Search

Tradisi Malam Selikur Mambaus Sholihin Digelar Selasa 10 Maret 2026, Diperkirakan Dihadiri Ribuan Santri dan Alumni

MUI GRESIK - Malam Selikur di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Suci, Manyar, Gresik akan kembali digelar pada Selasa, 10 Maret 2026. Kegiatan yang diperkirakan dihadiri ribuan santri, alumni, serta jamaah dari berbagai daerah tersebut merupakan rangkaian Majelis Haul Malam 21 Ramadan yang setiap tahun menjadi momentum spiritual bagi keluarga besar pesantren.

Dilansir dari akun Instagram resmi Mambaus Sholihin @alfikrah.mbs, kegiatan Majelis Haul Malam 21 Ramadhan Al Marhum Wa Al Maghfurlah Haul Ke-22 Abuya Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki dan Haul Ke-29 KH. Abdullah Faqih bin Toyib, seluruh rangkaian acaranya akan dipusatkan di Darun Nadwah Rusyaifah Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Suci Manyar Gresik.

Rangkaian kegiatan akan dimulai sejak pagi hari dengan Khotmil Qur’an Bil Ghoib yang dilaksanakan setelah salat Subuh hingga sore hari. Selanjutnya pada pukul 15.00 hingga 17.00 WIB akan dilaksanakan Khotmil Dalailul Khoirot serta ziarah kubur ke maqbarah para masyayikh pesantren.

Menjelang waktu berbuka puasa, kegiatan dilanjutkan dengan ngabuburit bersama keluarga ndalem yang dimulai pukul 17.00 WIB hingga waktu berbuka. Momentum ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi antara santri, alumni, dan jamaah yang hadir dari berbagai daerah.

Puncak kegiatan Malam Selikur akan digelar setelah salat Tarawih melalui Majelis Dzikir, Sholawat, Tahlil, serta doa Ibtihal.

Ketua Pengurus Pusat Himpunan Alumni Mambaus Sholihin (HIMAM), Dr. Maftuh, menjelaskan bahwa pada tahun-tahun sebelumnya Malam Selikur di pesantren tersebut diisi dengan rangkaian ibadah yang telah menjadi tradisi.

“Biasanya Malam Selikur diisi dengan pembacaan Yasin dan Tahlil, doa khatmil Qur’an, serta bacaan munajat pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Kegiatan dimulai setelah salat Tarawih dan berlangsung hingga sekitar pukul 00.00 WIB, kemudian ditutup dengan doa ibtihal ala Tarim Hadramaut di tengah lapangan,” ujarnya.

Dr. Maftuh juga menjelaskan, salah satu kekhasan dalam kegiatan tersebut adalah pembacaan munajat dan doa ibtihal yang terinspirasi dari tradisi spiritual umat Islam di Tarim, Hadramaut, sebuah wilayah yang sejak lama dikenal sebagai pusat perkembangan keilmuan dan dakwah Islam.

 “Ciri khasnya adalah mengadopsi beberapa ritual masyarakat Muslim di Tarim, seperti munajat dan doa ibtihal. Ini menjadi bagian dari transmisi ajaran dan tradisi Tarim ke Nusantara,” jelasnya.

Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia juga menghadirkan agenda baru berupa buka puasa bersama yang diinisiasi para alumni. Konsepnya dirancang menyerupai suasana berbuka di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, dengan hidangan yang ditata berjajar di atas tikar di area lapangan pesantren.

“Kegiatan buka bersama oleh jamaah alumni menjadi salah satu hal baru. Hidangan disajikan berderet di atas tikar di lapangan pondok, sekaligus menjadi ajang reuni para alumni,” kata Maftuh.

Dr. Maftuh juga menjelaskan, bahwa para alumni Mambaus Shohilin (HIMAM), memiliki peran besar dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Dukungan yang diberikan tidak hanya dalam bentuk pendanaan mandiri untuk kebutuhan konsumsi dan operasional, tetapi juga keterlibatan langsung sebagai relawan panitia, mulai dari pengaturan tamu, kebersihan, dokumentasi, hingga koordinasi kedatangan jamaah dari berbagai daerah melalui koordinator wilayah.

Untuk mengantisipasi lonjakan jamaah, panitia menyiapkan sejumlah langkah penataan, di antaranya penerapan sistem zonasi parkir dan pengaturan penempatan jamaah dengan melibatkan Banser serta unsur keamanan setempat agar arus lalu lintas di kawasan Suci tetap terkendali.

“Harapannya jamaah hadir murni untuk thalabul ‘ilmi dan beribadah, bukan sekadar mengikuti keramaian. Jamaah juga diharapkan menjaga adab dan kebersihan, tidak meninggalkan sampah di area pesantren maupun di lingkungan warga,” pungkasnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat berjalan dengan lancar serta menjadi momen kebersamaan bagi para santri, alumni, dan jamaah yang hadir.