Search

Di Bumi Wali, Industrialisasi Hidupkan Thoriqah Perkotaan

Simbiosis Gresik Kota Santri-Kota Industri: Mutualisme atau Parasitisme? (Part 2)

CATATAN KHUSUS - Membicarakan industrialisasi di Gresik melahirkan pertanyaan besar; Mengapa wilayah Gresik dan Kebomas dibombardir pabrik-pabrik besar, bukankah di dua kecamatan ini terdapat makam dua waliyullah, Malik Ibrahim dan Sunan Giri? Akankah industrialisasi mengubur ajaran waliyullah? Ataukah industrialisasi menjadi laboratorium sosial keagamaan bagi santri untuk mendisain ulang cara beragama?

Industrialisasi dikembangkan di Gresik dan Kebomas didasarkan pada persoalan geografis, kedetakatan dengan Surabaya. Posisinya yang terletak di sepanjang Pantai Utara Laut Jawa memperkuat pilihan tersebut ditambah lagi, yang lebih penting, adalah kondisi tanah yang tidak baik-baik saja untuk pertanian, tanahnya kering berbatuan kapur sulit mendapatkan sumber air bawah tanah. Mantan Gubernur Jatim (Alm) Basofi Soedirman pun, pernah menyebut Gresik adalah tempat ‘membuang anak jin’, sangat tepat dijadikan kawasan industri bukan tempat hunian. 

Tetapi jika ditelisik dari sejarah, Gresik dan Kebomas (Giri) bisa disebut sebagai episentrum Islam di nusantara khususnya di tanah Jawa. Dua waliyullah Malik Ibrahim dan Sunan Giri memusatkan dakwahnya di dua kecamatan kota ini. Malik Ibrahim membentuk masyarakat santri dengan mendirikan pesantren di Desa Gapuro, Gresik pada abad 15 yang kemudian diikuti Sunan Giri yang membangun pesantren di Giri Kedaton sekitar abad 15-16. Pada 9 Maret 1487, posisi Sunan Giri semakin kuat setelah diangkat sebagai Raja Giri Kedaton dengan gelar Prabu Satmoto. Hari, bulan dan tahun penobatannya dijadikan hari lahirnya kabupaten Gresik.

Dengan kekuasaannya, sayap Islam berkembang pesat sampai ke Indonesia Timur, Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan. Berkali-kali Kedaton Giri bersama sekutunya melawan ekspansi Sultan Agung, dan Amangkurat 1 dari Mataram, tetapi Raja Amangkurat II yang dibantu VOC akhirnya berhasil menangkap dan menghukum mati Panembahan Ageng Giri pada tahun 1680, setelah itu kekuatan Giri mulai runtuh.

Belajar dari sejarah, kekuasaan politik menjadi modal legal yang melancarkan Sunan Giri mengembangkan syiar Islam. Siti Fatimah binti Maimun, Malik Ibrahim maupun Sunan Ampel, meski gagal, sangat berkepentingan menjalin hubungan dengan penguasa Mojopahit. Jalinan kerja ulama dan umara menjadi model pendekatan yang strategis untuk mentauhidkan, mengislamkan dan mengihsankan masyarakat. Itu sebabnya K.H. Qomaruddin pun mengabulkan permintaan Tumenggung Gresik Kanjeng Tirtorejo  untuk menjadi penasehat spiritualnya.

Dan pada waktunya, Kanjeng Tirtorejo mendukung K.H. Qomaruddin untuk mendirikan pesantren dengan ikut menentukan lokasinya sekaligus memberi nama Pondok Pesantren Sampurnan, Bungah pada tahun 1774. (Sejarah Pondok Pesantren Qomaruddin, Sampurnan Bungah Gresik, karya H,M Alauddin,Lc,M.SEI., dkk). Kini Ponpes Sampurnan yang berubah menjadi PP Qomaruddin diputuskan PBNU  salah satu pesantren tertua di Indonesia ini, sudah berusia 2,5 abad dan terus berkembang pesat dengan mengelola pendidikan formal dan nonformal.

