TOKOH - Di tengah deru perubahan zaman, sosok KH. Reza Murtadla hadir sebagai teladan hidup tentang bagaimana keteguhan prinsip dan keikhlasan mampu mengubah keterbatasan menjadi pengabdian yang luas. Perjalanan hidupnya bukanlah kisah tentang kemudahan, melainkan tentang ketekunan, disiplin, dan keyakinan bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan niat tulus akan berbuah keberkahan.
Melalui perjalanan panjangnya sebagai seorang pendidik, pembimbing umat, dan kini Ketua Majelis Ulama Indonesia Kecamatan Sidayu, beliau mengajarkan bahwa kemuliaan tidak datang dari jabatan yang dikejar, melainkan dari manfaat yang ditebar. Dari ruang kelas hingga ruang pengabdian umat, KH. Reza Murtadla menjadikan hidupnya sebagai ladang amal yang terus memberi arti bagi banyak orang.
KH. Reza Murtadla lahir di Gresik pada 26 September 1959. Beliau tinggal di Jl. Pendidikan No. 13, Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik. Dalam kehidupan keluarga, beliau didampingi oleh istri tercinta, Shofiyatusy Syifa. Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai tiga orang anak, yakni Ahmad Tufail Budianto, Elis Safinatun Nadzifah, dan Eni Malihatul Alawiyah. Keluarga menjadi salah satu sumber kekuatan utama dalam perjalanan panjang pengabdian beliau sebagai pendidik dan pelayan umat.
Dari Pasar dan Laut yang Mengajarkan Kesederhanaan
Kiai Reza lahir dalam lingkungan keluarga sederhana yang menggantungkan hidup dari berdagang ikan. Ayah dan ibunya adalah pedagang ikan kecil yang berjualan dari pasar ke pasar, mulai dari wilayah Dukun hingga Sidayu. Kehidupan yang penuh perjuangan itu menjadi sekolah pertama yang membentuk karakter beliau.
Sejak duduk di kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah, beliau sudah terbiasa membantu orang tua berdagang. Bahkan, beliau mampu melakukan “kulaan” atau mengambil ikan hingga ke Gresik Kota pada dini hari, sebelum kemudian bersiap berangkat ke sekolah. Masa kecilnya ditempa oleh disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab.
“Saya dari keluarga yang sederhana, tapi orang tua saya disiplin dalam mendidik saya,” kenangnya.
Meski tidak mengenyam pendidikan tinggi, kedua orang tuanya memiliki perhatian besar terhadap pendidikan dan moral anak-anaknya. Sang ayah dikenal tegas dalam mendidik, terutama dalam hal menjaga shalat berjamaah dan menjauhi kebiasaan merokok. Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi integritas dan kedisiplinan beliau hingga dewasa.
Kesederhanaan tidak menjadikannya kecil, justru menjadi sumber kekuatan yang membentuk keteguhan prinsip dan kepekaan terhadap kehidupan masyarakat.
Masa Pendidikan di Tengah Keterbatasan
Semangat menuntut ilmu menjadi bagian penting dalam hidup KH. Reza Murtadla. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah, beliau melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Surabaya. Masa kuliah bukanlah masa yang mudah, karena beliau harus membagi waktu antara belajar dan bekerja.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, beliau mengajar privat dan mengisi pengajian di berbagai musholla. Meski dihadapkan pada keterbatasan, beliau tidak pernah menyerah. Baginya, pendidikan adalah jalan untuk memperluas manfaat dan meningkatkan kualitas pengabdian.
Mengabdikan Hidup sebagai Pendidik
Pengabdian KH. Reza Murtadla sebagai pendidik berlangsung selama puluhan tahun. Beliau mengajar di SMA Negeri 1 Sidayu sejak tahun 1986 hingga memasuki masa purna tugas. Selain itu, beliau juga mengabdikan diri di SMA Kanjeng Sepuh, bahkan dipercaya mengemban amanah sebagai kepala sekolah.
