Search

Khutbah Jumat: Menyegarkan Kembali Makna Hijrah di Era Modern

KHUTBAH JUMAT - Tahun Baru Islam bukan sekadar penanda pergantian kalender Hijriah, tetapi momentum penting bagi setiap Muslim untuk melakukan refleksi dan pembaruan diri. Peristiwa hijrah Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah mengandung pelajaran besar tentang keberanian berubah, memperjuangkan nilai-nilai kebaikan, serta membangun peradaban yang berlandaskan iman, ilmu, dan kemanusiaan.

Di tengah berbagai tantangan era modern, makna hijrah perlu dipahami lebih luas dan mendalam. Hijrah tidak hanya berkaitan dengan perubahan penampilan atau simbol-simbol keagamaan, melainkan transformasi sikap, cara berpikir, dan perilaku menuju kehidupan yang lebih bertakwa, inklusif, peduli sesama, serta mampu menjawab tuntutan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai Islam yang luhur.

Teks Khutbah

الحمد للهِ، الْحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ الدِّينَ يُسْرًا وَنَوَّرَ بِالْحِكْمَةِ قُلُوبَ مَنْ أَنَابَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْبَعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral muslimin jamaah shalat jum’ah rahimakumullah,

Alhamdulillah, segala puji syukur mari senantiasa kita panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wata’ala. Kita bersyukur atas nikmat iman, Islam, dan kesehatan yang masih kita rasakan saat ini. Kita juga patut bersyukur, hari ini masih diberi waktu dan kejernihan berpikir untuk terus belajar, mengevaluasi diri, dan menyegarkan kembali pemahaman keagamaan kita, agar Islam yang kita peluk bukan sekadar warisan identitas, melainkan sumber kedamaian dan solusi bagi tantangan nyata di era modern saat ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam, keluarga dan para sahabatnya.

Pada kesempatan yang mulia ini, saya ingin berwasiat kepada diri saya pribadi dan mengajak jamaah sekalian, mari kita tingkatkan kualitas takwa kita dengan sebenar-benar takwa. Senantiasa menjalankan apa yang diperintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya.

Jamaah shalat jumat yang dirahmati Allah,

Beberapa hari lagi kita akan memasuki tahun baru hijriyah 1448 H. Setiap kali kita berbicara tentang "Hijrah", memori kolektif kita sering kali langsung terkunci pada peristiwa sejarah 14 abad yang lalu, yakni peristiwa perpindahan fisik umat Islam dari Makkah ke Madinah. Atau di era sekarang, istilah hijrah sering kali mengalami penyempitan makna, seolah-olah hijrah itu melulu soal mengubah penampilan luar, mengganti tren pakaian, atau sekadar mahir menggunakan istilah-istilah keagamaan yang baru di media sosial. Tentu, perubahan fisik dan formal itu baik sebagai langkah awal. Namun, mari kita renungkan bersama, Apakah esensi hijrah hanya berhenti di situ?

Melalui mimbar khutbah yang mulia ini, al-faqir ingin mengajak kepada jamaah semua untuk menyegarkan kembali makna hijrah ini. Pemahaman tentang hijrah yang tidak terjebak dalam formalisme agama yang kering. Melainkan pemahaman tentang hijrah yang mengajak kita melihat Islam secara substansif, di mana nilai dasarnya adalah keadilan, kesetaraan (egalitarianisme), dan kemanusiaan (humanity) yang inklusif. Dalam sudut pandang ini, hijrah di era modern bukan lagi soal perpindahan geografis, melainkan sebuah migrasi spiritual, intelektual, dan mental.

Jamaah jum’ah yang dirahmati Allah,

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

 لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ ، وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ

"Tidak ada lagi hijrah (fisik-geografis) setelah Fathu Makkah, melainkan yang ada adalah jihad (perjuangan) dan niat.." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadis ini, setelah pembebasan kota Makkah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam seolah sudah memprediksi bahwa fokus umatnya suatu saat bisa terjebak pada hijrah yang dilihat dari aspek fisik belaka.