Pasca pesantren Malik Ibrahim di Gresik dan pesantren Giri di Kebomas berakhir, bermunculan pesantren-pesantren di banyak sudut kota tempat santri belajar ilmu agama. Tradisi santri pun mengakar kuat dalam kehidupan keseharian, seperti baca tulis dengan menggunakan huruf Arab pegon, berjalan memakai terumpa (sandal dari kayu), berbaju kain putih tanpa krah. Sarung dan songkok pun tidak hanya digunakan untuk salat saja tetapi juga dalam banyak kegiatan, sehingga masyarakat Gresik dikenal dengan kaum sarungan. (Kota Gresik 1896-1916 Sejarah Sosial  Budaya dan Ekonomi, karya Oemar Zainuddin).

’’Keluarga Kemasan (saudagar kaya Gresik.red) ikut mendirikan sekolah untuk mengajari santri baca tulis huruf latin serta pelajaran lainnya dengan harapan agar santri selain menguasai ilmu agama, juga menguasai ilmu umum,’’ kata almarhum Oemar Zainuddin dalam sesi wawancara. ’’Ini foto-foto orang-orang pribumi yang belajar di Kampung Kemasan,’’ katanya.

Dididik di lingkungan pesantren, lahir santri-santri Gresik yang turut berjuang melawan penjajah dan berkhidmah untuk umat. Mereka itu di antaranya, adalah Moh. Oesman atau Usman Sadar (gugur melawan tentara Belanda, 13-04-1947), Kapten Dulasim (pejuang kemerdekaan), Darmo Sugondo (pejuang kemerdekaan) Akim dan Kayat (dua sahabat pejuang kemerdekaan), Harun Thohir (meledakkan McDonald House di Singapura, pada masa Konfrontasi Indonesia–Malaysia), KH. Faqih Usman (Ketua Umum PP Muhammadiyah ke-37 periode 1968-1971),  KH Zubair (Pengasuh Ponpes dan Musytasyar PBNU)  dan KH Cholil (Pengasuh Pesantren). Nama mereka kini diabadikan menjadi nama-nama jalan utama di Gresik sebagai penghormatan terhadap perjuangan mereka.

Mengapa Malik Ibrahim harus berdakwah lewat Gresik?

Kedatangan Siti Fatimah Binti Maimun dan Malik Ibrahim di pelabuhan Gresik menggambarkan bahwa kota tua ini sebelum abad 15 sudah masyhur, karena memiliki pelabuhan internasional yang paling ramai dikunjungi pedagang dari banyak negara. Raja Mojopahit Prabu Brawijaya sangat perlu mengangkat syahbandar untuk mengawasai dan mengurus keluar masuknya kapal-kapal dagang dan penumpang yang bersandar di Gresik. Syahbandar juga ditugasi mengurus dan mengawasi pasar, gudang, timbangan, ukuran dagang, dan mata uang yang dipertukarkan.

Bangsa-bangsa Eropa dan Asia singgah dan ada juga yang tinggal di Gresik berbaur dengan pebisnis dari pulau-pulau seberang. Jumlah kaum imigran berdasarkan Staatblaad 1887 No 172, disebutkan bahwa Gresik sudah dihuni 2600 orang yang terdiri atas orang Eropa, orang China dan orang Arab. Budaya China, Arab dan Eropa dan warga kepulauan saling berinteraksi di sudut-sudut kota baik dalam bentuk arsitektur bangunan, makanan, seni tradisi, bahasa, ekonomi bisnis, agama dan lainnya.

Kawasan timur alun-alun kota atau di Jl. Setia Budi, bisa disebut kawasan multikultural. Di sana ada Klenteng Kim Hin Kiong berdiri pada tahun 1153 bertetangga dengan Gereja Pantekosta yang didirikan pada tahun 1937,  Yayasan Darul Islam yang mengelola  SMP dan SMA Darul Islam sejak tahun 1932 berdiri berdampingan dengan TK/SD Setia Budi yang didirikan orang China pada 1951. Hubungan kerjasama bisnis antara orang-orang China dan Arab,  (Pecirab; Pecinan Arab) terjalin sinergis untuk memproduksi tenun.

