Search

KH Khoiruddin: Tantangan Dakwah di Wilayah Industri Hingga Perjalanan Memimpin MUI Driyorejo

TOKOH - Sosok KH. M. Khoiruddin dikenal sebagai ulama yang tumbuh dari lingkungan masyarakat sederhana dan menjalani perjalanan panjang dalam dunia pesantren serta dakwah di tengah masyarakat. Kini beliau dipercaya memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, sebuah wilayah yang memiliki dinamika sosial cukup kompleks karena berada di kawasan industri dan berbatasan langsung dengan Kota Surabaya.

Perjalanan hidupnya menunjukkan bagaimana pengabdian kepada umat dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana. Berangkat dari keluarga petani, menempuh pendidikan pesantren selama bertahun-tahun, hingga akhirnya mengasuh pesantren dan aktif berdakwah di berbagai majelis taklim di masyarakat.

Lahir dari Keluarga Sederhana

KH. M. Khoiruddin lahir pada 28 Agustus 1967. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana di lingkungan pedesaan yang dikenal taat beragama. Meski bukan berasal dari keluarga kiai ataupun ustadz, suasana religius di rumahnya menjadi fondasi kuat dalam perjalanan hidupnya.

Beliau mengenang masa kecilnya sebagai anak dari keluarga petani dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Bahkan keinginan untuk mondok sempat terpendam cukup lama karena keterbatasan biaya dan kehilangan sosok ayah sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Ngampunten, saya memang keluarga petani. Untuk mondok kan perlu biaya. Dalam hati sangat kepingin sekali, tapi untuk mengutarakan juga berat karena sejak kelas tiga SD saya sudah ditinggal ayah,” kenangnya.

Sejak kecil beliau dikenal gemar mengaji di desanya. Keinginan untuk menempuh pendidikan pesantren mulai muncul ketika masih duduk di kelas lima hingga enam sekolah dasar.

Perjalanan Menuju Pesantren

Setelah lulus sekolah dasar, beliau sempat melanjutkan pendidikan ke SMP di wilayah Cangkir, Driyorejo. Di sekolah tersebut, beliau dikenal sebagai siswa yang berprestasi dan bahkan pernah meraih peringkat pertama pada tahun pertama masa sekolahnya.

Namun perjalanan hidup membawanya pada takdir yang berbeda. Sebuah kecelakaan yang menyebabkan patah tulang membuatnya harus beristirahat dan tidak dapat mengikuti kegiatan sekolah selama beberapa bulan. Peristiwa tersebut justru menjadi titik balik dalam hidupnya. Dari situlah beliau memberanikan diri menyampaikan keinginan kepada ibunya untuk menempuh pendidikan di pesantren.

Akhirnya beliau berangkat mondok di Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan, yang diasuh oleh ulama kharismatik KH. Abdul Hamid Pasuruan. Di pesantren itulah beliau menimba ilmu agama selama kurang lebih 13 tahun, sejak 1983 hingga 1996.

Selama di pesantren, beliau memperdalam berbagai disiplin ilmu keislaman, terutama dalam bidang Ulumul Qur’an. Beliau juga belajar langsung kepada KH. Basori Alwi Murtadho dan memperoleh sanad Al-Qur’an yang bersambung hingga Rasulullah SAW.

Mengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum

Setelah menyelesaikan pendidikan pesantren, pada tahun 1996 beliau menikah dengan Istiqomah, yang merupakan warga di desanya sendiri. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai empat orang anak.

Tidak lama setelah itu, beliau mulai melanjutkan estafet perjuangan pendidikan yang sebelumnya dirintis oleh mertuanya. Lembaga yang semula berupa majelis taklim dan halaqah Al-Qur’an kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren Miftahul Ulum. Sejak tahun 1997, beliau dipercaya mengasuh dan mengembangkan pesantren tersebut. Nama pesantren sendiri diberikan oleh seorang kiai dari Pamekasan, Madura.

Menurut beliau, salah satu tantangan besar dalam dunia pesantren di wilayah Gresik selatan adalah masih terbatasnya jumlah lembaga pendidikan keagamaan. Beliau menilai bahwa kondisi tersebut membuat perbedaan kultur keagamaan antara wilayah Gresik utara dan selatan cukup terasa.

Dakwah Melalui Majelis Taklim

Selain mengasuh pesantren, KH. M. Khoiruddin juga dikenal aktif mengisi pengajian di berbagai majelis taklim di masyarakat. Bagi beliau, dakwah bukan sekadar menyampaikan ceramah, tetapi juga memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari.