Lalu, bagaimana memaknai hijrah untuk kita yang hidup di tengah kompleksitas dunia modern ini? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan jawaban yang sangat universal dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

 وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

"Dan orang yang berhijrah (yang sejati) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.." (HR. Bukhari)

Berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut di atas bisa kita maknai hijrah modern saat ini ke dalam tiga dimensi utama. Pertama, Hijrah dari egoisme kelompok (eksklusif) menuju kemanusiaan yang inklusif, terbuka dan penuh welas asih.

Di era modern saat ini, kita hidup berdampingan dengan teknologi digital. Namun ironisnya, algoritma media sosial sering kali menjebak kita dalam apa yang disebut sebagai echo chamber atau ruang gema. Kita hanya disajikan informasi yang sejalan dengan selera kita, dikumpulkan dengan orang-orang yang berpikiran sama, hingga tanpa sadar melahirkan watak self-righteousness, merasa diri dan kelompok kita paling benar secara mutlak. Akibatnya, ruang publik kita hari ini begitu riuh oleh fenomena dengan mudahnya mengkafirkan (takfiri), menyesatkan, atau merendahkan mereka yang berbeda pandangan dan keyakinan.

Jamaah shalat jum’ah yang dirahmati Allah,

Melalui semangat hijrah, kita diingatkan kembali pada esensi luhur dari Piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah) yang dibangun oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di kota Madinah. Rasulullah tidak sedang mendirikan sebuah sistem teokrasi yang sempit dan diskriminatif. Sebaliknya, beliau meletakkan batu pertama bagi sebuah masyarakat sipil (civil society atau mujtama' madani) yang sangat inklusif dan toleran.

Melalui Piagam Madinah, hak-hak setiap warga—baik kaum Muhajirin, Anshar, komunitas Yahudi, maupun suku-suku Arab lainnya, dijamin dan dihormati setara di hadapan hukum tanpa memandang latar belakang suku maupun keyakinan agama. Mereka disatukan dalam satu ikatan warga negara (ummah wahidah) yang wajib saling melindungi.

Maka, hijrah modern bagi kita hari ini artinya adalah pindah dari hobi memecah belah dan mengkotak-kotakkan manusia, menuju semangat saling mengenal, menghargai, dan bekerja sama (ta’aruf dan ta'awun).

Allah Subhanahu wata’ala telah menegaskan dengan sangat indah bahwa keragaman adalah sunnatullah dalam penciptaan alam semesta ini. Di dalam Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat ayat 13, Allah Subhanahu wata’ala memanggil seluruh umat manusia, bukan hanya orang-orang beriman, untuk menyadari hakikat ini:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Teliti.."

Ma’asiral Muslimin Rahimakumullah,

Sedangkan makna hijrah di era modern yang kedua adalah Hijrah dari formalisme agama menuju kesalehan sosial. Apa maksudnya? Artinya, kita ditantang untuk mentransformasikan kesalehan ritual yang bersifat individual menjadi kesalehan sosial yang berdampak nyata bagi lingkungan sekitar. Ibadah ritual seperti shalat, puasa, dan zakat bukanlah tujuan akhir. Ibadah-ibadah tersebut adalah rahim atau sarana untuk melahirkan manusia yang berakhlak mulia dan memiliki integritas tanpa kompromi.

Allah subhanahu wata’ala telah mengingatkan kita dengan sangat keras dalam Surah al-Ma'un mengenai orang-orang yang mendustakan agama. Mereka bukan orang yang tidak shalat, melainkan orang yang shalatnya tidak berdampak pada kesalehan sosial. Allah berfirman :

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ

"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?" Maka itulah orang yang menghardik (membentak/menelantarkan) anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya, yang berbuat riya (ingin dipuji), dan enggan (memberikan) bantuan.." (QS. Al-Maun :1-7)

Ayat ini menjadi tamparan keras bagi orang-orang Islam yang hanya terjebak pada formalisme agama. Shalat kita tidak akan bernilai di hadapan Allah jika kita menutup mata dari penderitaan anak yatim, membiarkan kemiskinan, dan enggan memberikan bantuan sosial (al-ma'un) kepada sesama.