Peradaban tua yang dibangun di Gresik ini membentuk masyarakat santri yang memiliki wawasan sangat luas. Dalam banyak hal sikap masyarakat lebih adaptatif dan akomodatif terhadap sesuatu yang baru yang sejalan dengan paham dan nilai-nilai kesantrian, sehingga beberapa dekade ini, tidak terlihat adanya konflik-konflik horizontal, yang terkait dengan issu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Konflik antar pemeluk agama, hanya terjadi pada saat pendirian gereja di Jln. Dr.Wahidin Sudiro Husodo, Kebomas Gresik pada masa bupati Johansyah 1989 – 1994.

Tidak adanya konflik bisa disebabkan faktor kemandirian ekonomi santri.  Pengusaha besar dan UMKM berdiri di hampir sudut kampung sebagai sentra produksi sarung/kain tenun, ngebos, songkok, sementara masyarakat pesisir lebih memilih sebagai nelayan, petambak ikan dan garam. Di kawasan Kebomas, santri lebih menekuni sebagai perajin kemasan, pande besi dan pembuat gerabah. Meski sudah punah, warga Kebomas juga dikenal sebagai pembuat alat-alat kesenian gamelan, dan hiasan sendok berbentuk wayang dari bahan logam perak/tembaga.

Pedagang Giri dikenal dengan sebutan Nyerebek dan mBangkel, mereka menjajakan barang dagangannya keluar kota dari desa ke desa, naik turun gunung berminggu-minggu. Mereka berdagang dan juga berdakwah, karena ketika bermalam di musallla dan masjid didapuk menjadi imam salat rowatib sekaligus memberi tausiyah (sebuah profesi yang saat ini sudah tergusur).

Kemandirian ekonomi ini membuat masyarakat hidup dengan pendapatan yang cukup mensejahterakan. Anak-anak seusia sekolah memilih bekerja untuk mendapatkan uang dari pada sekolah. Akibatnya tahun 1990-an ke bawah jumlah anak yang putus sekolah pada jenjang pendidikan dasar cukup tinggi. Selain tidak berijazah, warga kurang berminat untuk bekerja di pabrik maupun sebagai PNS saat Gresik berubah status menjadi kabupaten pada 1974.

Laju pertumbuhan penduduk migran di Gresik terus bertambah mengikuti pertumbuhan pabrik-pabrik yang berdiri di sepanjang Kali Lamong dan di pesisir Laut Jawa, seperti PT Nippon Paint, PT Sumber Mas, Nusantara Playwood, Semen Gresik, Petro Kimia dan lainnya. Pencemaran lingkungan mulai mengganggu usaha budi daya ikan dan nelayan, selain itu pencemaran juga melanda kehidupan sosial keagamaan. Sepinya hiburan malam, warga memilih warkop atau kafe untuk melepas, cangkrukan, makelaran, sinau bareng, memainkan game online, judi online dan ada juga yang memanfaatkan untuk transaksi barang-barang terlarang, seperti narkoba dan wanita, sebagian warkop juga menjadi base camp kaum LGBT.

PT. Petrokimia Gresik melalui program CSR yang digagas Ir. Yusuf Wibisono, mantan sekretaris perusahaan  memperkuat keterlibatan perusahaan kimia ini dalam pembinaan mental spiritual karyawan dan masyarakat. Masjid Nurul Jannah yang dibangun dengan menerapkan konsep terbuka, tanpa pintu utama tanpa jendela, siapa pun bisa memanfaatkannya untuk beribadah sepanjang waktu. Begitu juga dengan PT. Semen Gresik yang mendirikan masjid di Jalan Veteran terlihat kokoh dengan ‘seribu tiang' penyanggahnya, dari masjid ini akhlaq santri tertanam kokoh.

