Search

Amalan yang Dianjurkan pada Malam Nuzulul Qur’an 17 Ramadhan 1447 H

MUI GRESIK - Bulan Ramadhan selalu menghadirkan berbagai momentum penting dalam sejarah Islam. Salah satu peristiwa yang paling istimewa adalah Nuzulul Qur’an, yakni turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Peristiwa ini diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan, yang pada tahun 1447 H / 2026 M bertepatan dengan Jumat malam, 6 Maret 2026.

Bagi umat Islam, malam Nuzulul Qur’an bukan sekadar peringatan historis, tetapi juga momentum spiritual untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itu, para ulama menganjurkan agar malam tersebut diisi dengan berbagai amalan ibadah seperti membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa, serta melakukan ibadah sunnah lainnya.

Amalan yang Dianjurkan pada Malam Nuzulul Qur’an

1. Memperbanyak Membaca Al-Qur’an

Amalan utama yang dianjurkan pada malam Nuzulul Qur’an adalah memperbanyak membaca Al-Qur’an. Hal ini sejalan dengan makna peringatan Nuzulul Qur’an sebagai momentum turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.

Imam Nawawi dalam kitab Al-Adzkar menjelaskan kemuliaan malam tersebut sebagai malam turunnya Al-Qur’an. Ia menyebutkan:

وقد جاء عن بعض أصحابنا أنه ليلة نزول القرآن، وقد نزل على النبي صلى الله عليه وسلم فيها جبريل عليه السلام، وأمره بقراءة القرآن بمختلف الأقراء، وأخبره بتفسير الشريعة الإسلامية

Artinya: “Telah datang dari beberapa sahabat kami bahwa pada malam Nuzulul Quran turunlah Jibril as ke hadapan Nabi saw. dan beliau memerintahkan beliau membaca Al-Quran dengan berbagai macam bacaannya dan menunjukkan cara membacanya dengan baik, serta memberikan penjelasan tentang hukum-hukum syariat Islam.”

Membaca Al-Qur’an pada malam ini menjadi salah satu bentuk penghormatan terhadap kitab suci yang menjadi pedoman hidup umat Islam.

2. Memperbanyak I’tikaf di Masjid

Amalan lain yang dianjurkan adalah melakukan i’tikaf di masjid. I’tikaf merupakan ibadah sunnah dengan cara berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui dzikir, membaca Al-Qur’an, dan berbagai ibadah lainnya.

I’tikaf bisa dilakukan kapan saja, namun pelaksanaannya di bulan Ramadhan memiliki keutamaan yang lebih besar. Adapun niat i’tikaf adalah:

نَوَيْتُ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ للهِ تَعَالَى

Artinya: “Aku berniat i’tikaf di masjid ini karena Allah.”

Melalui i’tikaf, seorang Muslim dapat lebih fokus memperbanyak ibadah sekaligus merenungkan makna turunnya Al-Qur’an bagi kehidupan.

3. Melaksanakan Shalat Malam dan Memperbanyak Doa

Shalat malam juga termasuk amalan yang sangat dianjurkan pada malam Nuzulul Qur’an. Shalat malam memiliki kedudukan istimewa dalam Islam karena merupakan ibadah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan.

Selain shalat malam, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak doa dan dzikir. Malam yang penuh keberkahan ini menjadi kesempatan untuk memohon ampunan, rahmat, serta petunjuk dari Allah SWT.

Mengapa Nuzulul Qur’an Diperingati pada 17 Ramadhan?

Para ulama menjelaskan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an pada tanggal 17 Ramadhan memiliki beberapa dasar historis dan tafsir Al-Qur’an.

Salah satu dasar penetapan tanggal 17 Ramadhan merujuk pada Surat Al-Anfal ayat 41:

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: “Dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Para ulama menafsirkan istilah “yaumul furqan” sebagai hari kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar, yang terjadi pada 17 Ramadhan.

Dalam tafsir Jāmiʽul Bayān fi Ta’wilil Qur’an, Imam Ath-Thabari mengutip pendapat Hasan bin Ali:

قال الحسن بن علي بن أبي طالب رضي الله عنه: كانت ليلة "الفرقان يوم التقى الجمعان"، لسبع عشرة من شهر رمضان.

Artinya: “Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra berkata: Yang dimaksud malam al-Furqan yaumul taqal jam’an adalah tanggal 17 Ramadhan.”

Pendapat lain menyebutkan bahwa Nuzulul Qur’an diperingati pada 17 Ramadhan karena pada waktu itulah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertama di Gua Hira, yaitu Surat Al-‘Alaq ayat 1-5:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ. خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ. اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ. الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ. عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Dua Fase Turunnya Al-Qur’an

Para ulama juga menjelaskan bahwa proses turunnya Al-Qur’an terjadi dalam dua fase. Syekh Muhammad Ali As-Shabuni dalam kitab At-Tibyan fi Ulumil Qur’an menjelaskan:

للقرآن الكريم تنزلان الأول من اللوح المحفوظ إلى السماء الدنيا جملة واحدة في ليلة القدر، الثاني من السماء الدنيا إلى الأرض مفرقا في مدة ثلاث وعشرين سنة

Artinya: “Al-Qur’an diturunkan pada dua fase: pertama, dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia (Baitul Izzah) sekaligus pada malam Lailatul Qadar; kedua, dari langit dunia ke bumi secara bertahap selama 23 tahun”.

Sejumlah ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa proses turunnya kitab suci ini berlangsung dalam dua tahap. Ayat-ayat seperti Surat As-Syura ayat 1-3, Surat Al-Qadar ayat 1-2, serta Surat Al-Baqarah ayat 185 memberi isyarat bahwa Al-Qur’an terlebih dahulu diturunkan melalui perantara malaikat Jibril as dari Lauh Mahfuzh menuju langit dunia (Baitul Izzah). Tahap ini dipahami para ulama sebagai penurunan secara keseluruhan pada satu momentum yang penuh kemuliaan.

Selanjutnya, Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw secara bertahap dari Baitul Izzah ke bumi. Hal ini dijelaskan dalam Surat Al-Isra ayat 106 dan Surat Al-Furqan ayat 32, yang menerangkan bahwa wahyu disampaikan sedikit demi sedikit sesuai dengan kebutuhan dan peristiwa yang dihadapi umat. Proses penurunan bertahap ini berlangsung selama kurang lebih 23 tahun, sejak Nabi Muhammad saw diangkat sebagai rasul pada usia sekitar 40 tahun hingga menjelang wafatnya pada usia 62-63 tahun.

Model penurunan seperti ini menjadi pembeda utama antara Al-Qur’an dengan kitab-kitab suci sebelumnya yang diturunkan sekaligus. Al-Qur’an justru hadir secara gradual, mengikuti dinamika kehidupan masyarakat dan perkembangan dakwah Islam pada masa itu.

Para ulama menjelaskan bahwa cara penurunan bertahap ini mengandung berbagai hikmah besar. Syekh Muhammad Ali As-Shabuni dalam kitab At-Tibyan fi Ulumil Qur’an menyebutkan adanya beberapa hikmah penting dari proses tersebut. Salah satunya adalah agar perubahan nilai dan tatanan sosial dalam masyarakat dapat berlangsung secara bertahap dan lebih mudah diterima, sehingga ajaran Islam dapat dipahami serta diamalkan dengan lebih baik oleh umat.

Untuk mendapatkan berbagai artikel keislaman, kajian Ramadhan, serta informasi kegiatan ulama di Kabupaten Gresik, masyarakat dapat mengunjungi situs resmi muigresik.or.id sebagai media dakwah dan literasi keislaman yang mencerahkan.