TOKOH - Perjalanan hidup seseorang sering kali dibentuk oleh pengalaman, pendidikan, dan nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini. Bagi KH. Nur Kholis Mansur, M.Pd.I, hidup adalah rangkaian pengabdian yang dijalani dengan kesabaran dan ketekunan. Dari ruang kelas madrasah, aktivitas ekonomi syariah, hingga amanah memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Menganti, semua dijalani sebagai bagian dari khidmah kepada umat.
Sosoknya dikenal sebagai pendidik yang konsisten menanamkan nilai-nilai pesantren kepada generasi muda. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, beliau berupaya menghadirkan keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan kepedulian terhadap kehidupan sosial masyarakat.
Tumbuh dari Lingkungan Keluarga Religius
KH. Nur Kholis Mansur lahir di Gresik pada 12 Juni 1967. Beliau tinggal di Desa Hulaan No. 104, RT 15 RW 07, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik. Sejak kecil beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius dan dihormati masyarakat.
Ayah beliau dikenal sebagai tokoh Nahdlatul Ulama (NU) di tingkat kecamatan dan sering menjadi rujukan masyarakat dalam persoalan keagamaan. Sementara ibunya merupakan seorang ibu rumah tangga yang sederhana namun memiliki keteguhan dalam mendidik anak-anaknya.
Perjalanan hidup beliau berubah ketika masih muda. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan baru sekitar satu minggu mondok di pesantren, beliau menerima kabar duka bahwa sang ayah meninggal dunia. Sejak saat itu, ibunya menjadi satu-satunya penopang kehidupan keluarga.
Kondisi ekonomi yang terbatas membuat beliau menjalani kehidupan santri dengan penuh kemandirian. Selama di pesantren beliau turut berkhidmah di ndalem kiai serta menjalani berbagai aktivitas sebagai bentuk pengabdian sekaligus proses pembelajaran hidup.
Menempuh Pendidikan Pesantren dan Akademik
Semangat menuntut ilmu menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup KH. Nur Kholis Mansur. Pendidikan dasarnya ditempuh di MI Al-Huda 1 Kedamean, Gresik. Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan di MTs dan MA Roudhotun Nasyi’in Beratkulon, Kemlagi, Mojokerto.
Selama masa tersebut beliau juga menimba ilmu di Pondok Pesantren Nurul Huda Beratkulon. Di pesantren inilah beliau memperdalam ilmu agama sekaligus membangun kedisiplinan dan karakter sebagai seorang santri.
Beliau termasuk salah satu santri yang mendapatkan kesempatan mengaji langsung di ndalem kiai bersama beberapa santri lainnya. Selain belajar, beliau juga aktif menjadi pengurus pondok serta terlibat dalam berbagai kegiatan pesantren.
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, beliau melanjutkan studi S1 di STIT Taruna Surabaya dan kemudian meraih gelar Magister Pendidikan Islam (M.Pd.I) dari Universitas Qomaruddin Gresik.
Menurut beliau, pendidikan akademik sangat penting agar seorang pendidik memiliki legitimasi keilmuan yang kuat. Namun pendidikan tersebut tetap harus berpijak pada nilai-nilai pesantren agar melahirkan generasi yang berilmu sekaligus berakhlak.
Mengabdikan Diri di Dunia Pendidikan
Pengabdian KH. Nur Kholis Mansur di dunia pendidikan berlangsung selama puluhan tahun. Beliau aktif mengajar di lembaga pendidikan Al-Azhar di Kecamatan Menganti, mulai dari tingkat SMP, SMA hingga perguruan tinggi.
Di lingkungan kampus, beliau mengampu mata kuliah Ilmu Al-Qur’an. Selain itu, beliau juga mengajar di TPQ Madin Baitul Awwabin sebagai bagian dari pembinaan pendidikan keagamaan di masyarakat. Tidak hanya sebagai pengajar, beliau juga pernah mengemban amanah sebagai kepala madrasah selama kurang lebih 23 tahun. Pengalaman panjang tersebut membentuk kepemimpinannya dalam mengelola lembaga pendidikan sekaligus membina para guru dan peserta didik.
Bagi beliau, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi bentuk pengabdian. Pendidikan harus mampu membentuk kecerdasan sekaligus akhlak yang baik. Karena itu beliau selalu menekankan pentingnya pendidikan berbasis pesantren bagi para mahasiswa dan santri. Dengan pendekatan tersebut diharapkan lahir generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki adab, moral, dan karakter yang kuat.