“Dakwah itu mengajak kepada perkara yang baik. Tapi tidak cukup hanya bicara. Harus ada pegangan kitab, dan yang paling penting memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Menurut beliau, keberhasilan dakwah tidak hanya diukur dari banyaknya jamaah, tetapi juga dari bagaimana nilai-nilai agama dapat tercermin dalam perilaku masyarakat. Tantangan dakwah saat ini, lanjutnya, adalah bagaimana menjaga agar pengajian tetap relevan bagi generasi muda di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

“Kita memang harus mengikuti zaman, tapi jangan sampai terlena oleh zaman itu sendiri. Harus punya pegangan dan terus memperdalam ilmu,” pesannya.

Memimpin MUI Driyorejo

Pengabdian panjang di masyarakat membuat KH. M. Khoiruddin dipercaya menjadi Ketua MUI Kecamatan Driyorejo. Amanah tersebut diterimanya bukan karena ambisi pribadi, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab dalam berkhidmah kepada umat.

“Saya tidak punya ambisi untuk kepingin menjadi ketua. Hanya saja saya memang senang berorganisasi,” ujarnya.

Sebelumnya beliau juga aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama, pernah menjadi pengurus Tanfidziyah MWC NU dan saat ini juga menjabat sebagai Wakil Syuriah.

Dalam kepemimpinannya di MUI, salah satu fokus utama yang ingin dikembangkan adalah membangun jaringan kader ulama di tingkat desa. Setiap desa diharapkan memiliki perwakilan yang dapat menjadi penghubung antara masyarakat dan MUI di tingkat kecamatan.

Langkah tersebut diharapkan dapat mempermudah komunikasi serta membantu penyelesaian persoalan keagamaan yang muncul di masyarakat.

Tantangan Dakwah di Wilayah Industri

Driyorejo dikenal sebagai kawasan industri di Kabupaten Gresik yang berbatasan langsung dengan Surabaya. Mobilitas masyarakat di wilayah ini sangat tinggi karena banyak pendatang yang bekerja di sektor industri. Keberagaman suku, budaya, dan agama menjadikan dinamika sosial masyarakat Driyorejo cukup kompleks.

Menurut KH. M. Khoiruddin, kondisi tersebut membutuhkan pendekatan dakwah yang bijak dan menyejukkan. Dakwah tidak hanya menyampaikan ceramah, tetapi juga membangun sikap saling menghormati di tengah masyarakat yang beragam. Dengan cara itu, nilai-nilai Islam dapat hadir sebagai penguat persaudaraan.

Untuk menjaga kondusivitas wilayah, MUI Driyorejo juga menjalin kerja sama dengan pemerintah kecamatan, kepolisian, dan TNI. Sinergi ini penting untuk menjaga ketertiban sosial, terutama menjelang bulan Ramadhan ketika aktivitas masyarakat dan kegiatan keagamaan semakin meningkat.

Selain itu, MUI Driyorejo mendorong program forum kebangsaan dan moderasi beragama. Kegiatan ini melibatkan tokoh agama dan masyarakat agar tercipta ruang dialog yang sehat. Melalui upaya tersebut, diharapkan masyarakat yang beragam dapat hidup rukun dan saling menghargai.

Harapan untuk Generasi Muda

Di tengah perkembangan teknologi dan media sosial, beliau juga mengingatkan pentingnya peran pemuda dalam menjaga kehidupan keagamaan di masyarakat. Menurutnya, generasi muda tidak boleh terlena dengan penggunaan gawai semata. Mereka perlu aktif dalam kegiatan positif seperti pengajian maupun organisasi remaja masjid.

“Anak-anak muda harus punya kegiatan yang bermanfaat. Salah satunya melalui remaja masjid supaya masjid tetap hidup,” pesannya.

Melalui pendidikan pesantren, majelis taklim, serta peran aktif dalam organisasi keagamaan, KH. M. Khoiruddin berharap masyarakat Driyorejo tetap memegang teguh nilai-nilai agama sebagai dasar kehidupan bersama.

Baginya, kekuatan masyarakat terletak pada kemampuan menjaga keseimbangan antara perkembangan zaman dan keteguhan memegang pedoman agama. Dengan cara itulah harmoni sosial dan moral masyarakat dapat terus terjaga.