Sebagai guru, beliau tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan, menekankan pentingnya ibadah, berbakti kepada doa orang tua, serta penghormatan kepada guru sebagai kunci keberkahan hidup. Beliau sering menceritakan kisah nyata tentang siswa yang secara akademik biasa saja, namun berhasil meraih kesuksesan luar biasa karena menjaga adab kepada gurunya.
Bagi beliau, menjadi guru bukan sekadar profesi, melainkan jalan pengabdian. Ruang kelas menjadi tempat beliau menanamkan nilai-nilai yang kelak tumbuh dalam kehidupan para muridnya.
Pengabdian Organisasi: Belajar Merangkul dan Menguatkan Kebersamaan
Selain mengajar, KH. Reza Murtadla juga aktif dalam berbagai organisasi keagamaan dan pendidikan. Beliau terlibat dalam pengelolaan yayasan pendidikan dan kegiatan takmir masjid. Dalam setiap peran yang diemban, beliau dikenal sebagai sosok yang mengedepankan kebersamaan.
“Kuncinya jadi seorang pemimpin adalah harus benar-benar merangkul dan menghargai seluruh pandangan anggota,” tuturnya.
Baginya, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Yang terpenting adalah bagaimana menyikapinya dengan bijak, penuh kelembutan, dan tetap menjaga persatuan. Prinsip inilah yang membuatnya dipercaya dalam berbagai amanah organisasi.
Transformasi Nama, Sebuah Perjalanan Spiritual
Perubahan nama dari Ahmad Yahmun menjadi M. Reza Murtadla bukan sekadar perubahan administratif, melainkan sebuah ikhtiar spiritual. Perubahan ini bermula dari saran seorang rekan ketika beliau hendak menunaikan ibadah haji.
Beliau merenungkan bahwa nama adalah doa. Terinspirasi oleh sosok pengasuh pesantren yang dikenal cerdas dan bijaksana, beliau memilih nama “Reza” dengan harapan membawa keberkahan dan kemanfaatan yang lebih luas. Sejak saat itu, nama tersebut menjadi bagian dari identitas pengabdian yang terus beliau jalani.
Amanah Memimpin MUI Sidayu
Kepercayaan umat mencapai salah satu puncaknya ketika beliau terpilih sebagai Ketua MUI Kecamatan Sidayu masa khidmat 2025-2030. Amanah ini merupakan tanggung jawab dan pengabdian.
Meski merasa usianya tidak lagi muda, beliau tetap menerima amanah tersebut dengan penuh keikhlasan. Baginya, berorganisasi adalah kebutuhan untuk terus berkontribusi bagi umat.
“Saya yakin bahwasanya yang membalas itu Allah. Nanti ada keberkahan hidup,” ungkapnya.
Di bawah kepemimpinannya, MUI Sidayu diharapkan menjadi payung bagi seluruh organisasi keagamaan, terutama NU dan Muhammadiyah, untuk bersatu dalam harmoni dan kebersamaan.
Harapan untuk Generasi Masa Depan
KH. Reza Murtadla menaruh harapan besar kepada generasi muda, khususnya di Sidayu. Beliau mengingatkan agar generasi muda bijak dalam menghadapi era digital yang penuh tantangan.
Beliau berharap anak muda tidak hanya aktif di dunia digital, tetapi juga terlibat dalam kegiatan keagamaan dan sosial. Keterlibatan ini penting sebagai benteng moral sekaligus sarana membangun karakter.
Perjalanan hidup KH. Reza Murtadla mengajarkan bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang didedikasikan untuk memberi manfaat. Dari seorang anak pedagang ikan, menjadi pendidik, hingga kini memimpin MUI Sidayu, beliau membuktikan bahwa ketulusan, disiplin, dan keikhlasan adalah kunci pengabdian yang membawa keberkahan.
Kisah beliau menjadi pengingat bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada jabatan, melainkan pada seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.