Aktif Menggerakkan Ekonomi Syariah
Selain dikenal sebagai pendidik, KH. Nur Kholis Mansur juga aktif dalam penguatan ekonomi syariah. Selama ini beliau aktif dalam pengembangan Koperasi Syariah Mitra Usaha Ideal (Kopsyah MUI). Saat ini, beliau juga mengemban amanah sebagai Koordinator Pengawas Kopsyah MUI, sebuah peran yang berkaitan dengan pengawasan dan penguatan tata kelola lembaga ekonomi umat tersebut.
Menurut beliau, koperasi syariah memiliki peran penting dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lembaga ini dapat menjadi alternatif bagi masyarakat agar tidak bergantung pada praktik pinjaman berbunga yang sering kali memberatkan.
Melalui koperasi syariah, masyarakat juga dapat belajar menjalankan aktivitas ekonomi yang sesuai dengan prinsip syariat Islam. Selain itu, koperasi ini memiliki fungsi sosial, seperti membantu masyarakat kurang mampu, memberikan bantuan sosial, serta mendukung keberlangsungan lembaga-lembaga pendidikan.
Namun dalam praktiknya, beliau juga mengakui adanya berbagai tantangan, baik dari sisi pengelolaan internal maupun dari masyarakat. Tantangan tersebut antara lain berkaitan dengan integritas pengelola, pelayanan kepada anggota, serta masih adanya sebagian masyarakat yang belum sepenuhnya memahami pentingnya amanah dan tanggung jawab dalam transaksi ekonomi.
Kiprah Organisasi dan Amanah Memimpin MUI Menganti
KH. Nur Kholis Mansur dikenal sebagai sosok yang aktif dalam berbagai organisasi keagamaan dan pendidikan. Keterlibatannya di Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah dimulai sejak tahun 2005, sejak MUI Kabupaten Gresik dipimpin KH. Chusnan Ali. Sejak saat itu beliau terus berkhidmah di lingkungan MUI dan turut berperan dalam berbagai kegiatan dakwah serta penguatan peran ulama di tengah masyarakat.
Dalam perjalanan organisasi tersebut, beliau pernah dipercaya sebagai Sekretaris MUI Menganti selama kurang lebih empat periode. Pengalaman panjang itu menjadi bekal penting dalam memahami dinamika organisasi sekaligus memperkuat jaringan kerja sama dengan berbagai unsur masyarakat. Hingga akhirnya beliau dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Ketua MUI Kecamatan Menganti.
Selain di MUI, KH. Nur Kholis Mansur juga aktif di berbagai organisasi lain, seperti, Dewan Pendidikan Kabupaten Gresik, PERGUNU, serta sejumlah lembaga pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Beliau juga pernah mengemban berbagai amanah organisasi, mulai dari kepala madrasah selama lebih dari dua dekade hingga pembimbing jamaah haji di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Gresik.
Bagi beliau, amanah memimpin MUI Menganti merupakan bentuk khidmah kepada umat. Melalui peran tersebut, beliau berharap MUI dapat menjadi wadah yang memperkuat ukhuwah di tengah masyarakat sekaligus menghadirkan dakwah yang moderat dan menyejukkan. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara ulama, tokoh masyarakat, dan pemerintah dalam menjaga harmoni kehidupan beragama di tengah masyarakat.
Dakwah Digital dan Harapan untuk Generasi Muslim
Dalam pandangan KH. Nur Kholis Mansur, media sosial memiliki peran yang sangat besar dalam perkembangan dakwah di era sekarang. Platform digital dapat menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan keislaman kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang sangat dekat dengan teknologi dan dunia digital.
Namun beliau juga mengingatkan bahwa media sosial sering kali menjadi ruang beredarnya dakwah singkat yang belum tentu memiliki dasar keilmuan yang kuat. Karena itu, generasi muda diharapkan lebih berhati-hati dalam menerima setiap informasi. Setiap pesan yang diterima di media sosial sebaiknya diverifikasi terlebih dahulu sebelum dipercaya ataupun disebarkan kepada orang lain.
Menurut beliau, para ulama juga perlu menyesuaikan pendekatan dakwah dengan perkembangan zaman. Generasi muda perlu dirangkul dengan cara yang lebih relevan dengan kebutuhan mereka, sehingga pesan-pesan keislaman dapat diterima dengan baik tanpa kehilangan kedalaman nilai dan keilmuan.
KH. Nur Kholis Mansur juga menaruh harapan besar kepada generasi muslim masa depan. Ia berharap generasi terdidik mampu memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk membangun masa depan umat, sekaligus tetap menjaga spiritualitas dan akhlak. Bagi beliau, perjalanan hidup dari guru madrasah, penggerak ekonomi syariah, hingga memimpin MUI Kecamatan Menganti merupakan bagian dari ikhtiar untuk terus memberi manfaat bagi masyarakat dan umat.