Pengusaha properti sukses almarhum H.Bisri Ilyas melalui perusahaan PT BLP tidak pernah tidak menyisihkan lahan perumahannya untuk fasus dan fasum. Masjid dan lembaga pendidikan selalu dibangun di setiap perumahannya, bahkan di kawasan perumahan elit yang dibangun PT Citra Land di desa Sumber Kembangan berdiri masjid Al-Bisri.

THORIQOH PERKOTAAN

Di tengah kota wali yang sudah mulai sesak dengan industri berat, sesak dengan dampak buruknya, lahir majlis-majlis dzikir yang bermunculan seperti jamur di musim penghujan. Di antaranya, Majlis Dzikir Maulidurrasul Al-Khidmah, Majlis Dzikir UCC (Ukhsafi Copler Community), Majlis Dzikir SIJI (Silaturrahmi Jumat Isuk), Majlis Dzikir Syifaul Lillah, Majlis Dzikir dan ratusan jamaah tahlil dan yasin serta lainnya.

Maraknya majlis dzikir di Gresik ini tidak bisa dilepaskan dari kehadiran Hadrotus-syeikh Al-maghfurlah K.H. Ahmad Asrori al-Ishaqi yang merintis Majlis Dzikir dan Maulidurrasul Al-Khidmah. Dirintis dari Gresik, Majlis dzikir ini sudah memiliki ratusan ribu jama’ah yang tersebar di hampir seluruh negeri dan di negara-negara manca. Jama’ah Al-khidmah menggelar manaqiban secara rutin; mingguan, bulanan dan puncaknya diadakan Dzikir dan Haul Akbar Akbar setiap bulan Maulid di depan Kantor Semen Gresik Jl. Veteran, Gresik.

KH Ahmad Asrori al-Ishaqi sebelum intiqol, selalu memimpin dzikir dan bersalawat berkeliling dari kota ke kota, dari satu negara ke negara lainnya. Dengan mengenakan jubah putih, wajah Yai Rori terlihat putih bersih dan meneduhkan. Duduk di atas panggung besar bertaburkan kembang melati yang bergelantungan, tausiyah dan doa-doa Yai Rori mampu memantapkan hati ribuan jama’ah.

Di kalangan remaja, berkembang laku thoriqah naqsabandiyah qodariyah UCC (Ukhsafi Copler Community),  yang berafiliasi dengan Ponpes Al-Fitroh,Surabaya sekaligus menjadi induk Majlis Al-Khidmah. Jama’ah Copler terdiri atas anak-anak remaja putra-putri yang datang dari pelbagai bentuk tipe anak-anak remaja era digital. Sebagian dari mereka adalah remaja yang memiliki masalah sosial, kenakalan remaja, anak-anak yang sering mangkal di jalanan, anak-anak yang sedang mencari jati diri, anak-anak yang terlibat dalam masalah hukum dan ada jama’ah remaja yang aktif mengikuti kegiatan sosial keagamaan. Mereka diajak mengikuti manaqiban secara rutin agar hati dan imannya terjaga.

Fenomena terbentuknya majlis-majlis dzikir di Gresik bukan sebagai gerakan perlawanan terhadap industrialisasi yang mengepung kawasan Gresik dan Kebomas. Kelompok masyarakat yang melakoni thoriqah perkotaan sedang menjalankan laku sufi modern yang moderat; tidak melarang memburu dunia dan tidak melakukan pengasingan diri menjauhi urusan dunia. Output dari pendidikan ruhani yang diperoleh dari majlis dzikir adalah karakter unggul yang berkontribusi besar untuk dunia kerja dan dalam kehidupan sosial.

Islam dan peradabannya sampai saat ini di kota santri ini masih bisa dilihat, didengar dan disaksikan di tempat-tempat kaki menginjak bumi waliyullah Malik Ibrahim dan Sunan Giri. Di tengah Kepulan asap menghitam, debu membumbung tinggi,  di tengah terik panas yang menyengat dari cerobong industri, muncul gerakan santri mengumandangkan dzikir membasuh hati penuh energi ilahi. Laku thoriqah perkotaan telah menjadi jalan memandulkan dampak buruk industrialisasi yang merusak moralitas santri.***