Search

'Big W' Hikmah atau 'Big L' Fitnah? Masa Depan Etika Medsos Gen Alpha

OPINI - Bagi siapa pun yang berinteraksi dengan Generasi Alpha --anak-anak yang lahir sepanjang kurun 2010 hingga pertengahan 2020-an-- istilah “Big W” dan “Big L” tentu bukan hal yang asing. Dalam bahasa gaul (slang) internet mereka, Big W (Big Win) menandakan kemenangan besar, pencapaian berharga, atau hal yang sangat keren. Sebaliknya, Big L (Big Loss) merujuk pada kekalahan telak, kegagalan, atau tindakan konyol yang merugikan.

Jika dibaca dari perspektif nilai keislaman, dua istilah ini sebenarnya sangat relevan untuk menggambarkan dinamika moral di dunia digital: Big W adalah Hikmah (Kebaikan dan Maslahat), sedangkan Big L adalah Fitnah (Kerusakan dan Mudarat).

Pertanyaannya, ketika Generasi Alpha tumbuh dewasa dan memegang kendali atas kebijakan, regulasi, hingga desain algoritma media sosial di masa depan, arah mana yang akan mereka pilih? Apakah ekosistem digital kita akan meraih Big W berupa peradaban yang beradab, atau justru terperosok dalam Big L berupa kerusakan moral yang masif?

Menakar "Big L" dan "Big W" di Ruang Digital

Ruang media sosial hari ini menyajikan pertarungan sengit antara Big W dan Big L. Fenomena "Big L" sangat nyata di depan mata: maraknya budaya perundungan (cyberbullying), ghibah massal dalam bentuk cancel culture, penyebaran hoaks yang memecah belah, hingga konten vulgar demi mengejar likes. Dalam Islam, seluruh deretan Big L ini adalah bentuk fitnah digital (taswihat al-akhlak) yang tidak hanya merugikan kesehatan mental anak muda, tetapi juga mendatangkan dosa jariyah.

Di sisi lain, potensi "Big W" juga luar biasa besar. Media sosial bisa menjadi ladang pahala tanpa batas ketika dimanfaatkan untuk dakwah kreatif, menggalang bantuan kemanusiaan, menyebarkan ilmu agama secara inklusif, serta membangun silaturahmi global. Rasulullah SAW bersabda bahwa hikmah adalah barang hilang milik orang mukmin; di mana pun ia menemukannya, ia paling berhak mengambilnya. Inilah Big W sejati di alam digital.

Generasi Alpha: Penentu Kebijakan Masa Depan

Generasi Alpha adalah digital natives murni. Mereka tidak sekadar menjadi pengguna, tetapi kelak akan menjadi pembuat undang-undang, pemilik platform, dan pengambil kebijakan publik. Kebijakan bermedsos yang mereka lahirkan esok hari sangat ditentukan oleh etika yang mereka serap hari ini.

Jika hari ini mereka dibiarkan menganggap bahwa merendahkan orang lain demi viralitas adalah sebuah "kemenangan", maka kebijakan media sosial di masa depan akan didikte oleh prinsip pragmatisme yang hampa moral. Itu adalah Big L bagi masa depan bangsa dan umat.

Namun, jika Generasi Alpha dididik bahwa kepatuhan pada adab dan kebenaran adalah kriteria Big W yang sebenarnya, mereka akan melahirkan kebijakan media sosial yang humanis, amanah, dan berorientasi pada kemaslahatan publik (maslahah ammah).

Kebijakan Bermedsos Berbasis Adab dan Fiqih Muamalah

Untuk mengantar Generasi Alpha meraih Big W dan menghindari Big L, kebijakan media sosial masa depan harus bertumpu pada pilar-pilar Fiqih Muamalah Digital.

Pertama, Prinsip Tabayyun sebagai Standar Sistem, Kebijakan digital harus mendorong mekanisme verifikasi otomatis dan pembatasan terhadap narasi bohong sebelum menyebar luas.

Kedua, Akuntabilitas Digital (Muraqabah), Mengedukasi bahwa setiap jari yang mengetik dan menggeser layar dipantau oleh Allah SWT. Kemenangan sejati (Big W) bukanlah banyaknya followers, melainkan kebaikan yang ditinggalkan.

Ketiga, Perlindungan Adab Anak, Regulasi yang tidak hanya menjaga data pribadi, tetapi juga memagari Generasi Alpha dari paparan fitnah digital yang merusak akidah dan moral.

Masa depan etika bermedsos ada di tangan Generasi Alpha. Peran keluarga, pendidik, dan ulama hari ini adalah mendampingi mereka agar mampu membedakan mana kemenangan semu dan mana kemenangan sejati.

Jangan sampai ruang digital kita didominasi oleh Big L berupa fitnah dan keburukan. Mari bersama-sama bimbing Generasi Alpha agar menjadikan media sosial sebagai sarana meraih Big W --sebuah kemenangan besar berupa hadirnya hikmah, adab, dan keberkahan bagi seluruh alam.