umat bukan sekadar kumpulan orang yang menunggu kebijakan dari atas. Umat adalah kekuatan sosial yang hidup sampai ke akar rumput. Di masjid, pesantren, madrasah, majelis taklim, lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan dan berbagai komunitas sosial, terdapat energi besar yang sebenarnya dapat ikut menentukan wajah Indonesia.

Karena itu, umat perlu bergerak dari sekadar menjadi penonton ke pelaku. Bukan berarti umat harus masuk ke dalam politik praktis. Justru kekuatan umat akan lebih bermakna ketika mampu menjaga jarak yang sehat dari kekuasaan sekaligus tetap kritis terhadap kekuasaan. Di situlah civil society menemukan perannya: menjadi kekuatan moral yang mengingatkan ketika ada yang keliru, mendukung ketika ada yang benar, dan tetap berpihak kepada kemaslahatan masyarakat.

Umat harus mengambil bagian.

Keberadaban sebuah bangsa sesungguhnya tidak hanya diukur dari gedung-gedung tinggi, jalan yang mulus, teknologi yang canggih atau pertumbuhan ekonomi. Semua itu penting, tetapi keberadaban memiliki ukuran yang lebih dalam: bagaimana manusia memperlakukan manusia lain.

Apakah orang kuat bersedia menghormati yang lemah? Apakah orang kaya peduli kepada yang miskin? Apakah yang berilmu menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan? Apakah perbedaan pilihan politik membuat kita kehilangan persaudaraan? Apakah hukum mampu menjadi panglima yang memberikan rasa keadilan?

Di sinilah agama memiliki peran yang sangat penting.

Islam tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah Swt. Islam juga mengajarkan bagaimana manusia hidup bersama. Ada amanah, keadilan, kejujuran, kasih sayang, penghormatan terhadap hak orang lain dan tanggung jawab sosial.

Maka keberagamaan yang sehat seharusnya melahirkan manusia yang semakin santun, bukan semakin kasar; semakin jujur, bukan semakin pandai mencari pembenaran; semakin peduli kepada sesama, bukan semakin sibuk menghakimi.

Kita perlu membangun optimisme umat mulai dari hal-hal yang dekat.

Pesantren, misalnya, jangan hanya dipandang sebagai tempat mencetak orang yang memahami kitab kuning. Pesantren juga merupakan ruang pendidikan karakter, kemandirian, kedisiplinan dan pengabdian. Santri harus disiapkan bukan hanya untuk bisa menjawab persoalan keagamaan, tetapi juga mampu membaca perubahan zaman.

Demikian pula masjid. Masjid jangan berhenti sebagai tempat ritual. Ia dapat menjadi pusat pendidikan umat, penguatan ekonomi masyarakat, pembinaan generasi muda dan ruang membangun kepedulian sosial.

Lembaga pendidikan juga mempunyai tanggung jawab yang sama. Anak-anak kita jangan hanya diajari mengejar nilai. Mereka perlu diajari membedakan antara benar dan salah, antara hak dan kewajiban, antara kritik dan caci maki, antara kebebasan dan kebablasan.

Apalagi di era digital.

Hari ini setiap orang dapat menjadi penyebar informasi. Tetapi tidak setiap orang mampu menjadi penyaring informasi. Jempol bisa lebih cepat daripada pikiran. Berita belum tentu benar, tetapi sudah terlanjur dibagikan. Potongan video dapat memancing kemarahan sebelum orang memahami konteksnya.

Di sinilah pendidikan akhlak menemukan relevansinya.

Umat perlu memiliki kecerdasan digital sekaligus kedewasaan moral. Jangan sampai teknologi yang seharusnya menjadi alat kemajuan justru menjadi kendaraan penyebaran kebencian.

Saya kira kita juga perlu mengubah cara memandang kritik. Mengkritik bukan berarti membenci bangsa. Mengkritik justru dapat menjadi bentuk cinta kepada bangsa apabila dilakukan dengan pengetahuan, argumentasi dan tanggung jawab.

Ada ungkapan yang patut kita pegang: jangan pernah lelah mencintai NKRI dengan mengkritisi hukum yang berjalan.

Cinta tidak selalu berbentuk pujian. Seorang kiai dapat mencintai umatnya dengan mengingatkan ketika umatnya keliru. Orang tua mencintai anaknya dengan menegur ketika anaknya salah. Demikian pula warga negara dapat mencintai negaranya dengan mengingatkan ketika ada kebijakan yang perlu diperbaiki.

Namun kritik harus tetap menjaga adab.

Jangan karena kecewa kepada seseorang, kita kemudian membenci semuanya. Jangan karena menemukan kesalahan pada sebuah lembaga, kita menganggap seluruh orang di dalamnya buruk. Jangan karena berbeda pilihan, kita menghapus seluruh kebaikan orang lain.

Bangsa yang besar membutuhkan masyarakat yang dewasa.

Karena itu, tugas umat ke depan bukan sekadar menjadi penonton perubahan. Umat harus menjadi pelaku peradaban.

Para ulama menjaga moral. Para guru mencerdaskan generasi. Pengusaha membuka lapangan pekerjaan. Aparat menegakkan hukum dengan adil. Politisi memperjuangkan kepentingan publik. Pemuda menghadirkan kreativitas. Dan masyarakat akar rumput menjaga gotong royong serta kepedulian sosial.

Masing-masing mempunyai ladang pengabdian.

Kita tidak perlu menunggu Indonesia sempurna untuk mulai berbuat. Justru karena Indonesia belum sempurna, kita mempunyai ruang pengabdian yang luas.

Optimisme umat bukan optimisme kosong. Ia harus dibangun di atas doa, ilmu, kerja dan pengabdian.

Indonesia yang berkeadaban tidak akan lahir hanya dari pidato tentang kemajuan. Ia lahir dari jutaan tindakan kecil yang dilakukan dengan kejujuran: pedagang yang tidak mengurangi timbangan, pejabat yang menjaga amanah, guru yang mendidik dengan ketulusan, orang tua yang memberi teladan, santri yang menjaga akhlak, dan masyarakat yang tetap saling menolong meski berbeda pilihan.

Mungkin kita tidak akan melihat seluruh hasilnya.

Tetapi bukankah menanam pohon juga demikian? Orang yang menanam belum tentu menikmati rindangnya. Namun ia tetap menanam karena percaya bahwa suatu hari akan ada generasi yang berteduh di bawahnya.

Begitulah seharusnya umat memandang masa depan Indonesia.

Jangan wariskan kepada anak cucu hanya keluhan tentang keadaan. Wariskan juga keberanian untuk memperbaikinya.

Sebab Indonesia yang berkeadaban bukan hanya cita-cita negara. Ia adalah pekerjaan bersama. Dan umat, dengan seluruh potensi keagamaan, pendidikan dan sosial yang dimilikinya, mempunyai tanggung jawab besar untuk ikut mewujudkannya.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb