TOKOH - Di tengah dinamika masyarakat Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik, sosok KH. Ahmad Hishol Muttaqin, S.Ag., M.A. dikenal sebagai figur pendidik sekaligus penggerak umat. Lahir di Nganjuk pada 30 Desember 1971, beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren yang kuat dengan tradisi keilmuan Islam. Dari garis keturunan (dzuriyyah), kakek-kakeknya dikenal memiliki pondok pesantren, baik besar maupun kecil.
Masa kecilnya dihabiskan di Nganjuk sebelum kemudian mengikuti orang tua yang berdinas ke Lamongan. Pendidikan dasarnya ditempuh di Glagah, Lamongan, bahkan ia memiliki dua ijazah sekaligus, SD dan MI. Sejak kecil, nilai agama dan tradisi pesantren telah mengakar kuat dalam perjalanan hidupnya.
Tradisi itu semakin kokoh ketika ia melanjutkan pendidikan ke MTsN Glagah, lalu nyantri di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, sembari bersekolah di MAN Tambakberas (kini MAN 3 Jombang). Di sana, ia berguru kepada para kiai seperti Kyai Najib Wahab, Kyai Sulthon, dan Kyai Jamal. Lingkungan pesantren membentuk ketekunan, adab, dan kesadaran bahwa ilmu harus diabdikan untuk umat.
Menapaki Jalan Pendidikan dan Pengabdian
Selepas aliyah, Kiai Hishol melanjutkan studi di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), yang saat itu masih bernama IAIN Surabaya. Ia masuk pada 1990 dan lulus pada 1994. Bagi beliau, kuliah bukan sekadar meraih gelar, tetapi memperdalam fondasi keilmuan untuk bekal dakwah dan pendidikan. Semangat belajarnya terus menyala dengan menempuh S2 di Universitas Islam Lamongan (UNISLA), yang diselesaikannya sekitar tahun 2005, di sela-sela kesibukan mengajar dan mengurus umat.
Memasuki tahun 2025, di usia yang tak lagi muda dan dengan tanggung jawab organisasi yang kian bertambah, Kiai Hishol kembali mengambil langkah berani dengan melanjutkan studi doktoral di Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Suci Gresik. Baginya, belajar tidak mengenal batas usia. Justru semakin bertambah umur, semakin besar pula kebutuhan untuk memperdalam ilmu agar dapat membimbing umat dengan lebih matang dan bijaksana. Keputusan melanjutkan S3 menjadi teladan bahwa semangat thalabul ‘ilmi harus ajeg sepanjang hayat, sebuah pesan nyata bagi generasi muda bahwa kesungguhan menuntut ilmu tidak pernah terlambat.
Sejak 1994 hingga kini, Kiai Hishol berprofesi sebagai guru PNS di MAN 2 Gresik. Baginya, menjadi guru adalah jalan dakwah. Ia pernah mengajar kitab kuning untuk siswa kelas 1 sampai kelas 3 dan menghadirkan tradisi pesantren di ruang kelas formal. Meski program itu kemudian berganti menyesuaikan minat dan kebutuhan siswa, semangat pendidikan berbasis nilai tetap ia pegang teguh.
Sesungguhnya, cita-cita awalnya adalah hidup sepenuhnya untuk berdakwah dari satu tempat ke tempat lain. Namun ia meyakini takdir Allah selalu yang terbaik. Profesi PNS justru menjadi sarana dakwah yang luas, melalui murid-murid yang ia bimbing setiap hari.
Selain di sekolah, Kiai Hishol merupakan Pengasuh Ponpes Nurul Mubin Desa Ngasin Balongpanggang. Beliau tercatat sebagai pengasuh ke-13 di pesantren yang sebelumnya dipimpin Kiai Jumahal dari Bawean dan almarhum Kiai Rofiq. Bahkan, Kiai Hishol termasuk yang paling lama mengasuh. Meski mengakui tantangan pesantren kini cukup berat, terutama karena belum terintegrasi dengan sekolah formal, Kiai Hishol tetap optimistis masa depan pesantren akan semakin baik.
Amanah Kepemimpinan dan Peran Organisasi
Dalam kehidupan bermasyarakat, Kiai Hishol dipercaya sebagai Ketua MUI Kecamatan Balongpanggang. Sebelumnya ia adalah wakil ketua, dan melalui mekanisme organisasi, amanah kepemimpinan berlanjut kepadanya. Baginya, jabatan bukan ambisi, melainkan amanat hasil musyawarah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Di tingkat kabupaten, ia juga dipercaya sebagai Sekretaris Komisi Ukhuwah dan Hubungan Antar Lembaga MUI Kabupaten Gresik. Selain itu, ia aktif sebagai Wakil Ketua LDNU Balongpanggang serta pembina di sekolah Hidayatul Ummah Balongpanggang. Semua amanah tersebut dijalani dengan pembagian waktu yang disiplin antara tugas sebagai PNS dan tanggung jawab sosial-keagamaan.
“Kalau sudah diberi amanat, ya bismillah dilaksanakan,” tuturnya. Prinsip ini membuatnya tetap ajeg di jalur pengabdian, tanpa menjadikan jabatan sebagai tujuan.
Dakwah Zaman Digital dan Pesan untuk Generasi Muda
Menurut Kiai Hishol, dakwah harus mengikuti perkembangan zaman. Prinsip bil khidmah wa mau‘idhatul hasanah perlu diterjemahkan dalam terobosan, termasuk melalui media sosial, karena masyarakat kini lebih banyak mengakses gawai daripada menghadiri pengajian langsung.
Namun ia juga mengingatkan, media sosial tidak memiliki filter ketat terhadap konten keagamaan. Semua pihak dapat berbicara sesuai pemahamannya. Tanpa bekal ilmu yang cukup, masyarakat bisa salah arah. Karena itu, ia menekankan pentingnya memperdalam ilmu agama agar tidak mudah terpengaruh arus informasi.
Perhatian khusus ia berikan kepada generasi muda. Tantangan zaman kini semakin komplek, mulai dari pengaruh konten negatif hingga maraknya judi online. Solusinya tetap kembali pada penguatan ilmu, adab, dan ketahanan iman.
Ke depan, Kiai Hishol bercita-cita agar setiap masjid memiliki kajian rutin, khususnya pengajian kitab-kitab fikih dasar tentang tata cara ibadah sehari-hari seperti tayamum dan rukun salat. Tidak semua masyarakat pernah mondok, sehingga perlu ruang belajar yang sederhana namun mencerahkan. Beliau berharap melalui MUI dapat memfasilitasi kegiatan rutin bersama agar pemahaman agama semakin merata.
Di balik kesibukannya, KH. Ahmad Hishol Muttaqin adalah kepala keluarga yang sederhana. Ia menikah dengan Mufarokhah, S.Pd.I., M.A., seorang guru swasta. Mereka dikaruniai tiga putri: Roichatul Jannah El Muttaqen, S.Pd.I. (yang telah menikah pada 17 Januari 2025), Maulidiyah Arrohmaniy yang sedang kuliah, dan Zidni Khoirirohmah yang masih menempuh pendidikan tsanawiyah. Keluarga kecil ini tinggal di Desa Ngasin, Kecamatan Balongpanggang, Gresik.
Perjalanan hidupnya memperlihatkan satu benang merah yaitu “pengabdian”. Baik sebagai guru, pengasuh pesantren, maupun Ketua MUI, semua dijalani dengan kesadaran bahwa setiap peran adalah amanah. Ajeg di jalur pendidikan dan dakwah, ia terus berupaya menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren dan kebutuhan umat di era modern.
