HIKMAH - Saudara-saudara sekalian yang kalau dagangan sepi langsung pengen jadi wali, tapi kalau disuruh ngaji full sehari langsung bilang “perut siapa yang nanggung”...
Dengar. Ibnu Athaillah ini habis nampar orang sok suci di edisi sebelumnya, sekarang giliran nampar orang sok tawakal dan sok sibuk.
Katanya:
إِرَادَتُكَ التَّجْرِيْدَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ. وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيْدِ اِنْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ.
“Iraadatukat tajriida ma’a iqoomatillahi iyyaaka fil asbaab, minasy syahwat il khafiyyah.”
“Wa iraadatukal asbaaba ma’a iqoomatillahi iyyaaka fit tajriid, inhithaatun minal himmat il ‘aliyyah.”
Terjemahan bebasnya:
“Kalau Tuhan naro kamu di pasar, tapi kamu ngotot pengen duduk di masjid 24 jam, itu nafsu yang pake sorban.”
“Kalau Tuhan naro kamu di masjid, tapi kamu ngotot pengen dagang di pasar, itu namanya derajatmu turun. Dari direktur jadi OB.”
Gini, Cak, Neng, Yu, Kang. Tuhan itu Manager HRD. Dia yang nentuin kamu ditempatin di divisi mana.
Divisi 1: Ahli Asbab
Isinya: kamu, aku, tukang bakso, penulis Karyakarsa, Tarjuman yang ngajar Diniyah. Tuhan kasih tangan, kaki, otak, terus bilang: “Sana, kerja. Cari nafkah. Tapi eling sama Aku.” Kamu punya anak-bini, punya utang listrik, punya tanggung jawab. Lha kalau kamu tiba-tiba bilang: “Aku mau tajrid! Mau ibadah thok! Nggak mau urus dunia!”, terus anakmu makan apa? Batu?
Itu bukan zuhud, Cak. Itu syahwat khafiyyah. Nafsu halus. Nafsu yang pake peci. Pengin kelihatan suci, pengin cepat jadi wali, padahal lari dari tanggung jawab. Kayak santri yang males nyapu terus alasan “aku mau khusyuk”. Prett.
Imam Syafi’i aja dagang. Sahabat Abdurrahman bin Auf itu pengusaha. Nggak ada ceritanya mereka nangis di pojok masjid sambil ngebiarin keluarganya kelaparan.
Divisi 2: Ahli Tajrid
Isinya: orang yang udah diberesin Tuhan urusannya. Mungkin udah tua, anak udah sukses, atau memang rizkinya udah datang tanpa diminta. Kayak Maryam yang dapat makanan dari mihrab. Kayak sebagian ulama yang memang ditakdir buat ngajar dan nulis kitab doang. Tuhan bilang: “Udah, kamu duduk sini. Ngaji. Ngajar. Rezekimu Aku yang ngatur lewat tangan orang lain.”
Nah, kalau orang kayak gini tiba-tiba bilang: “Nggak, aku harus kerja! Masa nganggur!” terus maksa buka warung padahal hatinya nggak di situ, itu namanya inhithath. Turun derajat. Udah dijadiin direktur, malah minta turun jadi staff. Udah disuruh ngurus akhirat, malah rebutan ngurus dunia.
Jadi penyakitnya kita ini dua:
1. Kalau miskin, pengen jadi ahli uzlah. Bilangnya “dunia fana”. Padahal aslinya malas kerja dan gengsi jadi kuli.
2. Kalau kaya atau udah tua, malah takut ditinggal dunia. Udah dikasih waktu luang buat ibadah, malah cari sibuk lain. Takut dianggap nggak produktif.
Keduanya sama: nggak ridha sama pembagian kerja dari Tuhan. Nggak terima sama SK Penempatan dari Langit.
Wong ngerti bilang gini:
“Agama ini bukan pabrik yang nyetak orang jadi sama. Ada yang dicetak jadi pedang, buat di medan perang. Ada yang dicetak jadi pena, buat di atas kertas. Salahmu sendiri kalau kamu pena, tapi maksa motong besi. Patah kan?”
Jadi:
Tamparan buat kaum Asbab: “Kerja, Cak! Nggak usah sok suci pengen uzlah kalau anakmu masih minta uang jajan. Ibadahmu itu ya dagangmu, nulismu, ngajarmu. Niatin karena Allah. Itu lebih zuhud daripada santri yang kabur dari pondok karena disuruh nguli.”
Tamparan buat kaum Tajrid: “Udah duduk, Cak! Nggak usah sok rajin cari sibuk kalau Tuhan udah jamin rizkimu. Ibadahmu itu ya dudukmu, ngajimu, doamu. Kalau kamu maksa kerja, itu namanya nggak percaya sama jaminan Tuhan. Derajatmu turun.”
Kesimpulannya, saudara-saudara yang sibuk ngiri sama hidup orang lain:
Tuhan itu nggak nyuruh kamu jadi Siti Maryam. Juga nggak nyuruh kamu jadi Abdurrahman bin Auf. Tuhan cuma nyuruh kamu jadi kamu. Di tempat yang udah Dia tentukan.
Kalau hari ini kamu di pasar, dagang yang jujur. Itu tajridmu.
Kalau hari ini kamu di masjid, ngaji yang bener. Itu kasabmu.
Yang bahaya itu: badanmu di pasar, hatimu pengen di masjid. Badanmu di masjid, hatimu ngitung laba di pasar. Itu namanya munafik kelas teras. Nggak ikhlas di mana-mana.
Jadi tanya diri sendiri: “Hari ini Tuhan naro aku di mana?”
Di situlah ladang ibadahmu. Jangan lirak-lirik ladang tetangga. Nggak bakal berkah.
Sekian. Mari kita tutup dengan istighfar, terus buka toko atau buka kitab. Sesuai SK masing-masing. (Bersambung)
