HIKMAH - Saudara-saudara sekalian yang kalau telat gajian demonya lebih kenceng daripada adzan, tapi kalau telat shalat anteng-anteng aja kayak nggak punya dosa...
Dengar. Ibnu Athaillah nampar tepat di ulu hati kita:
اِجْتِهَادُكَ فِيْمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيْرُكَ فِيْمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيْلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيْرَةِ مِنْكَ.
“Ijtihaaduka fiimaa dhumina laka wa taqshiiruka fiimaa thuliba minka daliilun ‘alaa inthimaasil bashiirati minka.”
Terjemahan bahasa pasarnya:
“Kalau kamu ngoyo sampe sariawan ngurus urusan yang udah dijamin Tuhan, tapi lelet sampe ketiduran ngurus urusan yang Tuhan tugaskan ke kamu, itu tandanya mata hatimu udah buta. Buta total. Katarak level akhirat.”
Gini, Cak. Ada dua macem urusan di dunia ini:
Urusan yang Dijamin: Rizki. Jodoh. Umur. Mati. Ini udah ditanggung Tuhan. Udah ada SK-nya sebelum kamu lahir. Kamu nggak kerja juga tetep dikasih makan. Buktinya bayi. Nggak kerja, nggak ngerti Shopee, tapi ASI ngocor terus. Burung nggak nanem padi, tapi nggak mati kelaparan.
Urusan yang Ditugaskan: Ibadah. Shalat. Jujur. Nahan mata dari maksiat. Nahan mulut dari ngerasani. Ini yang bakal ditanya Tuhan nanti. “Mana tugasmu?” Nggak bisa jawab: “Lha aku sibuk cari rizki, Ya Allah.” Lha rizkimu siapa yang ngasih kalau bukan Aku?
Nah, penyakit kita ini kebalik, Cak. Kita kayak karyawan yang salah jobdesk.
Urusan yang dijamin kita kerjain kayak kerja rodi. Lembur siang malam. Jantung mau copot. Pusing mikir omzet. Takut miskin. Takut nggak makan. Sampe lupa kalau Tuhan udah tanda tangan kontrak: “Rizkimu Aku tanggung.”
Giliran urusan yang ditugaskan, kita malah lelet. Shalat di ujung waktu. Ngaji kalau sempat. Sedekah kalau sisa. Tobat nanti kalau tua. Kayak bos, nyuruh-nyuruh Tuhan: “Nanti ya Allah, kalau aku udah sugih.”
Itu namanya “inthimaasul bashirah”. Buta mata hati. Mata lahir melek, bisa bedain uang merah sama biru. Tapi mata hati picek, nggak bisa bedain mana urusan Tuhan mana urusan kamu.
Kayak Tarjuman. Dia ngoyo wudhu 5 kali biar ditengok Ning Siti. Itu jodoh, Cak. Urusan yang dijamin. Mau wudhu 50 kali juga kalau bukan jatahmu, ya nggak bakal noleh. Tapi giliran disuruh ikhlas, disuruh ngajar Diniyah yang bener, malah kapurnya patah. Itu tugas, Cak. Yang ditugaskan. Malah disepelekan.
Jadi tamparannya:
Tamparan Pertama: “Hei kamu yang begadang mikir cicilan, emang kamu yakin besok masih hidup buat bayar cicilan? Kamu ngoyo ngurus besok yang belum pasti, tapi lalai ngurus hari ini yang udah pasti ditagih.”
Tamparan Kedua: “Hei kamu yang takut miskin, kok nggak takut kubur? Takut nggak makan, kok nggak takut nggak punya amal? Itu tandanya kamu percaya sama warung, tapi nggak percaya sama Tuhan.”
Orang bijak bilang gini:
“Orang paling bodoh itu orang yang nguras tenaga buat ngejar bayangannya sendiri, tapi duduk anteng pas disuruh ngejar surga. Bayangan itu rizki. Kamu jalan, dia ngikutin. Kamu diam, dia berhenti. Tapi surga itu nggak ngikutin kamu. Kamu yang harus lari ke sana.”
Kita ini sering kayak anak kecil yang nangis guling-guling karena minta permen. Padahal ibunya sudah siapin nasi di meja. Tapi karena mata kita buta, kita nggak lihat nasi. Kita cuma lihat permen yang belum tentu dikasih.
Kesimpulannya, saudara-saudara yang HP-nya bunyi notifikasi transferan langsung sujud syukur, tapi adzan bunyi malah snooze:
Kerjain yang ditugaskan: Shalat, jujur, amanah, ibadah. Ini yang bakal ditanya Tuhan.
Santai ngurus yang dijamin: Rizki, jodoh, mati. Ini udah ada yang ngatur. Kamu cukup jalan, nggak usah lari sampe jungkir balik.
Kalau kebalik, berarti mata hatimu buta. Dan orang buta itu kalau jalan pasti nabrak. Nabrak dosa, nabrak stress, nabrak neraka.
Jadi sekarang, tanya diri sendiri:
“Aku hari ini lebih capek karena mikir dunia, apa lebih capek karena mikir akhirat?”
Kalau jawabannya dunia, cepat-cepat minta Tuhan belikan kacamata hati. Sebab kamu lagi buta.
Sekian. Mari kita tutup dengan istighfar, terus buka sajadah dulu sebelum buka Tokopedia. (Bersambung)