Ma’asiral muslimin jamaah shalat jum’ah rahimakumullah,

Adapun makna hijrah di era modern yang ketiga adalah Hijrah dari keterbelakangan mental menuju semangat kemajuan yang rasional tanpa meninggalkan nilai-nilai spiritual. Sejarah telah mencatat dengan tinta emas, bagaimana Islam pernah memimpin peradaban dunia selama berabad-abad. Jantung dari kejayaan masa lalu itu bukanlah kemalasan, melainkan tradisi keilmuan yang tangguh, keterbukaan berpikir, dan etos kerja yang tinggi.

Namun hari ini, kita harus berani berkaca dan jujur pada diri sendiri. Mengapa umat Islam hari ini cenderung tertinggal? Salah satu akar masalahnya adalah karena kita masih memelihara mentalitas yang rapuh: mentalitas malas berpikir, terjebak dalam taklid buta (ikut-ikutan tanpa dasar ilmu), serta sikap fatalistik, pasrah pada nasib buruk secara keliru dengan dalih takdir, tanpa mau memeras keringat untuk melakukan usaha dan perbaikan.

Sementara itu dunia modern hari ini berkembang begitu cepat. Mulai dari perkembangan teknologi, sains, dan kecerdasan buatan menuntut kualitas keilmuan yang sangat tinggi. Sungguh, umat Islam tidak akan pernah bisa kembali memimpin peradaban jika kita hanya menjadi penonton yang pasif dan hanya bisa mengeluh. Karena sebenarnya Islam tidak pernah memisahkan antara wahyu dan akal. Bahwa berpikir rasional, melakukan inovasi, dan menguasai sains bukanlah produk Barat, melainkan perintah agama yang universal.

Bagi mereka yang mau bergerak dinamis, menolak berhenti, dan berani melakukan transformasi mental ini, Allah Subhanahu wata’ala memberikan garansi yang sangat luar biasa. Di dalam Surah An-Nisa ayat 100, Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً

"Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapati di bumi ini tempat migrasi yang luas dan rezeki yang banyak."

Makna ayat ini dalam konteks kekinian, tentang "tempat yang luas" (muraghaman katsira) dan "rezeki yang banyak" (sa'ah) bukan lagi sekadar hamparan tanah geografis atau perpindahan dari satu kota ke kota lain.

Namun lebih dari itu, bagi seorang Muslim yang berhijrah secara intelektual, "tempat yang luas" maksudnya adalah luasnya cakrawala berpikir, terbukanya ruang-ruang peluang inovasi, serta lapangnya hati dalam menerima kebenaran dan menebar kemaslahatan.

Sebaliknya, orang yang malas berpikir dan enggan berinovasi akan melihat dunia yang luas ini terasa sempit, karena mereka terjebak dalam keterbatasan pengetahuannya sendiri. Rezeki yang banyak di era digital ini mengalir kepada mereka yang memiliki ilmu, kreativitas, dan integritas.

Jamaah shalat jum’ah yang dirahmati Allah,

Sebagai penutup, mari kita jadikan momentum menjelang tahun baru Islam ini untuk meremajakan kembali makna hijrah dalam keseharian kita. Hijrah di era modern adalah perjuangan melawan hawa nafsu di tengah kepungan fitnah zaman. Berhijrahlah dari malas menjadi rajin, dari egois menjadi peduli, dan dari kelalaian menjadi takwa.

Semoga kita semua digolongkan sebagai muhajir, orang-orang yang berhijrah, yang diampuni dosa-dosanya dan ditinggikan derajatnya oleh Allah subhanahu wata’ala.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Untuk mendapatkan lebih banyak khutbah inspiratif, artikel keislaman, dan panduan keagamaan yang menyejukkan, kunjungi situs resmi muigresik.or.id. Temukan berbagai konten bermanfaat yang dapat memperkuat iman dan memperkaya wawasan keislaman Anda.

Klik disini untuk mendownload khutbah dalam bentuk PDF.