MUI Gresik - Peristiwa wafatnya seorang anak Sekolah Dasar (SD) berinisial YBS di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyita perhatian banyak pihak. Dugaan kuat bahwa peristiwa tersebut dipicu persoalan ekonomi keluarga yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pendidikan dasar menjadi keprihatinan serius, sekaligus pengingat akan pentingnya perlindungan anak dan penanganan kemiskinan ekstrem secara menyeluruh.
Ketua MUI Pusat Bidang Perempuan, Remaja dan Keluarga (PRK) Dr. Siti Ma’rifah menyampaikan belasungkawa mendalam atas kejadian tersebut, dan menilai peristiwa ini sebagai alarm keras bagi semua pihak agar lebih serius dalam menangani persoalan kemiskinan ekstrem dan perlindungan anak.
“Peristiwa ini harus diselidiki secara tuntas oleh pihak berwenang dan penanganannya perlu melibatkan lintas kementerian, seperti Kementerian Sosial, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kemendikdasmen, serta Kementerian Agama,” ujar Siti Ma’rifah kepada MUI Digital, Rabu (4/2/2026).
Putri Wakil Presiden ke-13 RI ini juga mendorong pemerintah pusat dan daerah untuk memperkuat pendataan serta penyaluran bantuan yang tepat sasaran bagi keluarga miskin ekstrem. Menurutnya, peristiwa seperti ini tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi berbagai faktor.
“Masalah ekonomi dimana keluarga tidak dapat memenuhi kebutuhan pendidikan dasar, karena kesehatan mental dan juga pendidikan agama di keluarga,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Siti Ma’rifah menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem bantuan pendidikan, perlindungan sosial, serta kepedulian lingkungan sekitar. Ia mengingatkan bahwa kejadian ini menjadi peringatan serius dalam menyiapkan generasi muda yang sehat secara fisik, mental, spiritual, dan ekonomi.
“MUI sebagai khodimul ummah dan shodiqul hukumah akan mengambil peran bersama pemerintah, masyarakat, dan seluruh stakeholder dalam penguatan perlindungan anak secara terintegrasi,” ungkapnya.
Sejalan dengan itu, Ketua Komisi Pemberdayaan Perempuan, Anak, dan Keluarga (PPAK) MUI Kabupaten Gresik, Hj. Endang Herawaty, S.Psi., turut menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya ananda YBS. Menurutnya, peristiwa ini sangat mengusik nurani dan menjadi keprihatinan bersama, terlebih karena menimpa anak di bawah umur.
“Bisa jadi anak merasa sendiri, memendam masalah tanpa tempat bercerita atau mendapatkan solusi, hingga akhirnya memilih jalan yang sangat menyedihkan ini,” ujarnya, pada Jum’at (6/2/2026)
Hj. Endang juga menyampaikan, bahwa setelah peristiwa terjadi, yang terpenting bukan saling menyalahkan, melainkan mengambil langkah preventif agar kasus serupa tidak terulang.
“Sebagai upaya pencegahan, Komisi PPAK MUI Kabupaten Gresik akan menjalin komunikasi dan sinergi dengan dinas terkait. MUI Gresik siap hadir bersama instansi pemerintah untuk memberikan edukasi, motivasi, dan penguatan keagamaan kepada para anak-anak usia sekolah, agar mampu menghadapi persoalan hidup dengan lebih baik,” kata Hj. Endang.
Selain itu, Hj. Endang Herawaty juga mengimbau masyarakat, khususnya orang tua, agar lebih memperhatikan pola pengasuhan anak, dan menekankan pentingnya membangun komunikasi yang baik, kepekaan terhadap perubahan perilaku anak, serta keteladanan dalam ibadah.
“Orang tua jangan pernah lelah mendoakan anak-anaknya dan menjadi contoh keistiqamahan dalam beribadah. Dengan perhatian, pendampingan, dan doa, insya Allah anak-anak kita akan lebih kuat menghadapi ujian hidup,” pungkasnya.
